Abstrak
Penelitian ini bertujuan menganalisis nilai-nilai pendidikan karakter dalam tata krama adat Lampung Pepadun melalui pemetaan penelitian terdahulu. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi pustaka integratif. Sumber dianalisis dari 15 artikel ilmiah akses terbuka yang terbit pada 2021–2025 dan membahas budaya Pepadun, Piil Pesenggiri, tradisi Lampung, pendidikan karakter, literasi budaya, serta pelestarian budaya. Data dianalisis melalui tahap identifikasi, pengodean tematik, perbandingan temuan, dan sintesis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tata krama Pepadun berfungsi sebagai pendidikan informal yang menanamkan penghormatan, keramahan, kemampuan hidup bersama, tanggung jawab, musyawarah, solidaritas, dan gotong royong. Nilai tersebut terhubung dengan empat unsur Piil Pesenggiri, yaitu juluk adok, nemui nyimah, nengah nyappur, dan sakai sambayan. Penelitian terdahulu lebih banyak mengkaji satu tradisi, satu praktik hukum-adat, atau penerapan Piil Pesenggiri dalam pembelajaran. Masih terbatas kajian yang memetakan tata krama sebagai sistem pendidikan karakter dan membahas hubungan antara pewarisan adat, sekolah, serta modernisasi. Artikel ini mengisi ruang tersebut melalui sintesis lintas penelitian. Implikasinya, pendidikan berbasis budaya lokal perlu menggunakan praktik adat sebagai sumber belajar kontekstual, melibatkan generasi muda, dan membedakan nilai inti yang perlu dipertahankan dari bentuk praktik yang perlu dikaji secara kritis.
Abstract
This study aims to analyze the character education values embedded in the etiquette of Lampung Pepadun customs through a mapping of previous studies. This study employs a qualitative approach using an integrative literature review method. The sources analyzed consisted of 15 open-access scientific articles published between 2021 and 2025 that discuss Pepadun culture, Piil Pesenggiri, Lampung traditions, character education, cultural literacy, and cultural preservation. The data were analyzed through the stages of identification, thematic coding, comparison of findings, and synthesis. The results show that Pepadun etiquette functions as informal education that instills respect, hospitality, the ability to live together, responsibility, deliberation, solidarity, and mutual cooperation. These values are connected to the four elements of Piil Pesenggiri, namely juluk adok, nemui nyimah, nengah nyappur, and sakai sambayan. Previous studies have predominantly examined individual traditions, specific customary-law practices, or the implementation of Piil Pesenggiri in learning. Studies that map etiquette as a character education system and examine the relationship between customary transmission, schooling, and modernization remain limited. This article addresses this gap through a cross-study synthesis. The findings imply that local culture-based education needs to utilize customary practices as contextual learning resources, involve younger generations, and distinguish core values that should be preserved from forms of practice that need to be critically examined.