JURNAL SELAKSA MAKNA

Jurnal Selaksa Makna merupakan wadah ilmiah yang khusus menyajikan hasil kajian koseptual/teoretis dan penelitian bidang pendidikan, bahasa, sastra, dan pembelajaran. Jurnal Selaksa Makna terbit empat kali dalam satu tahun, pada bulan Februari, Mei, Agustus, dan November. Jurnal Selaksa Makna diterbitkan oleh FKIP Universitas Lampung, melalui Program Studi Pendidikan Bahasa Lampung.

Readmore

Jurnal Selaksa Makna merupakan wadah ilmiah yang khusus menyajikan hasil kajian koseptual/teoretis dan penelitian bidang pendidikan, bahasa, sastra, dan pembelajaran. Jurnal Selaksa Makna terbit empat kali dalam satu tahun, pada bulan Februari, Mei, Agustus, dan November. Jurnal Selaksa Makna diterbitkan oleh FKIP Universitas Lampung, melalui Program Studi Pendidikan Bahasa Lampung.

Published
2026-08-21

Articles

SISTEM SAPAAN BAHASA MELAYU RIAU DESA MUARO SENTAJO KECAMATAN SENTAJO RAYA KABUPATEN KUANTAN SINGINGI

The greeting system is an important element in communication that reflects social relations, politeness, and the cultural identity of the community. This study aims to describe the forms of greeting systems in Riau Malay used by the people of Muaro Sentajo Village, Sentajo Raya District, Kuantan Singingi Regency, as well as the social factors that influence their use. This study uses a qualitative descriptive method. The research data in the form of speech containing greeting systems obtained through observation, direct interviews, recordings, and notes. The data were analyzed through the stages of transcription, data reduction, data grouping, analysis, and drawing conclusions. The results of the study indicate that the use of greeting systems in the Muaro Sentajo Village community is influenced by five social factors, namely social position or status, gender, age, family relationships, and communication situations. Based on these factors, various forms of greetings were found, such as Abang, Laki, Adiak, Bini, Pak Wali, Panghulu, Tuo Kampuang, Tangganai, Kotik, Induak Somang, Pawang, Datuak, Mondek, Ociak, Ponsu, Pak Tongah, Mak Uwo, Mak Ongah, Mansanak, and other forms of greetings. The research findings show that the greeting system not only functions as a communication tool, but also as a means to show respect, maintain politeness, strengthen social relations, and maintain the cultural identity of the Riau Malay community.   Sistem sapaan merupakan salah satu unsur penting dalam komunikasi yang mencerminkan hubungan sosial, kesantunan berbahasa, dan identitas budaya masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk-bentuk sistem sapaan Bahasa Melayu Riau yang digunakan oleh masyarakat Desa Muaro Sentajo, Kecamatan Sentajo Raya, Kabupaten Kuantan Singingi, serta faktor-faktor sosial yang memengaruhi penggunaannya. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Data penelitian berupa tuturan yang mengandung sistem sapaan yang diperoleh melalui observasi, wawancara langsung, rekaman, dan pencatatan. Data dianalisis melalui tahapan transkripsi, reduksi data, pengelompokan data, analisis, dan penarikan simpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan sistem sapaan dalam masyarakat Desa Muaro Sentajo dipengaruhi oleh lima faktor sosial, yaitu kedudukan atau status sosial, jenis kelamin, usia, hubungan keluarga, dan situasi komunikasi. Berdasarkan faktor-faktor tersebut ditemukan berbagai bentuk sapaan, seperti Abang, Laki, Adiak, Bini, Pak Wali, Panghulu, Tuo Kampuang, Tangganai, Kotik, Induak Somang, Pawang, Datuak, Mondek, Ociak, Ponsu, Pak Tongah, Mak Uwo, Mak Ongah, Mansanak, dan bentuk sapaan lainnya. Temuan penelitian menunjukkan bahwa sistem sapaan tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai sarana untuk menunjukkan penghormatan, menjaga kesantunan, mempererat hubungan sosial, serta mempertahankan identitas budaya masyarakat Melayu Riau.

