This study aims to uncover family conflict in the drama script "Eyang Ti." Family conflict often arises, evident in the conflicts between family members. This study employed a qualitative descriptive method by analyzing the dialogue and context within the drama script depicting family conflict. Data were analyzed using a sociology of literature approach, based on Wellek and Warren's theory of viewing literary works as a reflection of social reality. The results indicate that family conflict in the drama script "Eyang Ti" is caused by differences in values, communication gaps, and the pressure of social norms. Conflict resolution occurs through honesty, empathy, sacrifice, and changes in the characters' perspectives on the meaning of family. Eyang Ti plays a central role in conflict resolution, emphasizing the values of humanity and wisdom. Thus, the drama script "Eyang Ti" not only represents family conflict in society but also conveys social criticism and offers alternative, more humanistic values in interpreting family relationships.
Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap konflik keluarga dalam teks naskah drama Eyang Ti. Fenomena konflik keluarga sering kali muncul, dapat dilihat dari adanya beberapa pertentangan antara anggota keluarga. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan menganalisis dialog dan konteks dalam naskah drama yang menggambarkan konflik keluarga. Data dianalisis menggunakan pendekatan sosiologi sastra teori Wellek dan Warren memandang karya sastra sebagai cerminan realitas sosial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konflik keluarga dalam naskah drama Eyang Ti disebabkan oleh perbedaan nilai, ketimpangan komunikasi, dan tekanan norma sosial. Penyelesaian konflik dilakukan melalui proses kejujuran, empati, pengorbanan, serta perubahan cara pandang tokoh terhadap makna keluarga. Tokoh Eyang Ti berperan sebagai figur sentral dalam resolusi konflik dengan mengedepankan nilai kemanusiaan dan kebijaksanaan. Dengan demikian, naskah drama Eyang Ti tidak hanya merepresentasikan konflik keluarga dalam masyarakat, tetapi juga menyampaikan kritik sosial serta menawarkan nilai alternatif yang lebih humanis dalam memaknai relasi keluarga.