KEPERCAYAAN MASYARAKAT LAMPUNG TERHADAP MANTRA (MEMANG) DI ERA MODERENISASI

Published: May 2, 2025

Abstract:

Penelitian ini mengkaji fenomena bertahannya kepercayaan terhadap mantra (memang) di kalangan masyarakat Lampung di tengah arus modernisasi yang semakin kuat. Melalui pendekatan kualitatif dengan metode studi etnografis, penelitian bertujuan untuk mengeksplorasi dinamika praktik mantra dalam konteks perubahan sosial budaya kontemporer. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, dengan informan kunci yang terdiri dari tokoh adat, dan masyarakat umum di wilayah Lampung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mantra masih memiliki signifikansi kultural yang tinggi, meskipun mengalami transformasi makna dan praktik seiring perkembangan zaman. Masyarakat Lampung mempertahankan kepercayaan terhadap memang sebagai warisan budaya yang memiliki fungsi simbolik, sosial, dan psikologis. Penelitian ini mengungkap bahwa modernisasi tidak sepenuhnya menghapuskan kepercayaan tradisional, melainkan mendorong adaptasi dan reinterpretasi praktik budaya. Temuan penelitian memberikan kontribusi penting dalam memahami ketangguhan budaya lokal dan mekanisme survival kearifan tradisional di era globalisasi.

This research examines the phenomenon of the persistence of belief in mantras (indeed) among the people of Lampung amidst the increasingly strong current of modernization. Through a qualitative approach with ethnographic study methods, the research aims to explore the dynamics of mantra practice in the context of contemporary socio-cultural change. Data collection was carried out through in-depth interviews with key informants consisting of traditional leaders and the general public in the Lampung region. The research results show that mantras still have high cultural significance, even though they have experienced transformations in meaning and practice over time. Lampung people maintain belief in it as a cultural heritage that has symbolic, social and psychological functions. This research reveals that modernization does not completely eradicate traditional beliefs, but rather encourages adaptation and reinterpretation of cultural practices. The research findings provide an important contribution in understanding the resilience of local culture and the survival mechanisms of traditional wisdom in the era of globalization.

Keywords:
1. mantra (indeed)
2. community beliefs
3. modernization
4. Lampung culture
Authors:
1 . Desti Aulia Putri
2 . Rosalia Agustina
How to Cite
Putri, D. A. ., & Agustina, R. (2025). KEPERCAYAAN MASYARAKAT LAMPUNG TERHADAP MANTRA (MEMANG) DI ERA MODERENISASI. Jurnal Punyimbang, 5(1), 20–29. https://doi.org/10.23960/punyimbang.v5i1.823
References

    APRILIA, S. (2023). Akulturasi Budaya Pendhalungan dalam Tradisi Kesenian Can Macanan Kadduk Jember 2016-2020.

    Arruda, R. T. (2024). Cosmovisions dan Realitas: filosofi masing-masing.

    Baka, W. K., & Hadi, A. T. (2023). TRADISI MEEPARIKA MENANAM PADI PADA MASYARAKAT DESA MATA KECAMATAN KAMBOWA KABUPATEN BUTON UTARA. LISANI: Jurnal Kelisanan, Sastra, Dan Budaya, 6(2), 113–118.

    Efrianti, N., Sarwono, S., & Yulistio, D. (2024). Mengungkap Simbolis Teks Mantra Pengobatan Etnik Lembak di Kabupaten Bengkulu Tengah. Proceeding International Conference on Malay Identity, 138–155.

    Endraswara, S. (2013). Metodologi penelitian sastra. Media Pressindo.

    Erwin Laksa, B. (2024). PENGEMBANGAN KINERJA MENGAJAR GURU PENJASDALAM PENINGKATAN KUALITAS PEMBELAJARAN (Studi pada UPTD SDN 2 Balokang Kota Banjar).

    Fatonah, I., Kurniawan, A. T., Setiyana, L., & Karsiwan, K. (2020). Tradisi Lisan Lampung: Perkembangan dan Tantangan di Era Globalisasi. Tinta Pena Publishing.

    JOKO, S. (2021). Persepsi Kyai Tentang Islam Nusantara dan Relevansinya dengan Tradisi Pendidikan Pesantren di Kabupaten Lampung Utara. (Doctoral dissertation, Uin Raden Intan Lampung.)

    Magu’ga, B. (2023). Kebudayaan Toraja dan Filsafat; eksplorasi nilai-nilai tradisional dalam konteks modern.

    Makbul, M. (2021). Metode pengumpulan data dan instrumen penelitian.

    Nurdin, A. (2015). Komunikasi Magis; Fenomena Dukun di Pedesaan. LKiS Pelangi Aksara.

