This research examines the dual role of the main female character, Alina Suhita, in the Indonesian drama film "Hati Suhita" (2023) by Khilma Anis, with a Marxist feminist approach. Alina is depicted as a strong woman who carries out her domestic role as a wife and public role as a prospective Islamic boarding school leader, in the midst of a loveless marriage. Analysis using Karl Marx's theory and Marxist feminism highlights how patriarchy and capitalism produce gender-based choices, especially women's double workload between the domestic and public spheres. Qualitative descriptive methods using textual observation techniques and film scene documentation are used. The results show that Alina takes care of her husband, in-laws and housework and is active as a teacher and Islamic boarding school supervisor. Findings confirm dual work as a form of gender subordination and social pressure. Alina's contribution to the public sphere reflects the intellectual and social capacity that strengthens solidarity in the Islamic boarding school environment. This study provides important literature regarding gender equality and women's challenges in patriarchal structures and capitalism through representational films, emphasizing double work as a manifestation of gender inequality that needs to be criticized culturally and socially.
Penelitian ini mengkaji peran kerja ganda tokoh perempuan utama, Alina Suhita, dalam film drama Indonesia “Hati Suhita” (2023) karya Khilma Anis, dengan pendekatan feminisme Marxis. Alina digambarkan sebagai perempuan tangguh yang menjalankan peran domestik sebagai istri dan peran publik sebagai calon pemimpin pesantren, di tengah pernikahan tanpa cinta. Analisis menggunakan teori Karl Marx dan feminisme Marxis menyoroti bagaimana patriarki dan kapitalisme, khususnya beban kerja ganda perempuan antara ranah domestik dan publik. Metode kualitatif deskriptif dengan teknik observasi tekstual dan dokumentasi adegan film digunakan. Hasil menunjukkan Alina mengurus suami, mertua, dan pekerjaan rumah serta aktif sebagai guru dan pembina pesantren. Temuan menegaskan kerja ganda sebagai bentuk subordinasi gender dan tekanan sosial. Kontribusi Alina dalam ruang publik mencerminkan kapasitas intelektual dan sosial yang memperkuat solidaritas di lingkungan pesantren. Studi ini memberikan literasi penting terkait kesetaraan gender dan tantangan perempuan dalam struktur patriarki dan kapitalisme melalui representasi film, menegaskan kerja ganda sebagai manifestasi ketidaksetaraan gender yang perlu dikritisi secara budaya dan sosial.