This study aims to examine the forms of pilgrimage rituals at Jisarah Tomb, to elucidate the symbols and meanings embedded in these practices, and to explain the role of pilgrimage rituals as markers of local cultural identity among the Kangean Islands community. Employing a qualitative approach with a case study design, data were collected through participant observation, in-depth interviews, and documentation involving pilgrims, community leaders, and residents living around the tomb complex. The data were analyzed using thematic analysis to identify recurring patterns of meaning emerging from ritual practices and the community’s social experiences. The findings indicate that pilgrimage rituals at Jisarah Tomb are organized into a structured sequence of symbolic actions, including the burning of incense, the offering of ritual foods, the burial of palm-rib sticks, the recitation of prayers, and the articulation of vows. These practices are interpreted as modes of spiritual as well as social communication. The ritual symbols embody meanings of transition, reverence, reciprocity, and moral commitment that collectively sustain and reproduce the sacredness of the tomb space. These findings affirm that Jisarah Tomb functions not only as a spiritual locus but also as a socio-cultural space that supports the continuity of collective identity and cultural memory within the Kangean Islands community.
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bentuk-bentuk ritual ziarah di Makam Jisarah, mengungkap simbol dan makna yang menyertainya, serta menjelaskan peran ritual ziarah sebagai penanda identitas budaya lokal masyarakat Kepulauan Kangean. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan teknik observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan dokumentasi terhadap peziarah, tokoh masyarakat, serta warga sekitar makam. Data dianalisis menggunakan analisis tematik untuk mengidentifikasi pola makna yang muncul dari ritual ritual dan pengalaman sosial masyarakat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ritual ziarah di Makam Jisarah tersusun dalam rangkaian ritual simbolik yang terstruktur, meliputi pembakaran kemenyan, penyajian sesajen, penguburan lidi, pembacaan doa, dan pengucapan nazar, yang dimaknai sebagai sarana komunikasi spiritual sekaligus sosial. Simbol-simbol ritual tersebut merepresentasikan makna transisi, penghormatan, resiprositas, dan ikatan moral yang secara kolektif mereproduksi kesakralan ruang makam. Temuan ini menegaskan bahwa Makam Jisarah tidak hanya berfungsi sebagai ruang spiritual, tetapi juga sebagai ruang sosial budaya yang menopang keberlanjutan identitas kolektif dan memori budaya masyarakat Kepulauan Kangean.