Saka Bahasa merupakan jurnal kajian dan penelitian yang berfokus pada pendidikan, bahasa, sastra, dan budaya. Setiap artikel di Saka Bahasa telah melewati proses telaah pustaka dan penyuntingan sehingga memenuhi standar publikasi ilmiah. Saka Bahasa terbit pada bulan Juli dan Desember setiap tahunnya. E-ISSN: 3110-5920
Current Issue
Published
2026-02-11
A student with intellectual disabilities who has not been able to read nouns that are often encountered around students with a KV-KV pattern. This study aims to analyze the effectiveness of RUMBI media to improve word reading skills in students with intellectual disabilities. This study uses a quantitative approach with the methods used during the study, namely A-B-A and Single Subject Research (SSR). Data analysis used is visual graphic analysis. Three repetitions of stage A1 were completed, producing results of 20%, 20%, and 20%. Seven times the intervention stage (B) was carried out with the following results: 40%, 50%, 60%, 70%, 80%, 90% and 100%. Baseline (A2) is the final stage which was carried out three times with scores of 80%, 80% and 80%. Children's motivation and interest in learning can also be increased by providing intervention through RUMBI media. This leads to the conclusion that the use of RUMBI media is effective in improving the ability to read nouns with a KV-KV pattern for children with mild intellectual disabilities in grade V at SLB Negeri 1 Solok.
Seorang siswa disabilitas intelektual yang belum mampu membaca kata benda yang sering di jumpai disekitar siswa dengan pola KV-KV. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas media RUMBI untuk meningkatkan kemampuan membaca kata pada siswa disabilitas intelektual. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode yang digunakan pada saat penelitian yaitu A-B-A dan Single Subject Research (SSR). Analisis data yang digunakan yaitu analisis visual grafik. Tiga pengulangan tahap A1 diselesaikan, menghasilkan hasil 20%, 20%, dan 20%. Tujuh kali tahap intervensi (B) dilakukan dengan hasil sebagai berikut: 40%, 50%, 60%, 70%, 80%, 90% dan 100%. Baseline (A2) merupakan tahap akhir yang dilakukan sebanyak tiga kali dengan skor 80%, 80% dan 80%. Motivasi dan minat belajar anak juga dapat ditingkatkan dengan memberikan intervensi melalui media RUMBI. Hal ini mengarah pada kesimpulan bahwa penggunaan media RUMBI efektif dalam meningkatkan kemampuan membaca kata benda dengan pola KV-KV bagi anak disabilitas intelektual ringan kelas V di SLB Negeri 1 Solok.
Early reading skills are an important basic skill for students, including those with mild intellectual disabilities. However, students with this condition often have difficulty combining letters into the correct sounds, especially in words containing the diagraph "ny". This study aims to determine the effectiveness of using spinning wheel media in improving reading skills of syllables containing the diagraph "ny". This study used a quantitative method with a Single Subject Research (SSR) design with an A-B-A pattern consisting of a baseline phase (A1), intervention (B), and baseline (A2). The subject of the study was one student with mild intellectual disabilities in grade III phase B SDLB. Data were collected through observation using a checklist and analyzed using visual graphic analysis. The results showed that in the initial baseline phase (A1), students' reading ability was stable at 20%. After being given intervention using spinning wheel media in phase B for seven sessions, reading ability increased to 100%. In the second baseline phase (A2), students' reading ability remained stable at 100%. These results indicate that the use of spinning wheel media is effective in improving reading skills of syllables containing the diagraph "ny" in students with mild intellectual disabilities.
Keterampilan membaca permulaan merupakan kemampuan dasar yang penting bagi peserta didik, termasuk bagi siswa disabilitas intelektual ringan. Namun, siswa dengan kondisi tersebut sering mengalami kesulitan dalam menggabungkan huruf menjadi bunyi yang tepat, khususnya pada kata yang mengandung diagraf ny. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas penggunaan media spinning wheel dalam meningkatkan keterampilan membaca suku kata yang mengandung diagraf “ny”. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain Single Subject Research (SSR) pola A-B-A yang terdiri dari fase baseline (A1), intervensi (B), dan baseline (A2). Subjek penelitian adalah satu siswa disabilitas intelektual ringan kelas III fase B SDLB. Data dikumpulkan melalui observasi menggunakan lembar checklist dan dianalisis menggunakan analisis visual grafik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada fase baseline awal (A1) kemampuan membaca siswa stabil pada persentase 20%. Setelah diberikan intervensi menggunakan media spinning wheel pada fase B selama tujuh sesi, kemampuan membaca meningkat hingga mencapai 100%. Pada fase baseline kedua (A2), kemampuan membaca siswa tetap stabil pada persentase 100%. Hasil tersebut menunjukkan bahwa penggunaan media spinning wheel efektif dalam meningkatkan keterampilan membaca suku kata diagraf “ny” pada siswa disabilitas intelektual ringan.
The ability to recognize letters is an important foundation in early reading skills. Children with mild intellectual disabilities often experience difficulties in recognizing letters, both in terms of shape and sound. This study aims to determine the use of Smart Book media in improving the ability to recognize letters in grade IV children with mild intellectual disabilities at SLB Negeri 1 Solok. This study used an experimental method with a Single Subject Research (SSR) approach with an A-B-A (Baseline-Intervention-Baseline) design implemented in 13 meeting sessions, consisting of phase A1 with 3 sessions, phase B with 7 sessions, and phase A2 with 3 sessions. The data collection technique was carried out through observation and tests using a checklist sheet while the data analysis technique in this study used visual graphic data analysis, by entering data into graphical form, then analyzed based on phases (A1, B, A2). The results showed that in the initial baseline phase (A1) the child's ability was at a stable level of 28%. After being given intervention using Smart Book media in phase (B), the child's ability increased gradually until it reached 100%. In the final baseline phase (A2), the ability remained stable at 100%. These results show that Smart Book media can improve the ability to recognize letters and increase children's interest and focus in learning.
