This study aims to describe the forms, patterns, and functions of lexical bundles that appear in the podcast Curhat Bang Denny Sumargo as a representation of Indonesian vernacular language in digital communication. Lexical bundles are understood as recurrent word sequences that help maintain discourse fluency and signal speakers’ attitudes, emotions, and social relations. Using a descriptive qualitative approach, this study builds a corpus of approximately 45,000 words derived from transcriptions of several podcast episodes. The analysis employs lexical clustering techniques based on frequency, range, and co-occurrence patterns, which are then interpreted through pragmatic and sociolinguistic frameworks. The findings show that the podcast discourse is dominated by repetitive bundles such as “terus terus terus terus,” negation bundles such as “enggak ada enggak ada,” as well as mitigative and affective bundles such as “ya enggak apa-apa” and “kalau enggak salah.” These patterns function as strategies to maintain narrative flow, reinforce emotional expression, build interpersonal closeness, and negotiate speakers’ stances. The study highlights that podcasts, as contemporary oral communication media, exhibit characteristics of vernacular language that are spontaneous, expressive, and socially relational. The analysis of lexical bundles in the podcast also illustrates how communicative identity is shaped through distinctive lexical choices that emerge within the digital conversational culture of urban Indonesian society.
Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan bentuk, pola, serta fungsi gugus leksikal (lexical bundles) yang muncul dalam siniar Curhat Bang Denny Sumargo sebagai representasi bahasa Indonesia vernakular dalam komunikasi digital. Gugus leksikal dipahami sebagai rangkaian kata berulang yang berperan menjaga kelancaran wacana serta menandai sikap, emosi, dan relasi sosial penutur. Dengan pendekatan kualitatif deskriptif, penelitian ini membangun korpus berisi ±45.000 kata hasil transkripsi beberapa episode siniar. Analisis dilakukan melalui teknik lexical clustering menggunakan kriteria frekuensi, sebaran, serta pola ko-okurensi, yang kemudian ditafsirkan secara pragmatik dan sosiolinguistik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tuturan dalam siniar didominasi gugus repetitif seperti “terus terus terus terus,” gugus negasi seperti “enggak ada enggak ada,” serta gugus mitigatif dan afektif seperti “ya enggak apa-apa” dan “kalau enggak salah.” Pola tersebut berfungsi sebagai strategi menjaga kelancaran narasi, memperkuat ekspresi emosional, membangun kedekatan interpersonal, serta menegosiasi sikap penutur. Temuan ini menegaskan bahwa siniar sebagai media komunikasi lisan kontemporer menampilkan karakteristik bahasa vernakular yang spontan, ekspresif, dan berorientasi pada relasi sosial. Analisis gugus leksikal dalam siniar juga memperlihatkan bagaimana identitas komunikatif dibentuk melalui pilihan leksikal khas yang berkembang dalam budaya percakapan digital masyarakat urban Indonesia.