JURNAL SELAKSA MAKNA

Jurnal Selaksa Makna merupakan wadah ilmiah yang khusus menyajikan hasil kajian koseptual/teoretis dan penelitian bidang pendidikan, bahasa, sastra, dan pembelajaran. Jurnal Selaksa Makna terbit empat kali dalam satu tahun, pada bulan Februari, Mei, Agustus, dan November. Jurnal Selaksa Makna diterbitkan oleh FKIP Universitas Lampung, melalui Program Studi Pendidikan Bahasa Lampung.

Readmore

Jurnal Selaksa Makna merupakan wadah ilmiah yang khusus menyajikan hasil kajian koseptual/teoretis dan penelitian bidang pendidikan, bahasa, sastra, dan pembelajaran. Jurnal Selaksa Makna terbit empat kali dalam satu tahun, pada bulan Februari, Mei, Agustus, dan November. Jurnal Selaksa Makna diterbitkan oleh FKIP Universitas Lampung, melalui Program Studi Pendidikan Bahasa Lampung.

Diterbitkan
2026-05-06

Articles

ANALISIS NILAI KARAKTER DALAM KOMIK BOULE & BILL CRÉENT UNE ENTREPRISE!

This study aims to identify and analyze the character values embedded in the comic Boule & Bill Créent une Entreprise! by Jean Roba, and to map their correlation with the character pillars of Universitas Negeri Semarang (UNNES). A descriptive qualitative approach with content analysis method was employed. Data were collected through close reading of the comic's narratives, dialogues, character expressions, and visual illustrations. The analytical instrument was developed based on the 18 character values established by the Indonesian Ministry of Education and Culture (Kemendikbud) and the five UNNES character pillars, namely religiosity, nationalism, integrity, independence, and responsibility. The findings reveal ninecharacter values present in the comic: humanist, innovative, creative, sportsmanlike, courageous, friendship and solidarity, wisdom and intelligence, empathy and care, and adventurous spirit. The value of creativity emerged as the most dominant, followed by wisdom and intelligence. These findings demonstrate that comics serve not merely as entertainment media but also as an effective vehicle for character education, aligned with UNNES's educational vision, and holding significant potential as a moral learning medium for children and adolescents. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis nilai-nilai karakter yang terkandung dalam komik Boule & Bill Créent une Entreprise! karya Jean Roba, serta memetakan korelasinya dengan pilar-pilar karakter Universitas Negeri Semarang (UNNES). Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode analisis isi (content analysis). Data dikumpulkan melalui pembacaan intensif (close reading) terhadap narasi, dialog, ekspresi tokoh, dan ilustrasi visual dalam komik. Instrumen analisis disusun berdasarkan indikator 18 nilai karakter menurut Kemendikbud dan lima pilar karakter UNNES, yaitu religiusitas, nasionalisme, integritas, mandiri, dan tanggung jawab. Hasil penelitian menemukan sembilan nilai karakter yang muncul dalam komik, yaitu: humanis, inovatif, kreatif, sportif, keberanian, persahabatan dan solidaritas, kebijaksanaan dan kecerdasan, empati dan kepedulian, serta semangat petualang. Nilai kreatif merupakan nilai yang paling dominan dengan frekuensi kemunculan tertinggi, diikuti oleh nilai kebijaksanaan dan kecerdasan. Temuan ini menunjukkan bahwa komik tidak hanya berfungsi sebagai media hiburan, tetapi juga sebagai sarana pendidikan karakter yang efektif, relevan dengan visi pendidikan karakter UNNES, dan berpotensi dimanfaatkan sebagai media pembelajaran moral bagi anak-anak dan remaja.

ANALISIS MAKNA DENOTATIF DAN KONOTATIF DALAM PANTUN PENOBATAN GELAR DATUK DI KUANTANSINGINGI: KAJIAN SEMANTIK

Language is the primary means of communication and the transmission of local wisdom, especially in Malay society, which is rich in oral literary traditions such as pantun. The problem of this research is how the denotative and connotative meanings in the pantun for the coronation of the Datuk title in Kuantan Singingi. This study aims to describe and analyze both types of meanings. The method used is descriptive qualitative with data sources in the form of pantun texts resulting from interviews with native Kuantan Singingi residents who understand the traditional procession. Data collection techniques were carried out through interviews, listening, and taking notes, while data analysis used Abdul Chaer's semantic theory which focuses on the relationship between language forms and denotative and connotative meanings. The results of the study show that there are 16 data in eight pantun stanzas consisting of 8 denotative meanings and 8 connotative meanings. This is because each stanza is composed of a sampiran and a fixed pattern of content, where the sampiran describes concrete things that have denotative meanings and the content contains traditional messages that have connotative meanings. This balance occurs because, in the Malay tradition, pantun serves as both a medium for conveying messages and a linguistic aesthetic that demands harmony between form and meaning. This uniqueness lies in the balance between literal and symbolic meaning in each verse of the pantun conferring the title of Datuk in Kuantan Singingi.   Bahasa merupakan sarana utama komunikasi dan pewarisan kearifan lokal, terutama dalam masyarakat Melayu yang kaya akan tradisi sastra lisan seperti pantun. Permasalahan penelitian ini adalah bagaimana makna denotatif dan konotatif dalam pantun penobatan gelar Datuk di Kuantan Singingi. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis kedua jenis makna tersebut. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan sumber data berupa teks pantun hasil wawancara dengan masyarakat asli Kuantan Singingi yang memahami prosesi adat. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, simak, dan catat, sedangkan analisis data menggunakan teori semantik Abdul Chaer yang berfokus pada hubungan bentuk bahasa dengan makna denotatif dan konotatif. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 16 data dalam delapan bait pantun yang terdiri atas 8 makna denotatif dan 8 makna konotatif. Hal ini karena setiap bait tersusun atas sampiran dan isi yang berpola tetap, di mana sampiran menggambarkan hal konkret yang bermakna denotatif dan isi memuat pesan adat yang bermakna konotatif. Keseimbangan ini terjadi karena dalam tradisi Melayu pantun berfungsi sebagai media penyampaian pesan sekaligus estetika bahasa yang menuntut keselarasan bentuk dan makna. Inilah keunikannya, yaitu adanya keseimbangan antara makna literal dan simbolik dalam setiap bait pantun penobatan gelar Datuk di Kuantan Singingi.

Situs Pengindeks