Kemampuan mengenal huruf merupakan dasar penting dalam keterampilan membaca permulaan. Anak dengan disabilitas intelektual ringan sering mengalami hambatan dalam mengenali huruf, baik dari segi bentuk maupun bunyinya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penggunaan media Smart Book dalam meningkatkan kemampuan mengenal huruf pada anak disabilitas intelektual ringan kelas IV di SLB Negeri 1 Solok. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan pendekatan Single Subject Research (SSR) dengan desain A-B-A (Baseline–Intervensi–Baseline) yang dilaksanakan dalam 13 sesi pertemuan, terdiri dari fase A1 sebanyak 3 sesi, fase B sebanyak 7 sesi, dan fase A2 sebanyak 3 sesi. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi dan tes menggunakan lembar checklist sedangkan teknik analisis data pada penelitian ini menggunakan analisis data visual grafik, dengan cara memasukkan data ke dalam bentuk grafik, kemudian dianalisis berdasarkan fase (A1, B, A2). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada fase baseline awal (A1) kemampuan anak berada pada angka stabil 28%. Setelah diberikan intervensi menggunakan media Smart Book pada fase (B), kemampuan anak meningkat secara bertahap hingga mencapai 100%. Pada fase baseline akhir (A2), kemampuan tersebut tetap stabil di angka 100%. Hasil ini menunjukkan bahwa media Smart Book dapat meningkatkan kemampuan mengenal huruf serta meningkatkan minat dan fokus belajar anak.
This research is motivated by the large number of connotative nouns used in song lyrics. This research aims to describe the form of positive connotation, the form of negative connotation, and the comparative frequency of the use of noun connotation in the lyrics of the album Figura Renata (Self Titled) and the album Hara by the band Figura Renata. This type of research is qualitative research with descriptive methods. The research data are in the form of connotative nouns in the song lyrics obtained through techniques and words. The data sources of this research are two albums Figura Renata (self title) and the album Hara by the band Figura Renata. This research data is explained based on semantic theory, especially the theory of connotative meaning. The results of the study found 122 connotative noun data consisting of 85 positive connotation data (69.67%) and 37 negative connotation data (30.33%). In positive connotation, the use of visual imagery is the most dominant, namely 70 data (82.35%), while in negative connotation the sense of sight is also dominant as much as 23 data (62.16%). The form or form of positive connotation was found as many as 41 data while the form or form of negative connotation was as many as 27 data. The results of the study show that the use of positive connotation is more dominant than negative connotation, and the lyrics of the song Figura Renata tend to build meaning through visual imagery and positive feeling values. This finding shows that the use of connotative nouns in the lyrics of the song Figura Renata not only functions as an aesthetic element, but also builds depth of meaning and reflective messages.
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh banyaknya penggunaan nomina berkonotasi dalam lirik lagu. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan wujud konotasi positif, wujud konotasi negatif, dan frekuensi perbandingan penggunaan konotasi nomina dalam lirik lagu album Figura Renata (Self Titled) dan album Hara karya grup band Figura Renata. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan metode deskriptif. Data penelitian berupa kata-kata nomina berkonotasi dalam lirik lagu yang diperoleh melalui teknik simak dan catat. Sumber data penelitian ini adalah dua album Figura Renata (self titled) dan album Hara karya grup band Figura Renata. Data penelitian ini dianalisis berdasarkan teori semantik khususnya teori makna konotatif. Hasil penelitian ditemukan 122 data nomina berkonotasi yang terdiri atas 85 data konotasi positif (69,67%) dan 37 data konotasi negatif (30,33%). Pada konotasi positif, penggunaan citraan indra penglihatan paling dominan, yaitu 70 data (82,35%), sedangkan pada konotasi negatif indra penglihatan juga dominan sebanyak 23 data (62,16%). Bentuk atau wujud konotasi positif ditemukan sebanyak 41 data sedangkan bentuk atau wujud konotasi negatifnya sebanyak 27 data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan konotasi positif lebih dominan dibandingkan konotasi negatif, serta lirik lagu Figura Renata cenderung membangun makna melalui citraan visual dan nilai rasa positif. Temuan ini menunjukkan bahwa penggunaan nomina berkonotasi dalam lirik lagu Figura Renata tidak hanya berfungsi sebagai unsur estetis, tetapi juga membangun kedalaman makna dan pesan reflektif.
This study aims to develop interactive media, Ruang Urut Seri (RURI), and to examine its feasibility and practicality as a learning medium for ordering numbers 1 to 10 for students with intellectual disabilities. The gap between the Phase C National Curriculum target requiring students to order numbers up to 100, and the actual condition of students who could only order two numbers within the range 1–10, motivated this study. Numbers 1–10 were chosen because mastery of this range is a prerequisite before students can progress to wider number ranges. RURI was developed using Articulate Storyline 3 through the Research and Development (R&D) method applying Borg and Gall’s model modified into seven stages. The media was validated by a media expert and an intellectual disabilities expert, then trialed with one teacher and two students with mild intellectual disabilities at SLB Peduli Anak Bangsa. Validation results yielded an average of 89.55% (Very Valid), comprising media validation 87.5% and content validation 91.6%. The practicality trial achieved an average of 90.93% (Very Practical). RURI is considered feasible and practical for supporting number ordering learning 1–10 among students with intellectual disabilities, though its effectiveness in improving learning outcomes has yet to be examined.