FENOMENA ALIH KODE DAN CAMPUR KODE PODCAST CINTA LAURA: KAJIAN SOSIOLINGUISTIK

  This study aims to describe the forms of code-switching and code-mixing, the causal factors, and the function of mixed language use in Cinta Laura and Raditya Dika's YouTube podcast based on sociolinguistic studies. The study used a qualitative descriptive method with a listening and note-taking technique on the video "Creative Strategies Departing from Personal Anxiety" on the Paraswara YouTube channel. The results of the study found 137 speech events consisting of 57 code-switching data and 80 code-mixing data, with 10 samples from each form analyzed in more depth. The results show that code-switching and code-mixing are dominated by external forms, in the form of the use of English clauses and the insertion of words, phrases, and hybrid forms in Indonesian speech. This phenomenon is influenced by the speakers' bilingual abilities, the topic of the creative industry, and the function of emphasizing meaning in digital communication.   Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan bentuk alih kode dan campur kode, faktor penyebab, serta fungsi penggunaan bahasa campuran dalam podcast Cinta Laura dan Raditya Dika di YouTube berdasarkan kajian sosiolinguistik. Penelitian menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan teknik simak dan catat pada video “Strategi Kreatif yang Berangkat dari Keresahan Personal” di kanal YouTube Paraswara. Hasil penelitian menemukan 137 peristiwa tutur yang terdiri atas 57 data alih kode dan 80 data campur kode, dengan 10 sampel dari masing-masing bentuk dianalisis lebih mendalam. Hasil menunjukkan bahwa alih kode dan campur kode didominasi bentuk ekstern, berupa penggunaan klausa bahasa Inggris serta penyisipan kata, frasa, dan bentuk hibrida dalam tuturan bahasa Indonesia. Fenomena ini dipengaruhi kemampuan bilingual penutur, topik industri kreatif, dan fungsi penegasan makna dalam komunikasi digital.

Kesalahan Bahasa Tataran Morfologi pada Makalah Mahasiswa Bahasa Indonesia Universitas Islam Riau

This study aims to identify and analyze morphological errors in student papers titled “Scientific Articles Based on Design and Assessment Results.” The focus of the study includes errors in affixation, reduplication, and word compounding in scientific writing. This study employs a qualitative descriptive method with data analysis techniques involving the identification, classification, and interpretation of errors based on the theory of Indonesian morphology according to Abdul Chaer. The research data consists of word excerpts from the students’ papers that contain morphological inaccuracies. The results of the study indicate that there were 11 instances of morphological errors, consisting of 6 instances of affixation errors (54%), 2 instances of reduplication errors (18%), and 3 instances of compound word formation errors (28%). The most prevalent error was affixation, particularly the improper use of the prefix di- and infixes. In addition, the study found ineffective use of reduplication as well as inaccuracies in understanding the concept of word compounding. These findings are supported by various previous studies indicating that affixation errors are the most prevalent errors in students’ academic writing. Therefore, more practical and contextual morphological instruction is needed so that students can use the Indonesian language accurately and effectively in their academic writing.    Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis kesalahan berbahasa pada tataran morfologi dalam makalah mahasiswa berjudul “Artikel Ilmiah Berbasis Hasil Desain dan Asesmen”. Fokus kajian meliputi kesalahan afiksasi, reduplikasi, dan pemajemukan kata dalam penulisan ilmiah. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan teknik analisis data berupa identifikasi, klasifikasi, serta interpretasi kesalahan berdasarkan teori morfologi bahasa Indonesia menurut Abdul Chaer. Data penelitian berupa kutipan kata dalam makalah mahasiswa yang mengandung ketidaktepatan morfologis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 11 data kesalahan morfologi yang terdiri atas kesalahan afiksasi sebanyak 6 data (54%), reduplikasi 2 data (18%), dan pemajemukan 3 data (28%). Kesalahan yang paling dominan adalah kesalahan afiksasi, terutama dalam penggunaan prefiks di- dan konfiks yang tidak tepat. Selain itu, ditemukan penggunaan reduplikasi yang kurang efektif serta ketidaktepatan dalam memahami konsep pemajemukan kata. Temuan penelitian ini diperkuat oleh berbagai penelitian sebelumnya yang menunjukkan bahwa kesalahan afiksasi merupakan kesalahan paling dominan dalam tulisan ilmiah mahasiswa. Dengan demikian, diperlukan pembelajaran morfologi yang lebih aplikatif dan kontekstual agar mahasiswa mampu menggunakan bahasa Indonesia secara tepat dan efektif dalam penulisan karya ilmiah.

