This study aims to analyze the types of illocutionary speech acts found in the film The Architecture of Love by Ika Natassa. The research employs a descriptive qualitative method with data collected through observation, tapping, non-participant observation, and note-taking techniques. The data were analyzed using a pragmatic identity method. The data source consists of dialogues between the characters in the film. The results show that all five types of illocutionary acts based on Searle’s theory—assertive, directive, commissive, expressive, and declarative—are present in the film. Assertive acts include statements and opinions, directive acts involve invitations and requests, commissive acts include promises and commitments, expressive acts consist of gratitude and regret, while declarative acts appear as decision-making utterances. This study indicates that film, as an audiovisual medium, effectively represents the functional use of language in social interaction and enhances character portrayal and storyline development.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis jenis-jenis tindak tutur ilokusi yang terdapat dalam film The Architecture of Love karya Ika Natassa. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa simak, teknik sadap, simak bebas libat cakap, dan teknik catat. Analisis data dilakukan dengan menggunakan metode padan pragmatis. Data diperoleh dari kutipan dialog para tokoh dalam film. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelima jenis tindak tutur ilokusi menurut teori Searle, yaitu asertif, direktif, komisif, ekspresif, dan deklaratif, ditemukan dalam film ini. Tindak tutur asertif mencakup pernyataan dan pendapat, direktif berupa ajakan dan permintaan, komisif berupa janji dan komitmen, ekspresif berupa ungkapan terima kasih dan penyesalan, serta deklaratif dalam bentuk pernyataan keputusan. Penelitian ini menunjukkan bahwa film sebagai media audiovisual merupakan sarana yang efektif dalam merepresentasikan penggunaan bahasa secara fungsional dalam interaksi sosial, sekaligus memperkuat penggambaran karakter dan dinamika alur cerita.