Penelitian ini bertujuan mengembangkan media interaktif Ruang Urut Seri (RURI) dan menguji kelayakan serta kepraktisannya sebagai media pembelajaran mengurutkan bilangan 1 sampai dengan 10 bagi peserta didik disabilitas intelektual. Kesenjangan antara capaian pembelajaran Fase C yang menargetkan kemampuan mengurutkan bilangan 1–100 dengan kondisi nyata peserta didik yang baru mampu mengurutkan dua bilangan dalam rentang 1–10 melatarbelakangi penelitian ini. Bilangan 1–10 dipilih karena merupakan kemampuan prasyarat sebelum peserta didik dapat beralih ke rentang bilangan yang lebih luas. RURI dikembangkan menggunakan software Articulate Storyline 3 melalui metode Research and Development (R&D) model Borg and Gall yang dimodifikasi menjadi tujuh tahap. Media divalidasi oleh ahli media dan ahli bidang disabilitas intelektual, serta diujicobakan kepada satu guru dan dua peserta didik disabilitas intelektual ringan di SLB Peduli Anak Bangsa. Hasil validasi mencapai rata-rata 89,55% (Sangat Valid), terdiri dari validasi media 87,5% dan validasi materi 91,6%. Hasil uji coba kepraktisan mencapai rata-rata 90,93% (Sangat Praktis). Media RURI dinilai layak dan praktis digunakan untuk mendukung pembelajaran mengurutkan bilangan 1–10 bagi peserta didik disabilitas intelektual, namun belum menguji efektivitasnya terhadap peningkatan hasil belajar.
Early reading is an important basic skill for students, including for students with mild intellectual disabilities. Students with mild intellectual disabilities often experience difficulties in combining syllables into whole words. This study aims to determine the effectiveness of using the Secil application media in improving early reading skills, especially reading simple two-syllable words with a CV-CVC pattern. This study uses a quantitative method with an experimental approach in the form of Single Subject Research (SSR) with an A-B-A design, which consists of an initial baseline condition (A1), an intervention condition (B), and a final baseline condition (A2). Data analysis used is visual graphic analysis. The subjects of the study were fifth-grade students with mild intellectual disabilities at SLB Peduli Anak Bangsa Payakumbuh. The results showed that the observation of the initial baseline condition (A1) was carried out for three meetings with a percentage of 30%, 30%, 30%. The observation of the intervention condition (B) was carried out for seven meetings with a percentage of 70%, 80%, 90%, 90%, 90%, 90%. The final observation was based on baseline conditions (A2) with percentages of 100%, 100%, and 100%. It can be concluded that the use of the Secil application media can improve early reading skills, especially reading simple two-syllable words with a CV-VC pattern in students with mild intellectual disabilities.
Membaca permulaan merupakan kemampuan dasar yang penting bagi siswa, termasuk bagi siswa disabilitas intelektual ringan. Siswa disabilitas intelektual ringan sering mengalami hambatan dalam menggabungkan suku kata menjadi kata utuh. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas penggunaan media aplikasi Secil dalam meningkatkan kemampuan membaca permulaan khususnya membaca kata sederhana dua suku kata berpola KV-KV. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan eksperimen berbentuk Single Subjcet Research (SSR) dengan desain A-B-A, yang terdiri dari kondisi baseline awal (A1), kondisi intervensi (B), dan kondisi baseline akhir (A2). Analisis data yang digunakan yaitu analisis visual grafis. Subjek penelitian adalah siswa disabilitas intelektual ringan kelas V di SLB peduli Anak Bangsa Payakumbuh. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada pengamatan kondisi baseline awal (A1) yang dilakukan selama tiga kali pertemuan dengan persentase yaitu 30%, 30%, 30%. Pada pengamatan kondisi intervensi (B) dilakukan selama tujuh kali pertemuan dengan persentase 70%, 80%, 90%, 90%, 90%, 90%, 90%. Terakhir pengamatan pada kondisi baseline (A2) dengan persentase 100%, 100%, 100%. Maka dapat disimpulkan bahwa penggunaan media aplikasi Secil dapat meningkatkan kemampuan membaca permulaan khususnya membaca kata sederhana dua suku kata berpola KV-KV pada siswa disabilitas intelektual ringan.
Recognizing vowels is something that is very important for all students to master, including students with hearing disabilities. This research is motivated by the presence of a student with hearing impairment and is in grade III of SLB Negeri 1 Payakumbuh who has not been able to recognize vowels well. This study aims to see whether the Marbel Reading Application is able to help the student to improve his ability to recognize vowels. This study uses an experimental approach in the form of Single Subject Research (SSR) with an A B A design, which is divided into three phases: initial observation (A1) for 3 sessions, treatment (B) for 7 sessions, and final observation (A2) for 3 sessions. Data collection was carried out through a vowel recognition test consisting of 20 questions, then analyzed visually through graphs. The research findings show that in phase (A1) the student's ability was at 35%, then increased to 90% in the intervention phase, and remained high at 85% in phase A2. This proves that the Marbel Reading Application is proven to be effective in helping students with hearing disabilities to recognize vowels.
Mengenali huruf vokal merupakan hal yang sangat perlu dikuasai oleh semua siswa, termasuk bagi siswa disabilitas rungu. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh adanya seorang siswa yang mengalami gangguan pendengaran dan duduk di kelas III SLB Negeri 1 Payakumbuh yang belum mampu mengenali huruf vokal dengan baik. Penelitian ini bertujuan untuk melihat apakah Aplikasi Marbel Membaca mampu membantu siswa tersebut untuk meningkatkan kemampuannya dalam mengenali huruf vokal. Penelitian ini menggunakan pendekatan eksperimen berbentuk Single Subject Research (SSR) dengan desain A B A, yang dibagi ke dalam tiga fase yaitu pengamatan awal (A1) selama 3 sesi, pemberian perlakuan (B) selama 7 sesi, dan pengamatan akhir (A2) selama 3 sesi. Pengumpulan data dilakukan melalui tes mengenal huruf vokal yang terdiri dari 20 butir soal, lalu dianalisis secara visual melalui grafik. Temuan penelitian memperlihatkan bahwa fase (A1) kemampuan siswa berada di angka 35%, kemudian meningkat menjadi 90% pada fase intervensi, dan tetap tinggi di 85% pada fase A2. Hal ini membuktikan bahwa Aplikasi Marbel Membaca terbukti efektif dalam membantu siswa disabilitas rungu untuk mnegenali huruf vokal.