Analisis Makna Denotatif dan Konotatif dalam Jurnal Puisi Cinta:Kajian Semantik

This study aims to describe and analyze denotative and connotative meanings in love poetry journals through a semantic analysis. The focus of this study is to identify the literal (denotative) and figurative (connotative) meanings contained in the poems and to reveal the roles of these two types of meaning in constructing aesthetic and emotional messages. This study employs a qualitative approach using descriptive methods. The data sources consist of love poetry texts found in poetry journals, while the research data comprise words, phrases, and sentences containing denotative and connotative meanings. Data collection was conducted through observation and note-taking techniques. Data analysis employed the semantic correspondence method, drawing on Abdul Chaer’s (2013) theory of meaning. The results indicate that connotative meaning is more dominant in love poetry because it serves to reinforce emotional expression and aesthetic value, whereas denotative meaning functions as the foundation for literal interpretation. Thus, these two types of meaning complement one another in constructing the poem’s overall meaning. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis makna denotatif dan konotatif dalam jurnal puisi cinta melalui kajian semantik. Fokus penelitian ini adalah mengidentifikasi bentuk makna literal (denotatif) dan makna kias (konotatif) yang terkandung dalam puisi serta mengungkap peran kedua jenis makna tersebut dalam membangun pesan estetis dan emosional. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Sumber data berupa teks puisi cinta yang terdapat dalam jurnal puisi, sedangkan data penelitian berupa kata, frasa, dan kalimat yang mengandung makna denotatif dan konotatif. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui metode simak dan teknik catat. Teknik analisis data menggunakan metode padan semantik dengan mengacu pada teori makna dari Abdul Chaer (2013). Hasil penelitian menunjukkan bahwa makna konotatif lebih dominan digunakan dalam puisi cinta karena berfungsi memperkuat ekspresi emosional dan nilai estetika, sedangkan makna denotatif berperan sebagai dasar pemaknaan literal. Dengan demikian, kedua makna tersebut saling melengkapi dalam membangun keutuhan makna puisi.

ANALISIS MAKNA ASOSIATIF DALAM TUTURAN VIDEO YOUTUBE CARA DIDIK ORANG TUA BISA BIKIN KITA TAKUT REZEKI: KAJIAN SEMANTIK

This study, titled “Analysis of Associative Meaning in the YouTube Video ‘How Parents’ Upbringing Can Make Us Fear for Our Livelihood’: A Semantic Study,” aims to explain the forms and meanings contained in the video’s discourse. The method used is descriptive qualitative analysis through the observe-and-record technique, with data consisting of narratives analyzed using Leech’s theory of associative meaning. The results of the study show that the discourse in the video contains connotative, affective, and social meanings. These meanings are closely related to the concept of abundance, parental upbringing, and an individual’s mindset regarding sustenance. Connotative meaning depicts a perspective on life’s sufficiency; affective meaning reflects the impact of parenting styles on a child’s emotions; and social meaning reveals the formation of perceptions and financial anxiety within society. This study concludes that the language used in digital media communication has a significant influence on shaping how individuals understand social life and process their emotions.   Penelitian bertajuk "Analisis Makna Asosiatif dalam Tuturan Video YouTube Cara Didik Orang Tua Bisa Bikin Kita Takut Rezeki: Kajian Semantik" ini bertujuan menjelaskan bentuk serta makna yang terkandung dalam tuturan video tersebut. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif melalui teknik simak dan catat, dengan data berupa cerita yang dianalisis menggunakan teori makna asosiatif Leech. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tuturan dalam video memuat makna konotatif, afektif, dan sosial. Makna-makna tersebut berkaitan erat dengan konsep keberlimpahan, pola didik orang tua, serta cara berpikir seseorang terhadap rezeki. Makna konotatif menggambarkan sudut pandang kecukupan hidup, makna afektif mencerminkan dampak gaya pengasuhan terhadap perasaan anak, dan makna sosial memperlihatkan pembentukan persepsi serta kecemasan finansial dalam bermasyarakat. Penelitian ini menyimpulkan bahwa bahasa yang digunakan dalam komunikasi media digital berpengaruh signifikan dalam membentuk cara individu memahami kehidupan sosial dan mengolah perasaan mereka.

