PERAN WAWANCAN DALAM PELESTARIAN KEBUDAYAAN LAMPUNG PADA PEMBERIAN GELAR ADAT DI PEKON KALIANDA

Published: Jul 5, 2025

Abstract:

Oral literature wawancan plays an important role in preserving Lampung culture in Pekon Kalianda. This study aims to explore and document wawancan as a form of cultural heritage that is threatened by modernization and the lack of attention of the younger generation to local traditions. Through qualitative descriptive methods, researchers conducted observations, interviews, and collected documentation data to understand the meaning and function of wawancan in the context of traditional rituals, especially in wedding ceremonies. The results of the study indicate that wawancan is not only entertainment, but also a learning medium that contains moral values and community history. The existence of a cultural gap, where the younger generation is more familiar with pop culture, results in reduced participation in the wawancan tradition. This study emphasizes the importance of education and community involvement in preserving this oral tradition to avoid the loss of cultural identity. Awareness of the value of wawancan can strengthen a sense of togetherness and community pride. By preserving wawancan, not only can the Lampung language and culture be passed on to future generations, but also rich language skills can be fostered. Through this study, it is hoped that knowledge and appreciation of wawancan will continue to grow in society, as well as become a bridge of communication between generations and at the same time revive traditions that are starting to fade.

Sastra lisan wawancan memainkan peran penting dalam pelestarian budaya Lampung di Pekon Kalianda. Penelitian ini bertujuan untuk menggali dan mendokumentasikan wawancan sebagai bentuk warisan budaya yang terancam oleh modernisasi dan kurangnya perhatian generasi muda terhadap tradisi lokal. Melalui metode deskriptif kualitatif, peneliti melakukan observasi, wawancara, dan pengumpulan data dokumentasi untuk memahami makna dan fungsi wawancan dalam konteks ritual adat, khususnya dalam upacara pernikahan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa wawancan tidak hanya sebagai hiburan, tetapi juga sebagai media pembelajaran yang mengandung nilai moral serta sejarah masyarakat. Adanya kesenjangan budaya, di mana generasi muda lebih akrab dengan budaya pop, mengakibatkan pengurangan partisipasi dalam tradisi wawancan. Penelitian ini menggarisbawahi pentingnya pendidikan dan pelibatan masyarakat dalam melestarikan tradisi lisan ini untuk menghindari hilangnya identitas budaya. Kesadaran tentang nilai wawancan dapat memperkuat rasa kebersamaan dan kebanggaan komunitas. Dengan melestarikan wawancan, tidak hanya bahasa dan budaya Lampung dapat diteruskan kepada generasi mendatang, tetapi juga keterampilan berbahasa yang kaya dapat dipupuk. Melalui penelitian ini, diharapkan pengetahuan dan apresiasi terhadap wawancan semakin berkembang dalam masyarakat, serta menjadi jembatan komunikasi antar generasi dan saat yang sama menghidupkan kembali tradisi yang mulai memudar.

Keywords:
1. Lampung culture
2. oral literature
3. preservation
Authors:
1 . Septia Dhalimah
2 . Reni Septi Safitri
3 . Rahmat Prayogi
4 . Bambang Riadi
How to Cite
Dhalimah, S. ., Safitri, R. S., Prayogi, R. ., & Riadi, B. . (2025). PERAN WAWANCAN DALAM PELESTARIAN KEBUDAYAAN LAMPUNG PADA PEMBERIAN GELAR ADAT DI PEKON KALIANDA. Jurnal Tiyuh Lampung: Pendidikan Bahasa Dan Kebudayaan, 9(1), 44–54. https://doi.org/10.23960/tiyuhlampung.v9i1.805
References

    Adinda, F., Zira, K., Noor, M. E. F., Nabila, M. P., & Lubis, F. (2024). Melacak Akar Budaya: Memahami Makna Dan Nilai Tradisi Lisan Malam Barinai Sebagai Warisan Budaya Masyarakat Melayu Batubara. Argopuro: Jurnal Multidisiplin Ilmu Bahasa, 2(6), 31–41.