Volcanic events are rarely understood solely as geophysical phenomena; instead, they are articulated through mythological narratives that encode collective ecological experiences. This study examines how oral tradition functions as a medium for transmitting volcanic knowledge among communities living on the slopes of Mount Kelud, East Java, Indonesia. Utilizing a descriptive qualitative approach, in-depth interviews were conducted with community elders and local knowledge keepers selected through purposive sampling. The findings reveal three interconnected dynamics: oral narratives contain sophisticated pre-scientific indicators of volcanic activity sulfur odors as early warning proxies, changes in animal behavior as ecological signals, and sacred spatial prohibitions as risk zone demarcations; traumatic eruption experiences are continuously reconstructed into symbolic narratives through social interaction, forming a living collective memory that serves as cross-generational risk education; and this transmission chain is becoming increasingly fragile under the pressures of digital culture and the epistemological authority of modern volcanology. This study argues that oral tradition constitutes a legitimate epistemological system that complements, rather than refutes, scientific hazard management.
Peristiwa vulkanik jarang dipahami semata-mata sebagai fenomena geofisika, ia diartikulasikan melalui narasi mitologis yang mengodekan pengalaman ekologis kolektif. Penelitian ini mengkaji bagaimana tradisi lisan berfungsi sebagai medium transmisi pengetahuan vulkanik pada komunitas yang tinggal di lereng Gunung Kelud, Jawa Timur, Indonesia. Menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, wawancara mendalam dengan sesepuh komunitas dan penjaga pengetahuan lokal yang dipilih melalui purposive sampling. Temuan menunjukkan tiga dinamika yang saling terkait narasi lisan mengandung indikator pra-ilmiah yang canggih tentang aktivitas vulkanik bau belerang sebagai proksi peringatan dini, perubahan perilaku hewan sebagai sinyal ekologis, dan larangan spasial sakral sebagai demarkasi zona risiko, pengalaman traumatik erupsi terus direkonstruksi menjadi narasi simbolik melalui interaksi sosial, membentuk memori kolektif yang hidup dan berfungsi sebagai pendidikan risiko lintas generasi dan rantai transmisi ini semakin rapuh di bawah tekanan budaya digital dan otoritas epistemologis vulkanologi modern. Penelitian ini berargumen bahwa tradisi lisan merupakan sistem epistemologis yang sah yang melengkapi, bukan menyangkal, manajemen bahaya ilmiah.
This study aims to analyse the text of the newspaper article ‘The PKI’s Current Assessment of the Centrists’ by Soe Hok Gie using Jürgen Habermas’s theory of intellectual criticism. The method employed is historical research using a qualitative approach. The research findings indicate that Gie’s criticism represents a communicative act that upholds the rational public sphere amidst the dominance of the Guided Democracy ideology, through three dimensions: substantive criticism of the PKI’s discourse monopoly, the use of Mingguan Mahasiswa Indonesia as an alternative channel, and the state’s response in the form of political polarisation that curtails intellectual freedom. Gie’s writings demonstrate that the colonisation of the public sphere during the Guided Democracy era was institutionalised through regulations that systematically reduced intellectual pluralism.
Penelitian ini bertujuan menganalisis teks artikel koran "Penilaian PKI Sekarang terhadap Kaum Tengah" karya Soe Hok Gie menggunakan teori kritik intelektual Jurgen Habermas. Metode yang digunakan adalah metode penelitian sejarah dengan pendekatan kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kritik Gie merepresentasikan tindakan komunikatif yang mempertahankan ruang publik rasional di tengah dominasi ideologi Demokrasi Terpimpin, melalui tiga dimensi: kritik substantif terhadap monopoli wacana PKI, penggunaan Mingguan Mahasiswa Indonesia sebagai saluran alternatif, serta respons negara berupa polarisasi politik yang mengekang kebebasan intelektual. Tulisan Gie membuktikan bahwa kolonisasi ruang publik pada era Demokrasi Terpimpin dilembagakan melalui regulasi yang secara sistemis mereduksi pluralisme intelektual.
Lyrics containing sexual, drug-related, and violent content are widely consumed by teenagers as background music for dancing and memes without adequate semantic understanding. This study aims to analyze the pragmatic-cognitive mechanisms at work in the consumption of such problematic lyrics, using four viral songs as case studies. The method used is a qualitative pragmatic-cognitive analysis based on Relevance Theory, cognitive schema theory, and media cultivation theory. The analysis focuses on identifying illocutionary acts, conversational implicatures, presuppositions, and mapping the patterns of adolescents’ cognitive processing. The research findings reveal two dominant cognitive patterns: the “Ignorant Pattern,” in which adolescents consume lyrics without decoding problematic meanings due to a lack of relevant cognitive schemas; and the “Deliberate Framing Pattern,” in which adolescents are aware of the problematic meanings but reframe them within a context of humor or social irony. This study introduces the concept of an “algorithmic vacuum of meaning.” These findings extend media cultivation theory to the context of fragmented algorithmic consumption and provide a foundation for the development of a differential media literacy model for short-form video platforms.
Lirik bermuatan seksual, narkoba, dan kekerasan dikonsumsi secara masif oleh remaja sebagai backsound tarian dan meme tanpa pemahaman semantik yang memadai. Penelitian ini bertujuan menganalisis mekanisme pragmatik-kognitif yang bekerja dalam proses konsumsi lirik bermasalah tersebut, dengan studi kasus empat lagu viral. Metode yang digunakan adalah analisis pragmatik-kognitif kualitatif berbasis Relevance Theory, teori skema kognitif, dan teori kultivasi media. Analisis difokuskan pada identifikasi tindak tutur ilokusioner, implikatur konversasional, presuposisi, serta pemetaan pola pemrosesan kognitif remaja. Hasil penelitian mengungkap dua pola kognitif dominan: Pola Ignorant, di mana remaja mengonsumsi lirik tanpa mendekode makna bermasalah karena minimnya skema kognitif yang relevan; serta Pola Deliberate Framing, di mana remaja menyadari makna bermasalah namun mengemas ulangnya dalam bingkai humor atau ironi sosial. Penelitian ini memperkenalkan konsep vacuum of meaning algoritmik. Temuan ini memperluas teori kultivasi media ke konteks konsumsi algoritmik terfragmentasi dan memberikan landasan bagi pengembangan model literasi media yang diferensial untuk platform video pendek.