Reduplikasi Bahasa Banjar di Tembilahan Kabupaten Indragiri Hilir

This study aims to examine and describe the use of reduplication in the Tembilahan dialect of the Banjar language in Indragiri Hilir Regency, focusing on its form, formation process, and semantic meaning. This study employs a qualitative descriptive approach. The method used is a descriptive method with a morphological analysis approach. The data sources are native speakers of the Banjar language residing in Tembilahan. The research data, consisting of words and phrases containing reduplicative elements, were obtained from native speakers through data collection techniques such as conversation or interviews and note-taking. The data analysis technique in this study employs the qualitative data analysis model developed by Miles and Huberman. The results indicate that there are four types of reduplication used productively in the Tembilahan dialect of the Banjar language: full reduplication (8 instances), partial reduplication (9 instances), reduplication with affixation (6 instances), and reduplication with phonemic change (3 instances). Partial reduplication is the most dominant type found in everyday speech, reflecting the speakers’ adherence to the principle of linguistic efficiency. Each type of reduplication serves specific semantic functions, such as marking plurality, forming new lexical items, and enriching the semantic variation of utterances through morphological and phonological interactions.   Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji dan mendeskripsikan penggunaan reduplikasi dalam bahasa Banjar dialek Tembilahan, Kabupaten Indragiri Hilir, yang berfokus pada bentuk, proses pembentukan, dan makna semantisnya. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif, Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dengan pendekatan kajian morfologi. Sumber data adalah penutur asli bahasa banjar yang berdomisili Tembilaha. Data penelitian berupa kata, dan frasa yang mengandung unsur pengulangan diperoleh dari penutur asli melalui teknik pengumpulan data menggunakan teknik cakap atau wawancara dan teknik catat. Teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan model analisis data kualitatif Miles dan Huberman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat empat jenis reduplikasi yang digunakan secara produktif dalam bahasa Banjar dialek Tembilahan, yaitu reduplikasi seluruh (8 data), reduplikasi sebagian (9 data), reduplikasi dengan penambahan afiks (6 data), dan reduplikasi dengan perubahan fonem (3 data). Reduplikasi sebagian menjadi jenis yang paling dominan ditemukan dalam tuturan sehari-hari, yang mencerminkan adanya prinsip efisiensi berbahasa oleh penutur. Setiap jenis reduplikasi tersebut memiliki fungsi semantis spesifik seperti penanda makna jamak, pembentuk leksikal baru, serta memperkaya variasi makna tuturan melalui interaksi morfologis dan fonologis.  

