This study aims to describe the comparative language style in the pepaccur text of the Terbanggi Ilir community as a form of Lampung folk poetry that is rich in linguistic value and plays an important role in maintaining identity and culture. The study used a qualitative approach with descriptive and ethnographic methods. Data were collected through observation, in-depth interviews, and documentation with local traditional leaders. The results of the study indicate the presence of three types of comparative language style, namely simile, metaphor, and antithesis. These three language styles function to embellish speech, strengthen traditional messages, facilitate listeners' understanding, and provide an aesthetic effect on the pepaccur. This finding confirms that the comparative language style in pepaccur is not only an aesthetic element, but also a means of inheriting the cultural values of the Lampung community, especially in Terbanggi Ilir.
Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan gaya bahasa perbandingan dalam teks pepaccur masyarakat Terbanggi Ilir sebagai salah satu bentuk puisi rakyat Lampung yang kaya nilai bahasa serta berperan penting dalam mempertahankan identitas dan budaya. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif dan etnografi. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi bersama tokoh adat setempat. Hasil penelitian menunjukkan adanya tiga jenis gaya bahasa perbandingan, yaitu perumpamaan (simile), metafora, dan antitesis. Ketiga gaya bahasa tersebut berfungsi memperindah tuturan, memperkuat pesan adat, memudahkan pemahaman pendengar, serta memberikan efek estetis pada pepaccur. Temuan ini menegaskan bahwa gaya bahasa perbandingan dalam pepaccur tidak hanya menjadi unsur estetika, tetapi juga sarana pewarisan nilai budaya masyarakat Lampung, khususnya di Terbanggi Ilir.