Jurnal Tiyuh Lampung: Pendidikan Bahasa dan Kebudayaan https://jurnal.pbs.fkip.unila.ac.id/index.php/JTL <p><strong>Jurnal Tiyuh Lampung: Pendidikan Bahasa dan Kebudayaan<br /></strong><br />Merupakan jurnal pendidikan bahasa dan sastra daerah yang terbit dua kali dalam satu tahun, yaitu pada bulan Juni dan November. Jurnal Tiyuh Lampung mengangkat topik seputar Bahasa, Kebudayaan, dan Pembelajarannya. Ruang Lingkup penulis dari lingkungan Dosen/Guru, Mahasasiswa, maupun para akademisi.</p> <p><strong>Jurnal Tiyuh Lampung: Pendidikan Bahasa dan Kebudayaan<br /></strong><br />Yakdo jurnal pendidikan bahasa, sastra, rik budaya Lampung sai terbit ruwa kali delom setahun, yakdo Juni rik November. Jurnal Tiyuh Lampung ngebista perihal bahasa, sastra, budaya, rik pembelajaranne. Penulisne dapok dosen, guru, mahasiswa, praktisi, pemerhati, juga akademisi.</p> <p><strong>Journal Tiyuh Lampung: Pendidikan Bahasa dan Kebudayaan</strong><br /><br />It is a regional language and literature education journal that is published twice a year, namely in June and November. Tiyuh Lampung Journal raises topics about Language, Culture, and Learning. Scope of writers from the environment of Lecturers/Teachers, Students, and academics.</p> <p> </p> <p><strong>E-ISSN: 2987-1255</strong></p> <p>DOI Jurnal: <a href="http://dx.doi.org/10.23960/Tiyuh">http://dx.doi.org/10.23960/Tiyuh</a> </p> FKIP Universitas Lampung en-US Jurnal Tiyuh Lampung: Pendidikan Bahasa dan Kebudayaan 2987-1255 MAKNA SIMBOLIS SIGER LAMPUNG SAIBATIN SEBAGAI WUJUD SENI BUDAYA MASYARAKAT LAMPUNG SAIBATIN https://jurnal.pbs.fkip.unila.ac.id/index.php/JTL/article/view/813 <p><em>Siger Lampung Saibatin is a traditional crown which has a deep symbolic meaning in the culture of the Lampung people. This research aims to understand the philosophical and symbolic values ​​of Siger Lampung Saibatin as a representation of the cultural identity of the Saibatin tribe. Siger is not only traditional jewelry used in traditional ceremonies, such as weddings and other traditional processions, but also reflects the social structure, status and cultural values ​​of the Saibatin community. With seven distinctive curves, Siger Saibatin symbolizes seven traditional titles passed down from generation to generation. This research uses descriptive qualitative methods through observation, interviews, literature study, and direct documentation of the customs of the Saibatin community. The research results show that Siger is not only a cultural identity but also a means to strengthen the community's sense of pride and ownership of traditional heritage. Siger has become a symbol of unification and binding of the cultural identity of the Lampung Saibatin people. Therefore, preserving culture through promoting education, academic research, and developing a culture-based economy is very important. By preserving the Lampung Saibatin Siger, it is hoped that Lampung's cultural identity can remain alive and relevant amidst Indonesia's cultural diversity.</em></p> <p> </p> <p>Siger Lampung Saibatin adalah mahkota tradisional yang memiliki makna simbolis mendalam dalam budaya masyarakat Lampung. Penelitian ini bertujuan untuk memahami nilai-nilai filosofis dan simbolik Siger Lampung Saibatin sebagai representasi identitas budaya suku Saibatin. Siger tidak hanya menjadi perhiasan adat yang digunakan dalam upacara tradisional, seperti pernikahan dan prosesi adat lainnya, tetapi juga mencerminkan struktur sosial, status, dan nilai budaya masyarakat Saibatin. Dengan tujuh lekukan khas, Siger Saibatin melambangkan tujuh gelar adat yang diwariskan secara turun-temurun. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif melalui observasi, wawancara, studi pustaka, dan dokumentasi langsung dari adat istiadat masyarakat Saibatin. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Siger tidak hanya sebagai identitas budaya tetapi juga sebagai sarana untuk memperkuat rasa kebanggaan dan kepemilikan masyarakat terhadap warisan tradisional. Namun, modernisasi dan kurangnya dukungan pemerintah mengancam keberlangsungan tradisi ini. Oleh karena itu, pelestarian budaya melalui promosi pendidikan, penelitian akademik, dan pengembangan ekonomi berbasis budaya menjadi sangat penting. Dengan melestarikan Siger Lampung Saibatin, diharapkan identitas budaya Lampung dapat tetap hidup dan relevan di tengah keberagaman budaya Indonesia.