This study aims to ethnolinguistically examine the traditional expressions of the Megou Pak indigenous people in West Tulang Bawang as an effort to conserve and revitalize the language. The Megou Pak indigenous people, which historically consisted of four main clans—Buay Bulan, Buay Tegamoan, Buay Umpu, and Buay Aji—have a wealth of oral expressions rich in meaning and cultural values. However, amidst the current of modernization, the vitality of these expressions has the potential to decline. This study uses a qualitative approach with an ethnolinguistic and descriptive-analytical design. Data will be collected through in-depth interviews with traditional leaders (penyimbang) and elderly community figures, participatory observation in traditional activities, and documentation studies. The research location is centered in villages that are pockets of the Megou Pak indigenous people in West Tulang Bawang. The collected data will be analyzed semantically and contextually to identify the meaning, function, and values contained in the expressions. The results show that the traditional expressions of the Megou Pak community function as self-management, social responsibility, sincerity, and mental resilience. Specifically, the phrase emphasizes the principle of flexibility as true strength, the importance of taking time to prepare, and the need for self-control and empathy.
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji secara etnolinguistik ungkapan tradisional masyarakat adat Megou Pak di Tulang Bawang Barat sebagai upaya konservasi dan revitalisasi bahasa. Masyarakat adat Megou Pak, yang secara historis terdiri dari empat marga utama—Buay Bulan, Buay Tegamoan, Buay Umpu, dan Buay Aji—memiliki kekayaan ungkapan lisan yang sarat makna dan nilai budaya. Namun, di tengah arus modernisasi, vitalitas ungkapan-ungkapan ini berpotensi menurun. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain etnolinguistik dan deskriptif-analitis. Data akan dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan pemuka adat (penyimbang) dan tokoh masyarakat sepuh, observasi partisipatif dalam kegiatan adat, serta studi dokumentasi. Lokasi penelitian berpusat di desa-desa yang menjadi kantong masyarakat adat Megou Pak di Tulang Bawang Barat. Data yang terkumpul akan dianalisis secara semantik dan kontekstual untuk mengidentifikasi makna, fungsi, dan nilai-nilai yang terkandung dalam ungkapan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ungkapan tradisional masyarakat Megou Pak berfungsi sebagai manajemen diri, tanggung jawab sosial, keikhlasan, dan ketahanan mental. Secara spesifik, ungkapan tersebut menekankan prinsip kelenturan sebagai kekuatan sejati, pentingnya memanfaatkan waktu untuk persiapan, serta perlunya kontrol diri dan empati.