    Putri, T. A., Putri, R. D. M., & Afkar, T. (2024). Interaksi Bahasa Dan Budaya Dalam Konteks Masyarakat Etnik: Studi Kasus Pada Kelompok Minoritas Di Indonesia. Ta’rim: Jurnal Pendidikan Dan Anak Usia Dini, 5(3), 89–109.

    Rudyansjah, T., Damm, M., Solihat, A., Riyanto, G., Ardhianto, I., & Amanulloh, N. (2012). Antropologi Agama: Wacana-Wacana Mutakhir dalam Kajian Religi dan Budaya. Penerbit Universitas Indonesia.

    Saputra, H. S. P. (2007). Memuja Mantra; Sabuk Mangir dan Jaran Goyang Masyarakat Suku Using Banyuwangi. LKIS Pelangi aksara.

    Sholiha, N. E. M. (2015). Struktur, Makna, dan Fungsi Mantra dalam Kesenian Bantengan Nuswantara di Batu Malang. Universitas Airlangga.

    SUBULUSSALAM, P. (n.d.). Pemahaman Masyarakat Terhadap Ayat-Ayat Larangan Mempercayai Dukun di Desa Lae.

    Widyaningrum, A., & Hartarini, Y. M. (2023). Pengantar Ilmu Sastra. Penerbit NEM.

  1. APRILIA, S. (2023). Akulturasi Budaya Pendhalungan dalam Tradisi Kesenian Can Macanan Kadduk Jember 2016-2020.
  2. Arruda, R. T. (2024). Cosmovisions dan Realitas: filosofi masing-masing.
  3. Baka, W. K., & Hadi, A. T. (2023). TRADISI MEEPARIKA MENANAM PADI PADA MASYARAKAT DESA MATA KECAMATAN KAMBOWA KABUPATEN BUTON UTARA. LISANI: Jurnal Kelisanan, Sastra, Dan Budaya, 6(2), 113–118.
  4. Efrianti, N., Sarwono, S., & Yulistio, D. (2024). Mengungkap Simbolis Teks Mantra Pengobatan Etnik Lembak di Kabupaten Bengkulu Tengah. Proceeding International Conference on Malay Identity, 138–155.
  5. Endraswara, S. (2013). Metodologi penelitian sastra. Media Pressindo.
  6. Erwin Laksa, B. (2024). PENGEMBANGAN KINERJA MENGAJAR GURU PENJASDALAM PENINGKATAN KUALITAS PEMBELAJARAN (Studi pada UPTD SDN 2 Balokang Kota Banjar).
  7. Fatonah, I., Kurniawan, A. T., Setiyana, L., & Karsiwan, K. (2020). Tradisi Lisan Lampung: Perkembangan dan Tantangan di Era Globalisasi. Tinta Pena Publishing.
  8. JOKO, S. (2021). Persepsi Kyai Tentang Islam Nusantara dan Relevansinya dengan Tradisi Pendidikan Pesantren di Kabupaten Lampung Utara. (Doctoral dissertation, Uin Raden Intan Lampung.)
  9. Magu’ga, B. (2023). Kebudayaan Toraja dan Filsafat; eksplorasi nilai-nilai tradisional dalam konteks modern.
  10. Makbul, M. (2021). Metode pengumpulan data dan instrumen penelitian.
  11. Nurdin, A. (2015). Komunikasi Magis; Fenomena Dukun di Pedesaan. LKiS Pelangi Aksara.
  12. Putri, T. A., Putri, R. D. M., & Afkar, T. (2024). Interaksi Bahasa Dan Budaya Dalam Konteks Masyarakat Etnik: Studi Kasus Pada Kelompok Minoritas Di Indonesia. Ta’rim: Jurnal Pendidikan Dan Anak Usia Dini, 5(3), 89–109.
  13. Rudyansjah, T., Damm, M., Solihat, A., Riyanto, G., Ardhianto, I., & Amanulloh, N. (2012). Antropologi Agama: Wacana-Wacana Mutakhir dalam Kajian Religi dan Budaya. Penerbit Universitas Indonesia.
  14. Saputra, H. S. P. (2007). Memuja Mantra; Sabuk Mangir dan Jaran Goyang Masyarakat Suku Using Banyuwangi. LKIS Pelangi aksara.
  15. Sholiha, N. E. M. (2015). Struktur, Makna, dan Fungsi Mantra dalam Kesenian Bantengan Nuswantara di Batu Malang. Universitas Airlangga.
  16. SUBULUSSALAM, P. (n.d.). Pemahaman Masyarakat Terhadap Ayat-Ayat Larangan Mempercayai Dukun di Desa Lae.
  17. Widyaningrum, A., & Hartarini, Y. M. (2023). Pengantar Ilmu Sastra. Penerbit NEM.