Education, Language, and Arts: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat

Education, Language, and Art (ELA) merupakan jurnal ilmiah yang menjadi wadah bagi akademisi dan praktisi dalam mempublikasikan hasil kegiatan pengabdian kepada masyarakat khususnya dalam bidang pendidikan, bahasa, dan seni. Education, Language, and Art (ELA) diterbitkan oleh Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Lampung. Education, Language, and Art (ELA) ter... Readmore

Education, Language, and Art (ELA) merupakan jurnal ilmiah yang menjadi wadah bagi akademisi dan praktisi dalam mempublikasikan hasil kegiatan pengabdian kepada masyarakat khususnya dalam bidang pendidikan, bahasa, dan seni. Education, Language, and Art (ELA) diterbitkan oleh Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Lampung. Education, Language, and Art (ELA) terbit dua kali setahun yaitu Bulan April/Mei dan September/Oktober.

E-ISSN: 2830-5205

Readmore
Published
2024-04-30

Articles

PELATIHAN GAMOLAN DI DESA HANAKAU JAYA KABUPATEN LAMPUNG UTARA

Pengabdian Kepada Masyarakat Desa Binaan Unila ini adalah suatu program yang dirancang oleh perguruan tinggi Universitas Lampung dalam rangka membantu pemerintah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa melalui Tri Darma Perguruan Tinggi. Pada Pengabdian Unila terdapat skema Pengabdian Desa Binaan untuk memberikan akses Desa Hanakau Jaya Lampung Utara agar lebih maju dan berkembang juga lebih baik terutama pengetahuan tentang gamolan bagi para remaja, selain itu pemateri mendapatkan ilmu tambahan berupa tentang kebudayaan setempat dan dikembangkan untuk informasi kepada masyarakat setempat dan lainnya. Metode pelatihan gamolan menggunakan metode Ceramah oleh pelaksana untuk menjelaskan latar belakang gamolan, manfaat gamolan, bagian -bagian gamolan, dan cara bermain gamolan, serta dipraktekkan ke dalam lagu.  Sasaran Pengabdian ini adalah siswa SMP Desa Hanakau Jaya Lampung Utara. Hasil yang diharapkan agar masyarakat Desa dapat mengerti, menghayati, melestarikan, mengembangkan, memainkan dan mempromosikan baik melalui pertunjukan dan media sosial sehingga orang banyak tau tentang gamolan dan desa Hanakau Jaya sebagai sentra budaya yang menarik orang untuk datang dan berwisata ke desa tersebut sehingga desa tersebut menjadi tujuan wisata budaya yang sekaligus dapat meningkatkan kesejahteraan Masyarakat.   Community Service in Unila's Assisted Villages is a program designed by the University of Lampung in order to help the government to make the nation's life smarter through the Tri Darma of Higher Education. At Unila Service there is a Community Service Scheme for Assisted Villages to provide access to Hanakau Jaya North Lampung Village so that it is more advanced and developed better, especially knowledge about gamolan for teenagers, apart from that, the presenters gain additional knowledge in the form of local culture and it is developed for information to the local community and other. The gamolan training method uses a lecture method by the implementer to explain the background of gamolan, the benefits of gamolan, the parts of gamolan, and how to play gamolan, and practice it into songs. The targets of this service are junior high school students in Hanakau Jaya Village, North Lampung. The expected results are that the village community can understand, appreciate, preserve, develop, play and promote both through performances and social media so that many people know about gamolan and Hanakau Jaya village as a cultural center that attracts people to come and travel to the village so that the village become a cultural tourism destination that can also improve community welfare.

PENJURIAN PAWAI BUDAYA DI KECAMATAN SEPUTIH MATARAM KABUPATEN LAMPUNG TENGAH

Artikel ini bertujuan untuk mendeskripsikan tahapan kegiatan penjurian pawai budaya di Kecamatan Seputih Mataram Kabupaten Lampung Tengah. Kegiatan tersebut merupakan bentuk peringatan HUT RI ke 78, tahun 2023. Kegiatan ini diikuti oleh peserta dengan kategori siswa SD, SMP, SMA dan kategori umum. Pawai budaya adalah kegiatan yang dapat meningkatkan hubungan interpersonal antar hubungan masyarakat. Hubungan tersebut seperti kreativitas, sportivitas, gotong-royong, rasa kebersamaan, kekeluargaan, dan kerjasama antar individu dalam kelompok masyarakat.Penjurian dalam kegiatan ini dilakukan dengan melibatkan 3 orang juri yang memiliki kompetensi dalam melakukan penilaian. Penjurian pawai budaya dilakukan dengan 4 tahapan, yaitu: 1) menyusun rubrik penilaian, rubrik penilaian disusun berdasarkan indikator untuk menilai kelompok pawai; 2) mendiskusikan rubrik penilaian dengan tim penilai; 3) melakukan penilaian pada saat kegiatan berlangsung; dan 4) membuat rekapitulasi nilai dan memutuskan juara atau pemenang.   This article aims to describe the stages of cultural parade judging activities in Seputih Mataram District, Central Lampung Regency. This activity is a form of commemoration of the 78th Independence Day of the Republic of Indonesia, 2023. This activity was attended by participants in the elementary, middle school, high school and general category students. Cultural parades are activities that can improve interpersonal relations between community relations. These relationships include creativity, sportsmanship, mutual cooperation, a sense of togetherness, kinship, and cooperation between individuals in community groups. Judging in this activity is carried out by involving 3 judges who have competence in conducting assessments. Judging of cultural parades is carried out in 4 stages, namely: 1) preparing an assessment rubric, the assessment rubric is prepared based on indicators to assess the parade group; 2) discuss the assessment rubric with the assessment team; 3) carry out assessments during activities; and 4) recapitulate the scores and decide on the champion or winners.

