This study examines moderate politeness practices in the comments section of the Instagram account pinterpolitik as part of digital political discourse. This study uses a descriptive qualitative approach with a pragmatic discourse analysis method, based on Leech's politeness principle theory. The data consists of 18 netizen comments collected from political posts on the account pinterpolitik between October 2025 and January 2026. The analysis focuses on three dominant politeness maxims: the maxim of tact, the maxim of agreement, and the maxim of praise. The results show that netizens tend to apply moderate politeness strategies through implicit criticism, argumentative agreement, and affective and rational praise. These strategies serve to minimize potential conflict, maintain face among interlocutors, and build social legitimacy for political figures and policies. These findings confirm that moderate politeness plays a role as an adaptive mechanism in digital political discourse, enabling the expression of critical attitudes without being confrontational, while contributing to the creation of a more ethical and dialogical digital public space.
Penelitian ini mengkaji tindak kesantunan moderatif dalam kolom komentar akun Instagram pinterpolitik sebagai bagian dari wacana politik digital. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode analisis wacana pragmatik, berlandaskan teori prinsip kesantunan Leech. Data berupa 18 komentar warganet yang dikumpulkan dari unggahan politik akun pinterpolitik pada periode Oktober 2025–Januari 2026. Analisis difokuskan pada tiga maksim kesantunan yang dominan, yaitu maksim kebijaksanaan, maksim persetujuan, dan maksim pujian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa warganet cenderung menerapkan strategi kesantunan moderatif melalui kritik implisit, persetujuan argumentatif, serta pujian afektif dan rasional. Strategi tersebut berfungsi untuk meminimalkan potensi konflik, menjaga muka mitra tutur, serta membangun legitimasi sosial terhadap figur maupun kebijakan politik. Temuan ini menegaskan bahwa kesantunan moderatif berperan sebagai mekanisme adaptif dalam wacana politik digital yang memungkinkan penyampaian sikap kritis tanpa bersifat konfrontatif, sekaligus berkontribusi pada terciptanya ruang publik digital yang lebih etis dan dialogis.