This research is about the affixation of Lampung dialect A in Kanoman village and its implications at the junior high school level. Formulation of the problem regarding how to analyze the affixation of Lampung dialect A in Kanoman village and the implications for SMP (Junior Middle School). The aim of this research problem is to find out and understand the affixation of Lampung dialect A in Kanoman village and the implications for SMP (Junior Middle School). The research method uses a qualitative descriptive method by describing the vocabulary conveyed by traditional leaders and the elderly in Kanoman village. Researchers also used the interview method to get results about Lampung language vocabulary in Kanoman village. The sources interviewed were traditional leaders and the elderly in Kanoman village. The affixations that are discussed by researchers in this article are prefixes in Lampung that have affixes at the beginning of words, including ng-, nge-, nga-, bu-, be-, ne-, me-, di-, ke-, ka-, se-, sa-, sanga-, ti-, te-, ta-, pe-, da-, and de-. The new words produced include ngakuk, ngegunik, ngalulih, buhayak, betawai, netuk, mekik, didapogh, kekalau, kabawak, selok, sahelau, sangapujuk, titawai, telesogh, takanjat, pepigha, daghani, and dedaghi. The suffixes in Lampung language have suffixes at the end of words, including -i, -ni, and -kon. So there are new words including sepo'i, toni, and benoghkon. Meanwhile, confixes in Lampung language have affixes at the beginning and end of words, including ke- -an, ge- -an, pe- -an, bu- -an, ti- -kon, and di- -kon. So there are new words, including kelanggaghan, gegalakan, pelegohan, buguwaian, tibeghakkon, and diiwakko. The implications at the junior high school (Junior High School) level are expected to be able to implement Lampung language affixation in the educational field being pursued.
Penelitian ini tentang afiksasi bahasa Lampung dialek A di desa Kanoman dan Implikasinya pada jenjang SMP (Sekolah Menengah Pertama). Rumusan masalah perihal bagaimana analisis afiksasi bahasa Lampung dialek A di desa Kanoman dan implikasi pada SMP (Sekolah Menengah Pertama). Tujuan masalah penelitian ini untuk mengetahui dan memahami perihal afiksasi bahasa Lampung dialek A di desa Kanoman dan implikasi pada SMP (Sekolah Menengah Pertama). Metode penelitian menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan mendeskripsikan kosakata yang disampaikan oleh para tokoh adat dan lansia yang ada di desa Kanoman. Peneliti juga menggunakan metode wawancara untuk mendapatkan hasil tentang kosakata bahasa Lampung di desa Kanoman. Narasumber yang diwawancarai ialah para tokoh adat dan lansia yang ada di desa Kanoman. Afiksasi yang menjadi pembahasan peneliti pada artikel ini, prefiks pada bahas Lampung tersebut mendapatkan imbuhan yang berada di awal kata antara lain ng-, nge-, nga-, bu-, be-, ne-, me-, di-, ke-, ka-, se-, sa-, sanga-, ti-, te-, ta-, pe-, da-, dan de-. Kata baru yang dihasilkan antara lain ngakuk, ngegunik, ngalulih, buhayak, betawai, netuk, mekik, didapogh, kekalau, kabawak, segelok, sahelau, sangapujuk, titawai, telesogh, takanjat, pepigha, daghani, dan dedaghi. Sufiks pada bahas Lampung tersebut mendapatkan imbuhan yang berada di akhir kata antara lain -i, -ni, dan -kon. Maka terdapat kata baru diantaranya sepo’i, hinggani, dan benoghkon. Sedangkan konfiks pada bahas Lampung tersebut mendapatkan imbuhan yang berada di awal dan di akhir kata antara lain ke- -an, ge- -an, pe- -an, bu- -an, ti- -kon, dan di- -kon. Maka terdapat kata baru antara lain kelanggaghan, gegalakan, pelegohan, buguwaian, tibeghakkon, dan diiwakko. Implikasi pada jenjang SMP (Sekolah Menengah Pertama) diharapkan dapat menerapkan Afiksasi bahasa Lampung di lingp pendidikan yang sedang di tempuh.