ANALISIS WACANA KRITIS TERHADAP VIDEO DEEPFAKE PRABOWO SUBIANTO DI MEDIA SOSIAL MENGGUNAKAN MODEL NORMAN FAIRCLOUGH

The dissemination of deepfake videos on social media has the potential to generate disinformation and influence public perception. This study aims to analyze a deepfake video featuring a likeness of Prabowo Subianto on social media, utilizing Norman Fairclough’s Critical Discourse Analysis (CDA) model. A qualitative approach employing the CDA method was adopted. Research data consisted of speech excerpts, transcripts, screenshots, and visual and audio elements from the deepfake video including a visible WhatsApp number. Primary data were sourced from the deepfake video as reported by the Detik.com and Liputan6 SCTV TikTok accounts, while secondary data were derived from original speeches, online news reports, and relevant scholarly articles. Data collection involved digital observation and documentation, and analysis was conducted using Fairclough’s model, encompassing the dimensions of text, discourse practice, and sociocultural practice. The findings indicate that the deepfake video leveraged persuasion strategies, visual and audio constructions mimicking reality, and the symbolic legitimacy of the presidential figure to build audience trust. Furthermore, dissemination via social media and the public's vulnerability regarding digital literacy exacerbated the potential for disinformation. The study concludes that deepfakes constitute a discourse practice capable of shaping perceptions and reinforcing the spread of disinformation within the digital sphere. Penyebaran video deepfake di media sosial berpotensi menimbulkan disinformasi dan memengaruhi persepsi masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis video deepfake yang menyerupai Prabowo Subianto di media sosial menggunakan model Analisis Wacana Kritis (AWK) Norman Fairclough. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode Analisis Wacana Kritis. Data penelitian berupa potongan ujaran, transkrip, tangkapan layar, serta unsur visual dan audio dalam video deepfake, termasuk tampilan nomor WhatsApp yang muncul secara visual. Sumber data primer diperoleh dari video deepfake yang diberitakan melalui akun TikTok Detik.com dan Liputan6 SCTV, sedangkan sumber data sekunder diperoleh dari video pidato asli, berita daring, serta artikel ilmiah terkait. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi digital dan dokumentasi, sedangkan analisis data menggunakan model Norman Fairclough yang meliputi dimensi teks, praktik wacana, dan praktik sosial budaya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa video deepfake memanfaatkan strategi persuasi, konstruksi visual dan audio yang menyerupai realitas, serta legitimasi simbolik figur presiden untuk membangun kepercayaan audiens. Selain itu, penyebaran melalui media sosial dan kerentanan literasi digital masyarakat turut memperkuat potensi disinformasi. Penelitian ini menyimpulkan bahwa deepfake merupakan praktik wacana yang mampu membentuk persepsi dan memperkuat penyebaran disinformasi di ruang digital.

KESANTUNAN BERBAHASA PADA REMAJA DI LINGKUNGAN SEKOLAH ” SMP NEGRI 5 KEMUNING INDAGIRI HILIR”

This study was motivated by the continued observation of impolite language use among adolescents in school settings, both when interacting with peers and with teachers. This study aims to describe the forms of polite language use among adolescents at SMP Negeri 5 Kemuning, Indragiri Hilir Regency. The method used in this study is a descriptive qualitative method, with data collection techniques including observation, documentation in the form of video recordings, and note-taking on students’ speech. The research subjects consisted of several students interacting in the school cafeteria in an informal setting. The results showed that in conversations among students, the use of slang remained dominant, along with the choice of impolite words, impolite intonation, and the use of greetings that did not conform to the norms of polite language. However, several forms of speech were also found that demonstrated mutual respect in communication. This study contributes to raising students’ awareness of the importance of linguistic politeness in the school environment. In conclusion, linguistic politeness among adolescents in the school environment still needs to be improved through the cultivation of good communication habits to foster more harmonious social interactions.   Penelitian ini dilatarbelakangi oleh masih ditemukannya penggunaan bahasa yang kurang santun pada remaja di lingkungan sekolah, baik dalam berinteraksi dengan teman sebaya maupun dengan guru. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk kesantunan berbahasa remaja di lingkungan SMP Negeri 5 Kemuning, Kabupaten Indragiri Hilir. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, dokumentasi berupa rekaman video, dan pencatatan terhadap tuturan siswa. Subjek penelitian terdiri dari beberapa siswa yang sedang berinteraksi di kantin sekolah dalam situasi informal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam percakapan antarsiswa masih ditemukan penggunaan bahasa gaul yang dominan, pemilihan kata yang kurang santun, intonasi bicara yang kurang sopan, serta penggunaan sapaan yang belum sesuai dengan norma kesantunan berbahasa. Namun, ditemukan pula beberapa bentuk tuturan yang menunjukkan sikap saling menghargai dalam komunikasi. Penelitian ini memberikan manfaat dalam meningkatkan kesadaran siswa mengenai pentingnya kesantunan berbahasa di lingkungan sekolah. Kesimpulannya, kesantunan berbahasa remaja di lingkungan sekolah masih perlu ditingkatkan melalui pembiasaan komunikasi yang baik agar tercipta interaksi sosial yang lebih harmonis.