This study examines the intertextual relationship between the lyrics of the song “Sedia Aku Sebelum Hujan” by Idgitaf and verses from the Qur’an using Julia Kristeva’s theory of intertextuality. The primary objective of this study is to uncover the forms and meanings of intertextuality that emerge in the song’s lyrics. The study employs a descriptive qualitative method, with data sources consisting of the song lyrics as primary data, as well as verses from the Qur’an and scholarly references as secondary data. Data were collected through documentary analysis and analyzed by identifying forms of intertextuality, such as allusion, transformation, and symbolization. The results of the study indicate that the song lyrics are semantically linked to a number of Qur’anic verses that convey the values of protection, assistance, forgiveness, and compassion. The intertextuality identified takes the form of the transformation of religious values into the context of interpersonal relationships. Thus, the song represents the actualization of Qur’anic values in everyday life.
Penelitian ini mengkaji hubungan intertekstual antara lirik lagu Sedia Aku Sebelum Hujan karya Idgitaf dan ayat-ayat Al-Qur’an menggunakan teori intertekstualitas Julia Kristeva. Tujuan utama penelitian adalah mengungkap bentuk dan makna intertekstualitas yang muncul dalam lirik lagu tersebut. Penelitian menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan sumber data berupa lirik lagu sebagai data primer serta ayat-ayat Al-Qur’an dan referensi ilmiah sebagai data sekunder. Data dikumpulkan melalui studi dokumentasi dan dianalisis dengan mengidentifikasi bentuk-bentuk intertekstualitas, seperti alusi, transformasi, dan simbolisasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lirik lagu memiliki keterkaitan makna dengan sejumlah ayat Al-Qur’an yang mengandung nilai perlindungan, pertolongan, pengampunan, dan kasih sayang. Intertekstualitas yang ditemukan berupa transformasi nilai-nilai religius ke dalam konteks hubungan antarmanusia. Dengan demikian, lagu tersebut merepresentasikan aktualisasi nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.
This study aims to identify forms of hate speech by netizens in the comment section of the official Instagram account of Indonesian President @prabowo and to analyze the legal implications of such hate speech based on the Criminal Code (KUHP) and the Electronic Information and Transactions Law (UU ITE). A mixed methods approach with a case study design was applied. Data consisted of 500 comments from five posts uploaded between August 27 – September 2, 2025, coinciding with a national demonstration. The study found 911 instances of hate speech in six categories: insult (313 data; 62.6%), unpleasant conduct (145 data; 29%), defamation (193 data; 38.6%), vilification (131 data; 26.2%), provocation (77 data; 15.4%), and incitement (52 data; 10.4%). Each form potentially violates relevant articles in the New Criminal Code and UU ITE.
Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi bentuk-bentuk ujaran kebencian warganet pada kolom komentar akun Instagram resmi Presiden Indonesia @prabowo serta menganalisis dampak ujaran kebencian tersebut dalam perspektif hukum berdasarkan KUHP dan UU ITE. Metode yang digunakan adalah campuran (mixed method) dengan studi kasus. Data berjumlah 500 komentar dari lima unggahan pada rentang 27 Agustus – 2 September 2025 yang berkaitan dengan demonstrasi nasional. Hasil penelitian menemukan 911 data ujaran kebencian dengan enam bentuk: penghinaan (313 data; 62,6%), perbuatan tidak menyenangkan (145 data; 29%), pencemaran nama baik (193 data; 38,6%), penistaan (131 data; 26,2%), provokasi (77 data; 15,4%), dan menghasut (52 data; 10,4%). Setiap bentuk ujaran kebencian berpotensi melanggar pasal-pasal dalam KUHP Baru dan UU ITE.
This study aims to classify the violations of language politeness principles and describe the causal factors in the comment section of the @jokowi Instagram account. This study employed a descriptive qualitative method with observation and note-taking techniques, in which data were collected from netizens' comments on posts uploaded to the @jokowi Instagram account during the period of April–May 2025. The results show that 146 utterances violated the language politeness principles based on Leech's theory (2015), covering the maxims of tact (29 data), generosity (13 data), approbation (72 data), modesty (8 data), agreement (10 data), and sympathy (14 data), with violations of the approbation maxim being the most dominant. Meanwhile, the most dominant causal factor based on Pranowo's theory (2012) was direct criticism using rude words or phrases (55 data). These findings indicate that social media comment sections often serve as a space for impolite expression without regard for the principles of language politeness.
Penelitian ini bertujuan untuk mengklasifikasikan pelanggaran prinsip kesantunan berbahasa dan mendeskripsikan faktor penyebabnya pada kolom komentar akun Instagram @jokowi. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan teknik simak dan catat. Data dikumpulkan dari komentar warganet pada postingan akun Instagram @jokowi periode April–Mei 2025. Hasil penelitian menunjukkan ditemukan 146 tuturan yang melanggar prinsip kesantunan berbahasa berdasarkan teori Leech (2015), mencakup maksim kearifan (tact maxim) (29 data), kedermawanan (generosity maxim) (13 data), pujian (approbation maxim) (72 data), kerendahan hati (modesty maxim) (8 data), kesepakatan (agreement maxim) (10 data), dan simpati (sympathy maxim) (14 data), dengan pelanggaran maksim pujian sebagai yang paling dominan. Adapun faktor penyebab pelanggaran berdasarkan teori Pranowo (2012) yang paling dominan adalah kritik secara langsung dengan kata atau frasa kasar (55 data). Temuan ini menunjukkan bahwa kolom komentar media sosial kerap menjadi wadah ekspresi ketidaksantunan tanpa mempertimbangkan prinsip kesantunan berbahasa.
