Kekerasan berbasis gender masih menjadi permasalahan serius dalam masyarakat Indonesia, khususnya yang terjadi dalam ranah domestik. Teks naskah drama Rumah untuk Alie merepresentasikan berbagai bentuk kekerasan terhadap tokoh perempuan yang tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga verbal dan emosional, serta dilegitimasi oleh relasi kuasa dalam keluarga patriarkal. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis representasi tokoh perempuan dalam Teks naskah drama Rumah untuk Alie melalui perspektif feminisme Bell Hooks. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif, dengan teknik analisis terhadap dialog dan adegan yang merepresentasikan kekerasan dan relasi kuasa dalam keluarga. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tokoh Alie mengalami berbagai bentuk kekerasan verbal dan emosional, seperti penghinaan, pembungkaman suara, pelabelan negatif, eksploitasi kerja domestik, hingga pengusiran dari keluarga. Kekerasan tersebut merefleksikan praktik patriarki domestik yang meniadakan subjektivitas anak dan perempuan serta mengabaikan prinsip love ethic sebagaimana dikemukakan oleh Bell Hooks. Teks naskah drama ini tidak hanya menggambarkan kekerasan sebagai pengalaman personal, tetapi juga sebagai bentuk penindasan struktural yang dilegitimasi oleh norma keluarga dan budaya patriarkal. Dengan demikian, Rumah untuk Alie dapat dipahami sebagai ruang kritik sosial terhadap kekerasan berbasis gender dan pentingnya membangun relasi keluarga yang adil, dialogis, dan berlandaskan kasih sayang.
Gender-based violence remains a serious problem in Indonesian society, particularly within the domestic sphere. The play "Rumah untuk Alie" (Home for Alie) depicts various forms of violence against female characters, not only physical but also verbal and emotional, and legitimized by power relations within a patriarchal family. This study aims to analyze the representation of female characters in the play "Rumah untuk Alie" (Home for Alie) through the perspective of Bell Hooks' feminism. This study uses a qualitative approach with descriptive methods, analyzing dialogue and scenes that represent violence and power relations within the family. The results show that Alie experiences various forms of verbal and emotional violence, such as insults, silencing, negative labeling, exploitation of domestic labor, and even expulsion from the family. This violence reflects domestic patriarchal practices that negate the subjectivity of children and women and ignore the principle of love ethic as proposed by Bell Hooks. This play depicts violence not only as a personal experience but also as a form of structural oppression legitimized by patriarchal family norms and culture. Thus, Rumah untuk Alie can be understood as a space for social critique of gender-based violence and the importance of building just, dialogical, and compassionate family relationships.