ANALISIS TINDAK TUTUR KOMISIF DAN DIREKTIF DALAM PIDATO PRESIDEN PRABOWO SUBIANTO PADA PERINGATAN NUZULUL QURAN 1447 H

This study is motivated by the importance of analyzing speech acts in public communication, particularly state addresses as a means of conveying messages, exerting influence, and strengthening the relationship between leaders and the public. The subject of this study is President Prabowo Subianto’s speech at the Nuzulul Quran Commemoration 1447 H, which is rich in persuasive, religious, and moral discourse. This descriptive qualitative study aims to describe the forms and functions of directive and commissive speech acts in the speech. Data consisting of the president’s remarks uploaded to YouTube were collected through the listen-and-record technique and then analyzed using an interactive analysis model. The results indicate the dominance of two types of speech acts: directive (8 instances), which include requesting, inviting, commanding, advising, and prohibiting (with the function of inviting being the most dominant); and commissive (4 instances), which include committing, promising, and guaranteeing. The dominance of directive speech acts is oriented toward fostering collective awareness and encouraging public participation, while commissive speech acts serve to strengthen public trust in the government’s commitments. The use of these two types of speech acts has proven to be an effective communication strategy for conveying moral messages, fostering optimism, and reinforcing the legitimacy of national leadership. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya kajian tindak tutur dalam komunikasi publik, khususnya pidato kenegaraan sebagai sarana penyampaian pesan, pembentukan pengaruh, dan penguatan hubungan antara pemimpin dan masyarakat. Objek penelitian ini adalah pidato Presiden Prabowo Subianto pada Peringatan Nuzulul Quran 1447 H yang kaya akan tuturan persuasif, religius, dan moral. Penelitian kualitatif deskriptif ini bertujuan mendeskripsikan bentuk serta fungsi tindak tutur direktif dan komisif dalam pidato tersebut. Data berupa tuturan presiden yang diunggah di platform YouTube dikumpulkan melalui teknik simak dan catat, lalu dianalisis menggunakan model analisis interaktif. Hasil penelitian menunjukkan adanya dominasi dua jenis tindak tutur: direktif (8 data) yang meliputi bentuk meminta, mengajak, memerintah, menasihati, dan melarang (dengan fungsi mengajak paling dominan); serta komisif (4 data) yang meliputi bentuk berkomitmen, berjanji, dan menjamin. Dominasi tindak tutur direktif berorientasi pada pembentukan kesadaran kolektif dan dorongan partisipasi publik, sedangkan tindak tutur komisif berfungsi memperkuat kepercayaan masyarakat terhadap komitmen pemerintah. Penggunaan kedua tindak tutur ini terbukti menjadi strategi komunikasi efektif untuk menyampaikan pesan moral, memupuk optimisme, serta memperkokoh legitimasi kepemimpinan nasional.  