</p> Corry Miranda Gian Rahma Renvillia Copyright (c) 2025-11-10 2025-11-10 9 2 67 77 10.23960/tiyuhlampung.v9i2.813 KAJIAN SOSIOLINGUISTIK: SIKAP BAHASA GENERASI MUDA TERHADAP BAHASA LAMPUNG DI BANDAR LAMPUNG https://jurnal.pbs.fkip.unila.ac.id/index.php/JTL/article/view/814 <p><em>This sociolinguistic study explores the language attitudes of young generations towards the Lampung language in Bandar Lampung, addressing the critical issue of local language vitality in the era of globalization. Employing a qualitative literature review methodology, the research analyzed academic publications from 2014-2024 focusing on language attitudes, sociolinguistics, and regional language preservation. Through comprehensive data extraction and thematic analysis, the study identified three primary factors influencing young people's language attitudes: globalization and modernization, education and media, and social structural changes. The findings reveal a significant decline in Lampung language usage among youth, highlighting its diminishing attractiveness as a communication tool and local identity symbol. The research contributes theoretical insights into the dynamic relationship between language attitudes, cultural identity, and modernization challenges, emphasizing youth's crucial role as social change agents. Strategic recommendations include holistic preservation approaches, educational program development, cultural expression platforms, and leveraging digital technologies to revitalize the Lampung language.</em></p> <p> </p> <p>Studi sosiolinguistik ini mengeksplorasi sikap bahasa generasi muda terhadap bahasa Lampung di Bandar Lampung, dengan menyoroti isu penting mengenai vitalitas bahasa lokal di era globalisasi. Dengan menggunakan metodologi tinjauan literatur kualitatif, penelitian ini menganalisis publikasi akademik dari tahun 2014-2024 yang berfokus pada sikap bahasa, sosiolinguistik, dan pelestarian bahasa daerah. Melalui ekstraksi data yang komprehensif dan analisis tematik, studi ini mengidentifikasi tiga faktor utama yang memengaruhi sikap bahasa anak muda: globalisasi dan modernisasi, pendidikan dan media, serta perubahan struktur sosial. Temuan penelitian menunjukkan penurunan yang signifikan dalam penggunaan bahasa Lampung di kalangan remaja, menyoroti berkurangnya daya tarik bahasa ini sebagai alat komunikasi dan simbol identitas lokal. Penelitian ini memberikan wawasan teoritis mengenai hubungan dinamis antara sikap bahasa, identitas budaya, dan tantangan modernisasi, dengan menekankan peran generasi muda.</p> Rosa Sofiyana Selsa Bela Mei Fatmila Sari Muhammad Ramdhan Fathin Al Farabi Atik Kartika Copyright (c) 2025 Jurnal Tiyuh Lampung: Pendidikan Bahasa dan Kebudayaan 2025-11-07 2025-11-07 9 2 78 86 10.23960/tiyuhlampung.v9i2.814 Nilai-Nilai Sosial dalam Tradisi Ngantak Bakul Pada Pernikahan Masyarakat Lampung Sai Batin https://jurnal.pbs.fkip.unila.ac.id/index.php/JTL/article/view/817 <p>The Ngantak Bakul tradition in Lampung Sai Batin communities is an important aspect of the marriage ceremony that is rich in social and cultural values. This study aims to reveal the social values contained in the Ngantak Bakul tradition and understand the impact of modernization on its preservation. This research uses a descriptive qualitative approach, data is collected through interviews and literature studies, which are then analyzed to describe the current<br />situation. The results show that Ngantak Bakul contains social values such as helping and reciprocity, which reflect the value of solidarity and trust between community members. However, modernization and financial limitations have caused a shift in the younger generation, which potentially threatens the understanding and preservation of the<br />Ngantak Bakul tradition. This research emphasizes the importance of<br />preserving the Ngantak Bakul tradition as a means of maintaining<br />cultural identity, and increasing social solidarity in the community. It<br />also shows that traditions are not just rituals, but also serve to<br />strengthen universal human values. Tradisi Ngantak Bakul di masyarakat Lampung Sai Batin merupakan aspek penting dalam upacara perkawinan yang kaya akan nilai sosial dan budaya. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap nila-nilai<br />sosial yang terkandung dalam tradisi Ngantak Bakul dan memahami dampak modernisasi terhadap pelestariannya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, data dikumpulkan melalui wawancara dan studi kepustakaan, yang kemudian dianalisis<br />untuk mendeskripsikan keadaan saat ini. Hasil penelitian<br />menunjukkan bahwa Ngantak Bakul mengandung nilai sosial seperti tolong-menolong dan timbal balik, yang mencerminkan nilai solidaritas dan kepercayaan antaranggota masyarakat. Namun, modernisasi dan keterbatasan finansial menyebabakan pergeseran generasi muda, yang berpotensi mengancam pemahamandan pelestarian tradisi Ngantak Bakul. Penelitian ini menekankan pentingnya melestarikan tradisi Ngantak Bakul sebagai sarana untuk menjaga identitas budaya, dan meningkatkan solidaritas sosial di masyarakat. