Amuk is a term thatmeans soldier in Lampung society, especially in the Abung Pepadun community,who acts as the protector of the Penyimbang. The Amuk tradition has long been synonymouswith men who have undergone special training in martial arts andthe use of weapons to ensure the safety of the Penyimbang. This studyaims to examine the function and representation of Amuk from the past to thepresent, especially in a cultural symbolic context. The research methodused is participatory observation of the implementation of traditional ceremonies and thestructure of Kepunyimbangan, as well as interviews with local traditional leaders. The results of the research show that the function of Amuk has shifted from a customthat physically paved the way for the Penyimbang to become a symbol of strength andagility represented through martial arts movements and the use of propssuch as daggers, machetes, and laduk. Although its function has changed, Amuk stillretains its meaning as a protector and symbol of masculinity in the traditional structureof Lampung Pepadun. This phenomenon confirms the importance of Amuk as a representation of culture and cultural identity that continues to be preserved amidsocial change.
Amuk merupakan istilah yang berarti prajurit dalam masyarakat Lampung, khususnya Masyarakat Abung Pepadun, yang berperan sebagai pelindung Penyimbang. Tradisi Amuk sejak dahulu identik dengan laki-laki yang telah menjalani pelatihan khusus dan bela diri dan penggunaan sejata untuk memastikan keselamatan Penyimbang. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji fungsi dan representasi Amuk dari masa lalu hingga masa kini, terutama dalam konteks simbolik kultural. Metode penelitian yang digunakan adalah observasi partisipatif terhadap pelaksanaan upacara adat dan struktur Kepunyimbangan serta wawancara dengan tokoh adat setempat. Hasil penelitian menunjukkan, bahwa fungsi Amuk telah mengalami pergeseran dari adat yang membuka jalan secara nyata bagi Penyimbang menjadi simbol kekuatan dan ketangkasan yang direpresentasikan melalui gerak silat dan penggunaan properti seperti badik. parang, dan laduk. Meskipun fungsinya telah berubah, Amuk tetap mempertahankan makna sebagai pelindung dan simbol maskulinitas dalam struktur adat Lampung Pepadun. Fenomena ini menegaskan pentingnya Amuk sebagai representasi budaya dan identitas kultural yang terus Lestari ditengah perubahan sosial.