This study aims to describe the cultural elements in the novel Negarabatin: Negeri di Balik Bukit by Udo Z. Karzi and their implications for teaching the Lampung language in schools. Using a qualitative descriptive approach, data were collected through reading and note-taking techniques, then analyzed using content analysis. The results show that six of the seven cultural elements of Lampung are depicted in the novel. Language is reflected in the use of traditional words such as memmang, ugu tegolan, and greetings like pakngah and paklunik. Knowledge elements are evident in traditional healing practices using jerangau and jahhik, as well as the preparation of traditional foods like kekalik. Social organization is seen in the system of greetings and decision-making within families. Tools and technology are depicted through bamboo ladders, stoves, and petromax lamps. Livelihoods are represented through farming activities, nayuh, and belangok, while religion is reflected in rituals such as ngakan menyan and ngebebali. These findings can serve as teaching materials for Lampung language classes in Grade 10 Phase E, particularly the reading and viewing elements of the Merdeka Curriculum.
Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan unsur-unsur budaya dalam Novel Negarabatin: Negeri di Balik Bukit karya Udo Z. Karzi serta implikasinya dalam pembelajaran Bahasa Lampung di sekolah. Menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif, data dikumpulkan melalui teknik baca dan catat, lalu dianalisis dengan analisis isi. Hasil menunjukkan enam dari tujuh unsur budaya Lampung tergambar dalam novel. Bahasa tercermin dari penggunaan kata tradisional seperti memmang, ugu tegolan, dan sapaan seperti pakngah dan paklunik. Unsur pengetahuan tampak dalam praktik pengobatan dengan jerangau dan jahhik, serta pembuatan makanan khas kekalik. Organisasi sosial terlihat dari sistem sapaan dan keputusan dalam keluarga. Peralatan dan teknologi digambarkan melalui tangga bambu, tungku, dan petromaks. Mata pencaharian muncul lewat aktivitas bertani, nayuh, dan belangok, sedangkan religi melalui ritual ngakan menyan dan ngebebali. Temuan ini dapat dijadikan sebagai bahan ajar Bahasa Lampung kelas X Fase E, khususnya elemen membaca dan memirsa dalam Kurikulum Merdeka.