INTEGRASI BUDAYA LOKAL DALAM IKLAN PRODUK INDONESIA: ANALISIS SEMIOTIKA ROLAND BARTHES

Integration of Local Culture in Indonesian Product Advertisements: A Roland Barthes Semiotic Analysis. This study aims to analyse the integration of local culture in Indonesian product advertisements using Roland Barthes's semiotic approach. The subjects of the study include the Djarum 76 advertisement 'Indonesia Adalah Kita' (2020 & 2022) and the Djarum 76 advertisement 'Budaya Indonesia, Dirgahayu Indonesia ke-76' (2021). The method employed is qualitative descriptive, utilising data collection techniques involving the observation of visual, verbal, symbolic and narrative elements within the advertisements. The analysis was conducted through the three stages of Barthes's semiotics: denotation, connotation and myth. The research findings indicate that local culture is presented through various symbols such as traditional games, regional dances, woven fabrics, batik, pencak silat, traditional food, the keris, woodcarving, and maritime traditions. These elements not only serve as aesthetic components but also embody values such as hard work, solidarity, tolerance, nationalism, cultural identity, and national unity. Through the use of local cultural symbols, advertisements are able to build a positive image of the product whilst strengthening Indonesia's cultural identity within society.   Integrasi Budaya Lokal dalam Iklan Produk Indonesia: Analisis Semiotika Roland Barthes. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis integrasi budaya lokal dalam iklan produk Indonesia dengan menggunakan pendekatan semiotika Roland Barthes. Subjek penelitian meliputi iklan Djarum 76 'Indonesia Adalah Kita' (2020 & 2022) dan iklan Djarum 76 'Budaya Indonesia, Dirgahayu Indonesia ke-76' (2021). Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa observasi elemen visual, verbal, simbol, dan narasi di dalam iklan. Analisis dilakukan melalui tiga tahap semiotika Barthes: denotasi, konotasi, dan mitos. Hasil penelitian menunjukkan bahwa budaya lokal dihadirkan melalui berbagai simbol seperti permainan tradisional, tarian daerah, kain tenun, batik, pencak silat, makanan tradisional, keris, seni pahat, dan tradisi bahari. Elemen-elemen ini tidak hanya berfungsi sebagai komponen estetika tetapi juga mengejawantahkan nilai-nilai seperti kerja keras, solidaritas, toleransi, nasionalisme, identitas budaya, dan persatuan nasional. Melalui penggunaan simbol budaya lokal, iklan mampu membangun citra positif produk sekaligus memperkuat identitas budaya Indonesia di masyarakat.

PENGARUH KOMUNIKASI VERBAL DAN GAYA BAHASA HOST LIVE STREAMING TIKTOK TERHADAP IMPULSE BUYING KONSUMEN UMKM FASHION

Fashion Micro, Small, and Medium Enterprises (MSMEs) utilize live streaming activities on TikTok as an essential digital marketing strategy to accelerate sales. This descriptive qualitative study aims to examine how the verbal communication and language style of TikTok live streaming hosts influence consumer impulse buying behavior. Data were collected through semi-structured interviews with an individual who previously hosted live streams for thrifting knitwear products. The results demonstrate that live streaming builds consumer trust by allowing them to view product details in real-time. Sales are significantly influenced by the host's interactive verbal communication strategy, transparency regarding product conditions, and the use of a casual, familiar language style (such as greetings like "bestie" and "moms") tailored to the target market of women aged 20 to 35. This communicative combination creates an emotional connection. When coupled with psychological triggers such as product scarcity (one-of-a-kind items) and time urgency (flash discounts), it effectively induces the fear of missing out (FOMO), which drives viewers to make impulse purchases (spontaneous buying) during the broadcast. Bisnis kecil dan menengah (UMKM) fashion menggunakan aktivitas live streaming di TikTok sebagai strategi pemasaran digital penting untuk mempercepat penjualan. Penelitian kualitatif deskriptif ini bertujuan untuk melihat bagaimana komunikasi verbal dan gaya bahasa host live streaming TikTok memengaruhi perilaku pembelian impulsif pelanggan. Data dikumpulkan melalui wawancara yang dilakukan dengan pendekatan semi-terstruktur dengan individu yang sebelumnya melakukan live streaming produk pakaian rajut thrifting. Hasil penelitian menunjukkan bahwa live streaming dapat membangun kepercayaan konsumen dengan memberi mereka kesempatan untuk melihat detail produk secara real-time. Strategi komunikasi verbal host yang interaktif, jujur tentang kondisi produk, dan penggunaan gaya bahasa yang santai dan akrab (seperti sapaan "bestie" dan "moms") yang disesuaikan dengan target pasar perempuan berusia 20 hingga 35 tahun sangat memengaruhi penjualan. Kombinasi komunikasi komunikatif ini menciptakan kedekatan emosional. Ketika dikombinasikan dengan stimulus psikologis seperti kelangkaan produk (one-of-a-kind) dan urgensi waktu (diskon kilat), ini terbukti efektif untuk menimbulkan rasa takut kehabisan (fear of missing out/FOMO), yang mendorong penonton untuk melakukan pembelian impulsif (beli spontan) selama siaran.  

Indexer Sites