    Chan, D. B. (2022). SEKTOR Keempat Pengembangan Pariwisata Daerah (Studi Kasus Desa Bulok Kecamatan Kalianda Lampung Selatan).tan Kalianda Lampung Selatan).

    Cresswell, J. A., Ronsmans, C., Calvert, C., & Filippi, V. (2013). Prevalence of placenta praevia by world region: A systematic review and meta-analysis. Tropical Medicine and International Health, 18(6), 712–724. https://doi.org/10.1111/tmi.12100

    Fakhrurozi, J., & Puspita, D. (2021). Konsep Piil Pesenggiri Dalam Sastra Lisan Wawancan Lampung Saibatin. Jurnal Pesona, 7(1), 1–13. https://doi.org/10.52657/jp.v7i1.1376

    Fakhrurozi, J., & Putri, S. N. (2019). Fungsi Wawancan Dalam Upacara Adat Pengantin Lampung Saibatin. Jurnal Salaka : Jurnal Bahasa, Sastra, Dan Budaya Indonesia, 1(2), 17–26. https://doi.org/10.33751/jsalaka.v1i2.1281

    Gajah, E. S., Lubis, A. A., Suaimah, N., Siregar, P. S., & Qaqamahmudinejaz, Q. (2024). Menelusuri Kekayaan Budaya Melayu melalui Pantun. Jurnal Dunia Pendidikan, 4(2), 721–730.

    Hana Putri, A., Anwar, A., Feronika, E., Vidieyanti, N., Diana Piaroga, N., Anggraini, N., Salsabila, R., Pitoewas, B., & Halim, A. (2024). Hukum Adat: Pemberian Gelar Adok dalam Pernikahan Adat Saibatin Desa Bulok Kalianda. Qawanin Jurnal Ilmu Hukum, 5(1), 32–44. https://doi.org/10.56087/qawaninjih.v5i1.469

    Hanyfah, S., Fernandes, G. R., & Budiarso, I. (2022). Penerapan Metode Kualitatif Deskriptif Untuk Aplikasi Pengolahan Data Pelanggan Pada Car Wash. Semnas Ristek (Seminar Nasional Riset Dan Inovasi Teknologi), 6(1), 339–344. https://doi.org/10.30998/semnasristek.v6i1.5697

    Huda, N., Priyadi, A. T., & Tanjungpura, U. (2017). Analisis Makna dan Fungsi Pantun dalam Kesenian Tundang Mayang Sanggar Pusaka. Jurnal Pendidikan Dan Pembelajaran Untan, 6(5).

    Latifah, S. A., Rachmawati, I. S., & Yazid, A. (2022). Relasi Harkat Kemanusiaan Sastra Lisan Asal Nama Desa Pintu Jenangan Ponorogo. Lingua Susastra, 3(1), 42–55. https://doi.org/10.24036/ls.v3i1.108

    Noverita, W. A. (2019). Pengembangan Media Pembelajaran Replika Peta Budaya Pada Pembelajaran Tematik Terpadu Untuk Kelas Iv Sd/Mi Di Bandar …. http://repository.radenintan.ac.id/7638/1/SKRIPSI.pdf

    Nurdin, B. V. (2016). Pemberdayaan masyarakat kampung wisata untuk promosi museum adat sai batin sanggi unggak Bandar Negeri Semong Berbasiskan Teknologi. Prosiding Seminar Nasional Pemberdayaan Masyarakat Menuju Kemandirian Desa, 1(1), 109–118.

    Nurhadi, A. (2020). Pembelajaran Sastra Lisan Dengan Media Audiovisual Sebagai Sarana Pengembangan Keterampilan Bahasa. Prosiding Seminar Nasional Pendidikan, 1, 21–22. http://prosiding.unma.ac.id/index.php/semnasfkip/article/view/363

    Pagar, B., & Utara, K. L. (2022). 0 Pola Komunikasi Dalam Upacara Adat Lampung.