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa tradisi bukan hanya sekedar ritual saja, tetapi juga berfungsi untuk memperkuat nilai-nilai kemanusiaan yang universal.</p> Lena Wahyuni Ani Marlisa Rahmat Prayogi Bambang Riadi Copyright (c) 2025 Jurnal Tiyuh Lampung: Pendidikan Bahasa dan Kebudayaan 2025-10-17 2025-10-17 9 2 98 104 10.23960/tiyuhlampung.v9i2.817 SINERGI MUSIK BUTABUH DAN HADRAH: KETERKAITAN BUDAYA DAN SPIRITUALITAS DALAM TRADISI LAMPUNG DI PEKON PADANG KHINCANG https://jurnal.pbs.fkip.unila.ac.id/index.php/JTL/article/view/818 <p>Musik Butabuh dan Hadrah merupakan bagian integral dari tradisi masyarakatLampung, khususnya di Pekon Padang Khincang. Penelitian ini bertujuan mengungkap sinergi keduanya dalam melestarikan nilai budaya dan spiritual. Musik Butabuh, yang diwariskan secara turun-temurun,<br />mengandung unsur adat istiadat dan kearifan lokal, sementara Hadrah, dengan lantunan salawatnya, memperkuat aspek keagamaan. Keduanya kerap dimainkan bersama dalam acara adat seperti pernikahan, khitanan, dan penyambutan tamu, menciptakan suasana sakral dan memperkuat identitas<br />komunitas. Penelitian ini Menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskripsi argumentatif, data dikumpulkan melalui observasi, wawancara mendalam, dan studi dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Butabuh, seni musik tradisional khas Lampung, merefleksikan kearifan lokal dan adat istiadat masyarakat, sedangkan Hadrah lebih berfokus pada nilai-nilai keislaman melalui lantunan salawat. Keduanya sering dimainkan bersama dalam berbagai acara adat seperti pernikahan dan khitanan, menciptakan harmoni antara budaya lokal dan ajaran Islam. Tradisi ini juga<br />menunjukkan adaptasi masyarakat Lampung dalam melestarikan warisan budaya mereka. Penelitian ini menegaskan pentingnya melestarikan Butabuh dan Hadrah sebagai warisan budaya yang sarat makna spiritual dan sosial.<br /><br /></p> Muhammad Aris Nur Imania Danema Muhammad Ramdhan Fathin Al Farabi Mei Fatmila Sari Copyright (c) 2025 Jurnal Tiyuh Lampung: Pendidikan Bahasa dan Kebudayaan 2025-10-17 2025-10-17 9 2 105 113 10.23960/tiyuhlampung.v9i2.818 PERAN TRADISI SEKURA DALAM MEMPERTAHANKAN IDENTITAS BUDAYA MASYARAKAT LAMPUNG https://jurnal.pbs.fkip.unila.ac.id/index.php/JTL/article/view/1286 <p>The Sekura tradition is an important cultural heritage for the people of West Lampung, reflected through the Sekura Mask and its accompanying dance. This tradition embodies social and cultural values such as togetherness, mutual cooperation, and gratitude, which are integral to the local community's way of life. Although this tradition is still maintained today, globalization presents significant challenges to its preservation. The influence of foreign cultures, particularly through social media and technology, has caused the younger generation to drift away from traditional arts. Therefore, serious efforts are needed to introduce and engage the younger generation in preserving the Sekura tradition. Education about the importance of local culture, along with the dissemination of information through various media channels, can help introduce and safeguard this tradition. The preservation of the Sekura tradition relies not only on government support but also on active community participation.</p> <p>&nbsp;</p> <p>Tradisi Sekura merupakan warisan budaya yang penting bagi masyarakat Lampung Barat, yang tercermin melalui Topeng Sekura dan tarian yang menyertainya. Tradisi ini mengandung nilai-nilai sosial dan budaya, seperti kebersamaan, gotong royong, dan rasa syukur, yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat lokal. Meskipun tradisi ini masih dijaga hingga saat ini, globalisasi memberikan tantangan besar terhadap pelestariannya. Pengaruh budaya asing, terutama melalui media sosial dan teknologi, membuat generasi muda semakin jauh dari budaya tradisional. Oleh karena itu, diperlukan upaya serius untuk memperkenalkan dan melibatkan generasi muda dalam melestarikan tradisi Sekura. Pendidikan tentang pentingnya budaya lokal, serta penyebaran informasi melalui berbagai saluran media, dapat membantu memperkenalkan dan menjaga tradisi ini. Pelestarian tradisi Sekura tidak hanya bergantung pada pemerintah, tetapi juga pada partisipasi aktif masyarakat.</p> Sherlia Tamara Dina Afriliyana Muhammad Ramdhan Fathin Al Farabi Mei Fatmila Sari Copyright (c) 2025 Jurnal Tiyuh Lampung: Pendidikan Bahasa dan Kebudayaan 2025-11-10 2025-11-10 9 2 87 97 10.23960/tiyuhlampung.v9i2.1286