Kerajinan Tumbung Manuk merupakan salah satu warisan budaya masyarakat Lampung Abung yang mulai terpinggirkan dan kurang dikenal oleh generasi muda. Oleh karena itu, melalui pemanfaatan kerajinan ini dalam pembelajaran, diharapkan peserta didik tidak hanya mampu memahami struktur dan kaidah kebahasaan teks prosedur kompleks, tetapi juga terlibat langsung dalam pelestarian budaya lokal. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif etnografi. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, serta dokumentasi. Data dianalisis melalui tahapan reduksi, penyajian, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses pembuatan Tumbung Manuk terdiri atas tiga tahapan utama, yaitu tahap persiapan, tahap inti, dan tahap penutup, yang tersusun secara sistematis dan logis. Proses ini kemudian dirumuskan ke dalam bentuk teks prosedur kompleks yang memuat ciri kebahasaan seperti penggunaan konjungsi temporal, kalimat imperatif, serta kalimat deklaratif. Teks tersebut dinilai layak digunakan sebagai bahan ajar karena memenuhi unsur kebahasaan, struktur, serta relevan dengan muatan lokal dan Kurikulum Merdeka. Dengan demikian, pemanfaatan kerajinan Tumbung Manuk dalam pembelajaran Bahasa Lampung tidak hanya mengembangkan keterampilan berbahasa peserta didik, tetapi juga memperkuat identitas budaya daerah.
Tumbung Manuk crafts are a cultural heritage of the Lampung Abung community that is increasingly marginalized and less well-known among the younger generation. Therefore, by utilizing these crafts in learning, it is hoped that students will not only be able to understand the structure and linguistic rules of complex procedural texts but also become directly involved in preserving local culture. This research employed qualitative methods with a descriptive ethnographic approach. Data collection techniques included observation, interviews, and documentation. Data were analyzed through stages of reduction, presentation, and conclusion drawing. The results indicate that the Tumbung Manuk making process consists of three main stages: preparation, core, and closing, arranged systematically and logically. This process was then formulated into a complex procedural text that incorporates linguistic features such as the use of temporal conjunctions, imperative sentences, and declarative sentences. The text was deemed suitable for use as teaching material because it meets the linguistic elements and structure, and is relevant to local content and the Merdeka Curriculum. Thus, the use of Tumbung Manuk crafts in Lampung language learning not only develops students' language skills but also strengthens regional cultural identity.