This study aims to describe the characterization, traits, and social position of the character Zainab in Buya Hamka’s novel “Di Bawah Lindungan Ka'bah” through the perspective of intersectional feminism. This perspective is used to explore the overlapping forms of oppression experienced by the female character based on gender, social class, and customary norms. The research employs a descriptive qualitative method with document analysis through intensive reading of the novel. The findings indicate that Zainab is portrayed as a woman with positive qualities—kind, patient, obedient, caring, and strong-willed. However, her high social status does not free her from various forms of gender injustice, such as limited access to education, the tradition of seclusion (pingitan), and customary involvement in determining marriage choices. These findings reveal that Zainab experiences multiple layers of oppression rooted in patriarchal culture and the social structure of Minangkabau society. Therefore, the intersectional feminist approach proves relevant in uncovering the complexity of gender inequality presented in literary works.
Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan penokohan, karakter, dan kedudukan tokoh Zainab dalam novel Di Bawah Lindungan Ka’bah karya Buya Hamka melalui perspektif feminisme interseksional. Perspektif ini digunakan untuk melihat tumpang tindih penindasan yang dialami tokoh perempuan berdasarkan gender, kelas sosial, dan adat. Penelitian menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan teknik studi dokumen melalui pembacaan intensif terhadap teks novel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Zainab digambarkan sebagai tokoh perempuan yang berkarakter baik, penyabar, patuh, peduli, dan berkepribadian kuat. Namun kedudukan sosialnya yang tinggi tidak mampu membebaskannya dari berbagai bentuk ketidakadilan gender, seperti pembatasan pendidikan, tradisi pingitan, serta keterlibatan adat dalam penentuan jodoh. Temuan ini mengungkap bahwa Zainab mengalami penindasan berlapis yang disebabkan oleh pengaruh budaya patriarki dan struktur sosial masyarakat Minangkabau. Dengan demikian, pendekatan feminisme interseksional terbukti relevan dalam mengungkap kompleksitas ketidaksetaraan gender dalam karya sastra.