    Ridwan, M. K. (2016). Metodologi Penafsiran Kontekstual; Analisis Gagasan dan Prinsip Kunci Penafsiran Kontekstual Abdullah Saeed. Millati: Journal of Islamic Studies and Humanities, 1(1), 1. https://doi.org/10.18326/mlt.v1i1.1-22

    Roza, Y. M., Razali, G., Fatmawati, E., Syamsuddin, S., & Wibowo, G. A. (2023). Identitas Budaya Dan Sosial Pada Makanan Khas Daerah: Tinjauan Terhadap Perilaku Konsumsi Masyarakat Muslim Pada Bulan Ramadan Di Indonesia. Komitmen: Jurnal Ilmiah Manajemen, 4(1), 305–315.

    Supardi, S., Qurtubi, A., & Fatoni, H. (2023). Kemitraan Sekolah dan Komite Sekolah Dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan di SMP IT Raudhatul Jannah Cilegon. Journal on Education, 5(4), 11196–11203.

    Suryaatmaja. (2020). Peranan Lembaga Sosial Dalam Melestarikan Adat Budaya Lampung Pada Remaja. Донну, 5(December), 118–138.

    Wilyanti, L. S., Larlen, L., & Wulandari, S. (2022). Transkripsi Sastra lisan melayu Jambi sebagai alternatif bahan ajar sastra di perguruan tinggi. Jurnal Ilmiah Universitas Batanghari Jambi, 22(1), 247–252.

    Yudiansyah. (2018). Bab Ii Hakikat Gelar Adat Lampung Saibatin. Hakikat Gelar Adat Lampung Sai Batin, September 2016.

