The focus of this study is the expressive illocutionary acts found in the short story Ketika Mas Gagah Pergi dan Kembali by Helvy Tiana Rosa. The objective of this study is to describe these expressive illocutionary acts and their relevance as alternative teaching materials for high schools. The method used is qualitative descriptive. The results of this study identified a total of 25 expressive illocutionary acts, including 4 instances of expressions of gratitude, 4 instances of greetings, 1 instance of congratulations, 4 instances of apologies, 1 instance of blame, 6 instances of praise, and 5 instances of criticism. The conclusion of this study is that, in terms of content, the short story aligns with the “Learning Outcomes” (CP) for Indonesian language in high school under the Merdeka Curriculum for 11th grade. The short story is also suitable as teaching material for Indonesian language in high school because it meets linguistic, psychological, and cultural background aspects, both in the learning content and in the short story text. From a linguistic perspective, the short story uses language that is easily understood by students; from a psychological perspective, it is appropriate for high school students due to the process of self-discovery; and from a cultural background perspective, it reflects attitudes of mutual respect, care, and close family relationships that are relevant to students’ lives.
Permasalahan dalam penelitian ini adalah tindak tutur ilokusi ekspresif yang terdapat dalam cerpen Ketika Mas Gagah Pergi dan Kembali karya Helvy Tiana Rosa. Tujuan dari penelitian ini adalah pendeskripsian tindak tutur ilokusi ekspresif serta relevansinya sebagai alternatif bahan ajar di sekolah menengah atas. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif. Hasil penelitian ini ditemukan sebanyak 25 tindak tutur ilokusi ekspresif yang meliputi ungkapan terima kasih sebanyak 4 data, memberi salam 4 data, memberi selamat 1 data, meminta maaf 4 data, menyalahkan 1 data, memuji 6 data, dan mengecam 5 data. Simpulan dari penelitian ini adalah cerpen tersebut dari sisi materi sudah sesuai dengan ‘Capaian Pembelajaran’ (CP) bahasa Indonesia SMA dalam Kurikulum Merdeka pada kelas XI. Cerpen tersebut juga memiliki kelayakan sebagai bahan ajar bahasa Indonesia di SMA karena telah memenuhi aspek bahasa, psikologis, dan latar belakang budaya, baik pada materi pembelajaran maupun pada teks cerpen. Dilihat dari aspek bahasa cerpen tersebut menggunakan bahasa yang mudah dipahami oleh siswa, dari aspek psikologis memiliki kesesuaian dengan remaja SMA karena adanya proses pencarian jati diri, Kemudian dari aspek latar belakang budaya, mencerminkan sikap saling menghargai, kepedulian, dan hubungan kekeluargaan yang dekat dengan kehidupan siswa.