Local wisdom-based character education is crucial in facing the challenges of globalization, which have the potential to erode students' moral values and cultural identity. This study aims to describe the use of local wisdom, tuping, in learning as a medium for character education for students in secondary schools. This topic was chosen because tuping, as a cultural heritage of Lampung, contains religious, moral, social, and ethical values relevant to the objectives of character education. The study used a qualitative approach with a descriptive qualitative type. Data were collected through learning observations, in-depth interviews with teachers and students, and documentation studies at a secondary school in Lampung Province. The results showed that the use of tuping in learning was carried out through the stages of introducing the cultural context, discussing symbolic meanings, analyzing cultural values, exploring character values, reflective discussions, and internalizing values through reflection tasks and simple social practices.Tuping-based learning has been proven to develop religious, moral, social, ethical, responsibility, cooperation, and respect for local culture values in students. These findings confirm that the local wisdom of tuping plays a strategic role as an effective contextual learning medium for strengthening character education in secondary schools.
Pendidikan karakter berbasis kearifan lokal menjadi penting dalam menghadapi tantangan globalisasi yang berpotensi mengikis nilai moral dan identitas budaya peserta didik. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pemanfaatan kearifan lokal tuping dalam pembelajaran sebagai media pendidikan nilai karakter peserta didik di sekolah menengah. Topik ini dipilih karena tuping sebagai warisan budaya Lampung mengandung nilai religius, moral, sosial, serta etika yang relevan dengan tujuan pendidikan karakter. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis deskriptif kualitatif. Data dikumpulkan melalui observasi pembelajaran, wawancara mendalam dengan guru dan peserta didik, serta studi dokumentasi di SMA N 2 Kalianda Provinsi Lampung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemanfaatan tuping dalam pembelajaran dilakukan melalui tahapan pengenalan konteks budaya, diskusi makna simbolik, analisis nilai budaya, eksplorasi nilai karakter, diskusi reflektif, dan internalisasi nilai melalui tugas refleksi serta praktik sosial sederhana. Pembelajaran berbasis tuping terbukti mampu mengembangkan nilai religius, moral, sosial, etika, tanggung jawab, kerja sama, dan sikap menghargai budaya lokal pada peserta didik. Temuan ini menegaskan bahwa kearifan lokal tuping memiliki peran strategis sebagai media pembelajaran kontekstual yang efektif dalam penguatan pendidikan karakter di sekolah menengah.
society, as depicted in Indonesian cinema. It aims to deeply examine and analyze the "persona" archetypes of characters in the film Imperfect: Karier, Cinta & Timbangan (Imperfect: Career, Love & Scales) by Ernest Prakasa, utilizing Carl Gustav Jung’s theory of literary psychology. The study focuses on the protagonist, Rara, and supporting characters such as Dika and Lulu, analyzing how their characterization and the story's conflict dynamics reflect the pressures exerted by their social environment. The research employs a descriptive qualitative design, integrating a literature review approach with comprehensive "listen-and-note" techniques applied to specific scenes and character dialogue. The analysis identified four distinct forms of persona masks: an "angry" persona (4 instances), a "caring" persona (2 instances), a "seemingly fine" persona (3 instances), and a "disappointed" persona (1 instance). The findings demonstrate that the formation of these four persona types is driven by factors such as past trauma, stigma, environmental influences, parenting styles, and internal psychological conflict. These social masks exert significant emotional pressure and impact the harmony of interpersonal relationships among the characters. Ultimately, this study offers comprehensive theoretical and conceptual insights into the application of the persona concept in an audiovisual work, while also contributing to the reader's psychological understanding of the importance of total self-acceptance.
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh maraknya fenomena diskriminasi fisik atau tindakan body shaming di lingkungan sosial masyarakat modern yang direpresentasikan melalui media sinema Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk membongkar secara dalam dan menganalisis wujud arketipe persona tokoh yang terdapat dalam film Imperfect: Karier, Cinta & Timbangan karya Ernest Prakasa memanfaatkan landasan teori psikologi sastra dari Carl Gustav Jung. Tokoh utama seperti Rara, dan tokoh pendukung seperti Dika dan Lulu, dijadikan pusat perhatian dalam kajian ini guna menelaah bagaimana model penokohan dan jalinan konflik cerita yang merepresentasikan beban tekanan dari lingkungan sekitar. Rancangan riset ini berstandar penuh pada metode kualitatif deskriptif yang dipadukan bersama pendekatan studi kepustakaan serta teknik simak dan catat terhadap fragmen adegan maupun dialog para tokoh secara komprehensif. Berdasarkan tahapan analisis yang dilakukan, diperoleh total 6 pertemuan data sahih yang mengidentifikasi empat wujud topeng persona, yaitu meliputi manifestasi persona marah sebanyak 4 data, persona peduli sebanyak 2 data, persona selalu terlihat baik-baik saja sebanyak 3 data, dan persona kecewa sebanyak 1 kata. Hasil riset membuktikan bahwa proses pembentukan keempat jenis persona tersebut didorong kuat oleh faktor trauma masa lalu, akibat stigma, pengaruh lingkungan, serta pola asuh orang tua, hingga pergolakan konflik batin individu. Berbagai wujud topeng sosial ini memberikan dampak signifikan berupa tekanan emosional yang masif sekaligus memengaruhi keharmonisan relasi interpersonal antartokoh dalam cerita. Melalui perolehan hasil tersebut, kajian ini menyuguhkan wawasan teoritis serta konseptual yang lebih komprehensif mengenai implementasi konsep persona pada sebuah karya audio-visual, sekaligus memberikan kontribusi praktis bagi pemahaman psikologis pembaca mengenai pentingnya penerimaan diri secara utuh.