  1. Adinda, F., Zira, K., Noor, M. E. F., Nabila, M. P., & Lubis, F. (2024). Melacak Akar Budaya: Memahami Makna Dan Nilai Tradisi Lisan Malam Barinai Sebagai Warisan Budaya Masyarakat Melayu Batubara. Argopuro: Jurnal Multidisiplin Ilmu Bahasa, 2(6), 31–41.
  2. Chan, D. B. (2022). SEKTOR Keempat Pengembangan Pariwisata Daerah (Studi Kasus Desa Bulok Kecamatan Kalianda Lampung Selatan).tan Kalianda Lampung Selatan).
  3. Cresswell, J. A., Ronsmans, C., Calvert, C., & Filippi, V. (2013). Prevalence of placenta praevia by world region: A systematic review and meta-analysis. Tropical Medicine and International Health, 18(6), 712–724. https://doi.org/10.1111/tmi.12100
  4. Fakhrurozi, J., & Puspita, D. (2021). Konsep Piil Pesenggiri Dalam Sastra Lisan Wawancan Lampung Saibatin. Jurnal Pesona, 7(1), 1–13. https://doi.org/10.52657/jp.v7i1.1376
  5. Fakhrurozi, J., & Putri, S. N. (2019). Fungsi Wawancan Dalam Upacara Adat Pengantin Lampung Saibatin. Jurnal Salaka : Jurnal Bahasa, Sastra, Dan Budaya Indonesia, 1(2), 17–26. https://doi.org/10.33751/jsalaka.v1i2.1281
  6. Gajah, E. S., Lubis, A. A., Suaimah, N., Siregar, P. S., & Qaqamahmudinejaz, Q. (2024). Menelusuri Kekayaan Budaya Melayu melalui Pantun. Jurnal Dunia Pendidikan, 4(2), 721–730.
  7. Hana Putri, A., Anwar, A., Feronika, E., Vidieyanti, N., Diana Piaroga, N., Anggraini, N., Salsabila, R., Pitoewas, B., & Halim, A. (2024). Hukum Adat: Pemberian Gelar Adok dalam Pernikahan Adat Saibatin Desa Bulok Kalianda. Qawanin Jurnal Ilmu Hukum, 5(1), 32–44. https://doi.org/10.56087/qawaninjih.v5i1.469
  8. Hanyfah, S., Fernandes, G. R., & Budiarso, I. (2022). Penerapan Metode Kualitatif Deskriptif Untuk Aplikasi Pengolahan Data Pelanggan Pada Car Wash. Semnas Ristek (Seminar Nasional Riset Dan Inovasi Teknologi), 6(1), 339–344. https://doi.org/10.30998/semnasristek.v6i1.5697
  9. Huda, N., Priyadi, A. T., & Tanjungpura, U. (2017). Analisis Makna dan Fungsi Pantun dalam Kesenian Tundang Mayang Sanggar Pusaka. Jurnal Pendidikan Dan Pembelajaran Untan, 6(5).
  10. Latifah, S. A., Rachmawati, I. S., & Yazid, A. (2022). Relasi Harkat Kemanusiaan Sastra Lisan Asal Nama Desa Pintu Jenangan Ponorogo. Lingua Susastra, 3(1), 42–55. https://doi.org/10.24036/ls.v3i1.108
  11. Noverita, W. A. (2019). Pengembangan Media Pembelajaran Replika Peta Budaya Pada Pembelajaran Tematik Terpadu Untuk Kelas Iv Sd/Mi Di Bandar …. http://repository.radenintan.ac.id/7638/1/SKRIPSI.pdf
  12. Nurdin, B. V. (2016). Pemberdayaan masyarakat kampung wisata untuk promosi museum adat sai batin sanggi unggak Bandar Negeri Semong Berbasiskan Teknologi. Prosiding Seminar Nasional Pemberdayaan Masyarakat Menuju Kemandirian Desa, 1(1), 109–118.
  13. Nurhadi, A. (2020). Pembelajaran Sastra Lisan Dengan Media Audiovisual Sebagai Sarana Pengembangan Keterampilan Bahasa. Prosiding Seminar Nasional Pendidikan, 1, 21–22. http://prosiding.unma.ac.id/index.php/semnasfkip/article/view/363
  14. Pagar, B., & Utara, K. L. (2022). 0 Pola Komunikasi Dalam Upacara Adat Lampung.
  15. Ridwan, M. K. (2016). Metodologi Penafsiran Kontekstual; Analisis Gagasan dan Prinsip Kunci Penafsiran Kontekstual Abdullah Saeed. Millati: Journal of Islamic Studies and Humanities, 1(1), 1. https://doi.org/10.18326/mlt.v1i1.1-22
  16. Roza, Y. M., Razali, G., Fatmawati, E., Syamsuddin, S., & Wibowo, G. A. (2023). Identitas Budaya Dan Sosial Pada Makanan Khas Daerah: Tinjauan Terhadap Perilaku Konsumsi Masyarakat Muslim Pada Bulan Ramadan Di Indonesia. Komitmen: Jurnal Ilmiah Manajemen, 4(1), 305–315.
  17. Supardi, S., Qurtubi, A., & Fatoni, H. (2023). Kemitraan Sekolah dan Komite Sekolah Dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan di SMP IT Raudhatul Jannah Cilegon. Journal on Education, 5(4), 11196–11203.
  18. Suryaatmaja. (2020). Peranan Lembaga Sosial Dalam Melestarikan Adat Budaya Lampung Pada Remaja. Донну, 5(December), 118–138.
  19. Wilyanti, L. S., Larlen, L., & Wulandari, S. (2022). Transkripsi Sastra lisan melayu Jambi sebagai alternatif bahan ajar sastra di perguruan tinggi. Jurnal Ilmiah Universitas Batanghari Jambi, 22(1), 247–252.
  20. Yudiansyah. (2018). Bab Ii Hakikat Gelar Adat Lampung Saibatin. Hakikat Gelar Adat Lampung Sai Batin, September 2016.

Most read articles by the same author(s)