This study aims to describe the social stratification in the novel Rasina by Iksaka Banu using a structuralist approach and to identify its implications for the teaching of Indonesian language in senior high schools. The analysis focuses on intrinsic elements such as characters, plot, setting, and theme, as well as their interrelations in shaping meaning and conveying social messages. The method used is content analysis, with data sourced from narrative, dialogue, and social conflicts within the novel. The data were analyzed through three main stages: categorization, interpretation, and synthesis. The findings reveal 312 instances illustrating three social classes: bourgeoisie, middle class, and proletariat. Social inequality is reflected through wage disparity and exploitation of the proletarian class, leading to class consciousness and social struggle among the characters. These findings have pedagogical implications for literature teaching in high schools, particularly through the analysis of intrinsic and extrinsic literary elements. The study also proposes the development of a teaching module based on Rasina to enhance students' critical thinking and social awareness, aligning with the goals of the Merdeka Curriculum and the Pancasila Student Profile.
Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan strata sosial dalam novel Rasina karya Iksaka Banu menggunakan pendekatan strukturalisme, serta mengidentifikasi implikasinya terhadap pembelajaran Bahasa Indonesia di SMA. Analisis dilakukan dengan mengkaji unsur intrinsik seperti tokoh, alur, latar, dan tema, serta keterkaitannya dalam membentuk makna dan pesan sosial. Metode yang digunakan adalah analisis isi dengan data berupa narasi, dialog, dan konflik sosial dalam novel. Data dianalisis melalui tiga tahap: kategorisasi, interpretasi, dan sintesis. Hasil penelitian menunjukkan adanya 312 data yang menggambarkan tiga kelas sosial: borjuis, menengah, dan proletar. Ketimpangan sosial tercermin melalui ketidakadilan upah dan eksploitasi kelas proletar, yang memunculkan kesadaran kelas dan perjuangan sosial dalam diri tokoh-tokohnya. Implikasi dari temuan ini dapat diterapkan dalam pembelajaran sastra di SMA melalui analisis unsur intrinsik dan ekstrinsik. Penelitian ini juga mengusulkan pengembangan modul ajar berbasis Rasina untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan pemahaman sosial siswa, sejalan dengan tujuan Kurikulum Merdeka dan Profil Pelajar Pancasila.