For This study aims to analyze the role of the “I” character’s ego as the agent of aggressive impulses and to identify the forms of ego defense mechanisms used to maintain psychological stability in Budi Darma’s short story Keluarga M. The research method employed is qualitative descriptive, using a literary psychology approach grounded in Sigmund Freud’s psychoanalytic theory. The results of the study reveal massive ego dysfunction in the first half of the story, where the ego of the “I” character aligns with the id’s aggressive impulses to orchestrate destructive sabotage as a result of external frustration. However, the momentum of a tragic accident serves as a psychological turning point for the character. The ego mitigates this anxiety through defense mechanisms, including rationalization, repression, isolation of effects, dissociation, reaction formation, and social sublimation in the form of disability advocacy. In conclusion, the “I” character’s ego ultimately succeeds in achieving a complete psychological reconstruction, thereby reaching a new, rational state of equilibrium (homeostasis) in accepting his existential solitude by the story’s end. At the same time, this reveals the dark defensive tactics of the ego in Budi Darma’s fiction.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran ego tokoh “Saya” sebagai pelaksana dominasi dorongan agresi serta mengidentifikasi bentuk mekanisme pertahanan ego yang digunakan untuk menjaga kestabilan psikis dalam cerpen Keluarga M karya Budi Darma. Metode penelitian menggunakan adalah deskriptif kualitatif dengan pendekatan psikologi sastra berlandaskan teori psikoanalisis Sigmund Freud. Hasil penelitian menunjukan disfungsi ego yang masif pada paruh awal cerita, dimana ego tokoh “Saya” bersekutu dengan dorongan agresi id untuk merancang sabotase destruktif akibat frustasi eksternal. Namun, momentum kecelakaan tragis menjadi titik balik kejiwaan tokoh. Kecemasan tersebut diredam ego melalui mekanisme pertahanan diri (self-defense mechanism), meliputi rasionalisasi, represi, isolasi efek, disosiasi, reaction formation, hingga sublimasi sosial berupa advokasi disabilitas. Kesimpulannya, ego tokoh “Saya” pada akhirnya berhasil melakukan rekonstruksi kejiwaan secara utuh sehingga mencapai titik keseimbangan baru (homeostasis) yang rasional dalam menerima kesendirian eksistensialnya di akhir cerita. Sekaligus membongkar taktik pertahanan ego yang kelam dalam fiksi Budi Darma.
Currently, many fresh graduates are still struggling to find employment. The majority of applicants are only able to submit and deliver their application letters without receiving any interview calls. One of the factors that cause job applications to fail is the inability to attract recruiters' attention through effective personal selling and branding. These problems include the use of , disorganized application letter formats, and CVs that do not adequately represent the job seeker's personal branding. The problem faced by students is their inability to write effective job application letters. This study aims to describe one solution to improve job application letter writing skills using the Project-based learning method with the assistance of the LinkedIn application. This study will integrate the Project-based learning method with LinkedIn.
Saat ini masih banyak Fresh graduate yang kesulitan dalam mencari pekerjaan. Mayoritas para pelamar hanya mampu memberikan dan mengantarkan surat lamaran tanpa mendapatkan panggilan wawancara. Salah satu faktor yang menyebabkan lamaran kerja tidak berhasil adalah kegagalan untuk menarik perhatian perekrut melalui personal selling dan branding yang efektif. Masalah-masalah ini termasuk penggunaan bahasa yang buruk, format surat lamaran yang tidak teratur, dan CV yang tidak cukup mewakili personal branding pencari kerja. Permasalahan yang terjadi pada siswa adalah ketidak mampuan dalam menyusun surat lamaran kerja yang efektif. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan salah satu solusi untuk meningkatkan keterampilan menulis surat lamaran kerja dengan menggunakan metode pembelajaran Project-based learning dengan bantuan aplikasi Linkendln. Penelitian ini akan mengintegrasikan metode pembelajaran Project-based learning dengan Linkendln.
This study aims to analyze the adjectives used in the short story collection Rumah Ibu by Harris Effendi Thahar, focusing on two main areas: (1) the forms of adjectives utilized, and (2) the degrees of adjectives employed to describe the quality or intensity of a trait. The research employs a qualitative descriptive method using the teknik simak bebas libat cakap (non-participatory observation technique). Data were collected from sentences containing adjectival forms and degrees found within the collection. The results reveal 303 data points categorized according to Kridalaksana’s (1994) theory, comprising basic adjectives (246 data), derivative adjectives (51 data), and compound adjectives (6 data), with basic adjectives being the most dominant. Regarding the degrees of adjectives, also based on Kridalaksana’s (1994) theory, the positive degree is the most prevalent (268 data). These findings suggest that the author avoids hyperbole to ensure that the quality of the characters and the atmosphere remain authentic and sincere.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis ajektiva dalam kumpulan cerpen Rumah Ibu karya Harris Effendi thahar yang meliputi dua fokus utama: (1) bentuk ajektiva yang digunakan dalam kumpulan cerpen Rumah Ibu, dan (2) tingkatan ajektiva yang digunakan dalam kumpulan cerpen Rumah Ibu untuk menggambarkan kualitas atau intensitas suatu sifat. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan teknik simak bebas libat cakap. Data dikumpulkan dari kalimat yang mengandung bentuk dan tingkatan ajektiva yang bersumber dari Kumpulan cerpen Rumah Ibu karya Harris Effendi Thahar. Hasil penelitian menunjukkan ditemukan 303 data yang termasuk dalam bentuk dan tingkatan ajektiva berdasarkan teori Kridalaksana (1994), mencakup ajektiva dasar (246 data), ajektiva turunan (51 data), dan ajektiva majemuk (6 data), dengan ajektiva dasar yang paling dominan. Adapun tingkatan ajektiva berdasarkan teori Kridalaksana (1994) yang paling dominan adalah tingkatan positif (268 data). Temuan ini menunjukkan bahwa penulis menghindari hiperbola agar kualitas karakter dan suasana tetap jujur dan asli.
The ability to independently put on a square headscarf is a daily living skill that needs to be developed by students with moderate intellectual disabilities to support their self-care capabilities. This study aimed to describe the improvement in independence regarding putting on a square headscarf through the use of video tutorials for a 7th-grade student with a moderate intellectual disability at SLB Negeri 1 Ranah Pesisir, who initially required assistance to perform each step of the process sequentially and correctly. A quantitative approach was employed using a Single-Subject Research (SSR) experimental method with an A-B design. Data were collected through documentation, observation, and performance tests, then processed and analyzed using graph-assisted visual analysis techniques. The results showed that during the baseline condition (A), scores of 33%, 40%, and 40% were obtained, whereas in the intervention phase (B), scores increased to 46%, 53%, 60%, 73%, 86%, 86%, and 86%. These results indicate a gradual improvement following the intervention using video tutorials. This is evident from the student's ability, which initially ranged from 33% to 40% and subsequently rose to 86% during the intervention. The consistent score of 86% over the final three sessions indicates that the student's ability had stabilized and that they were capable of performing almost all steps of putting on the square headscarf independently. These findings demonstrate that the use of video tutorials can support the improvement of student independence in learning the skill of putting on a square headscarf in a gradual manner.
Kemamdirian memasang jilbab segi empat merupakan aspek kemampuan hidup sehari-hari yang perlu dikembangkan oleh murid disabilitas intelektual sedang untuk mendukung kemampuan mengurus diri dalam kehidupan sehari-hari. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan peningkatkan kemandirian memasang jilbab segi empat melalui penggunaan video tutorial pada seorang murid disabilitas intelektual sedang kelas VII di SLB Negeri 1 Ranah Pesisir yang masih memerlukan bantuan dalam melakukan setiap tahapan pemasangan secara berurutan dan benar . Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini ialah pendekatan kuantitatif dengan metode eksperimen single subject research (SSR) berdesain A-B. Data penelitian dihimpun melalui dokumentasi, observasi, dan tes perbuatan, kemudian diolah dan dianalisis dengan teknik analisis visual berbantuan grafik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi baseline (A) diperoleh nilai 33%, 40%, dan 40%, dan pada fase intervensi (B) meningkat menjadi 46%, 53%, 60%, 73%, 86%, 86%, dan 86%. Berdasarkan hasil tersebut, mengalami peningkatan secara bertahap setelah diberikan intervensi menggunakan video tutorial. Hal ini terlihat dari kemampuan murid yang pada awalnya hanya berada pada rentang 33%-40%, kemudian meningkatkan hingga mencapai 86% pada intervensi. Persentase yang tetap mencapai 86% selama tiga pertemuan terakhir menunjukkan bahwa kemampuan murid sudah stabil dan mampu melakukan hampir seluruh tahapan memasang jilbab segi empat secara mandiri. Temuan ini menunjukkan bahwa penggunaan video tutorial dapat mendukung peningkatan kemandirian murid dalam mempelajari keterampilan memasang jilbab segi empat secara bertahap.
This study aimed to improve the subtraction skills of a sixth-grade student with a mild intellectual disability at SLBN 1 Payakumbuh in solving two-digit subtraction problems requiring the borrowing technique, utilizing "intelligence sticks" as a learning aid. The study was motivated by the student's limited ability to solve subtraction problems involving numbers up to 50 that required borrowing. A Single-Subject Research (SSR) method with an A-B design was employed; the baseline condition spanned three sessions, while the intervention condition lasted seven sessions. Data were subsequently analyzed using visual graphic analysis. The results demonstrated an improvement in the student's subtraction skills following the intervention with intelligence sticks, rising from a stable baseline of 42% to 88% by the end of the intervention phase. These findings indicate that students with mild intellectual disabilities benefit from learning experiences that are concrete, visual, repetitive, and participatory. Intelligence sticks can be considered an appropriate learning tool to support the teaching of subtraction with borrowing for students with mild intellectual disabilities. However, as this study involved only a single student, the findings cannot be generalized to the entire population of students with mild intellectual disabilities.
Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan kemampuan pengurangan murid kelas VI dengan disabilitas intelektual ringan di SLBN 1 Payakumbuh dalam menyelesaikan soal pengurangan dua angka yang melibatkan teknik meminjam melalui penerapan media pembelajaran berupa intelligence stick (tongkat kecerdasan). Penelitian ini dilatarbelakangi oleh keterbatasan kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal pengurangan angka hingga 50 yang memerlukan teknik meminjam. Penelitian ini menggunakan metode penelitian single subject research (SSR) dengan desain A-B. kondisi baseline dilaksanakan selama tiga sesi, sedangkan kondisi intervensi dilaksanakan selama tujuh sesi. Selanjutnya, data dianalisis menggunakan analisis visual grafik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan pengurangan murid meningkat setelah intervensi menggunakan intelligence stick, dari kondisi baseline yang stabil di angka 42% menjadi 88% pada akhir fase intervensi. Hasil ini mengindikasikan bahwa murid dengan disabilitas intelektual ringan memperoleh manfaat dari pengalaman belajar yang bersifat konkret, visual, repetitive, dan partisipatif. Intelligence stick dapat dianggap sebagai alat bantu pembelajaran yang tepat untuk mendukung materi pengurangan dengan teknik meminjam bagi murid dengan disabilitas intelektual ringan. Namun, dikarenakan penelitian ini hanya melibatkan satu murid, akibatnya temuan penelitian ini tidak dapat digeneralisasikan ke seluruh populasi siswa dengan disabilitas intelektual ringan.
Google Scholar
Garuda
Sinta