PELAYANAN EDUKASI BUDAYA BAGI ANAK-ANAK MELALUI DONGENG DAN PERMAINAN TRADISIONAL DI QARYAH THAYYIBAH

Program Pelayanan Edukasi Budaya bagi Anak-anak melalui Dongeng dan Permainan Tradisional di Qaryah Thayyibah bertujuan untuk menanamkan kembali nilai-nilai budaya lokal melalui pendekatan interaktif berbasis cerita rakyat dan permainan tradisional. Dalam era digitalisasi, minat anak-anak terhadap warisan budaya semakin menurun, sehingga diperlukan metode edukasi yang menarik dan partisipatif. Program ini melibatkan pendidik, orang tua, dan tokoh budaya sebagai fasilitator yang mendukung sesi mendongeng interaktif dan permainan tradisional berbasis nilai edukatif. Pelaksanaan program dilakukan melalui tahapan perencanaan, pelaksanaan, monitoring, dan evaluasi untuk memastikan efektivitas dan keberlanjutannya. Hasil evaluasi menunjukkan peningkatan pemahaman anak-anak terhadap cerita rakyat dan keterlibatan aktif dalam permainan tradisional. Dengan pendekatan yang berkelanjutan, program ini tidak hanya berfungsi sebagai sarana edukasi tetapi juga sebagai upaya revitalisasi budaya lokal yang berdampak positif bagi generasi muda.   The Cultural Education Service Program for Children through Traditional Stories and Games in Qaryah Thayyibah aims to re-instill local cultural values ​​through an interactive approach based on folklore and traditional games. In the digital era, children's interest in cultural heritage is decreasing, so an interesting and participatory educational method is needed. This program involves educators, parents, and cultural figures as facilitators who support interactive storytelling sessions and traditional games based on educational values. The program is implemented through the stages of planning, implementation, monitoring, and evaluation to ensure its effectiveness and sustainability. The evaluation results show an increase in children's understanding of folklore and active involvement in traditional games. With a sustainable approach, this program not only functions as a means of education but also as an effort to revitalize local culture that has a positive impact on the younger generation.

MANAJEMEN DIGITAL MARKETING: MEMBEKALI KEPALA SEKOLAH DALAM MENGHADAPI TANTANGAN ERA DIGITAL 4.0

Management Digital 4.0 brings a number of unique challenges for school principals. It is no longer just about ensuring operational efficiencies, but also about building a responsive and digitally connected learning community. Technological developments are becoming commonplace and have great influence on society. The digital era 4.0 has a real One example is in the field of education.   As a result, it requires leadership that can adapt and capitalize on the development of this technology. At the school level, a principal is one of the most important components in driving the important component in moving the wheels of education at school. Therefore, a principalneeds to strategize in the face of changes in this Industrial Revolution 4.0. Article This article concludes that the challenges and opportunities in the era of digital transformation must be faced and filled by competitive leaders in the transformation era must absolutely be faced and filled by competitive leaders in the digital era. the digital era, especially today's school principals are required to transform in the era of the Industrial Revolution 4.0.   Manajemen Digital 4.0 membawa sejumlah tantangan unik bagi kepala sekolah. Ini tidak lagi hanya tentang memastikan efisiensi operasional, tetapi juga tentang membangun komunitas pembelajaran yang responsif dan terhubung secara digital. Perkembangan teknologi menjadi sesuatu yang umum dan memiliki pengaruh besar pada masyarakat. Era digital 4.0 memiliki pengaruh yang nyata pada kehidupan manusia salah satu contohnya adalah dalam bidang pendidikan. Akibatnya, dibutuhkan  kepemimpinan  yang  dapat  beradaptasi   dan   memanfaatkan   dari perkembangan teknologi ini. Dalam tingkat sekolah, seorang kepala sekolah menjadi salah satu komponen penting dalam  menggerakan  roda  Pendidikan  di  sekolahan.  Oleh karena itu, seorang kepala sekolah perlu menyusun strategi dalam menghadapi perubahan Revolusi Industri 4.0 ini. Artikel ini menghasilkan kesimpulan bahwa tantangan dan peluang di era transformasi digital mutlak harus dihadapi dan diisi oleh para pemimpin yang kompetitifdi era digital, khususnya kepala sekolah hari ini adalah harus melakukan transformasi di era Revolusi Industri 4.0.

PELATIHAN TARI JAWA KREASI PADA SISWA SMP N 10 BANDAR LAMPUNG

Tari Kreasi adalah bentuk gerak tari baru yang dirangkai dengan perpaduan gerak tari tradisional kerakyatan dengan tradisional kalsik. Gerak ini berasal dari satu daerah atau berbagai daerah di Indonesia. Tari yapong merupakan tarian yang awalnya berasal dari Jakarta yang dikembangkan geraknya oleh Bagong, sehingga tarian tersebut berkembang pesat dipalau Jawa. Pelatihan tari kreasi jawa pada siswa SMP N 10 Bandar Lampung merupakan upaya untuk membekali siswa agar memiliki pengetahuan dan keterampilan dalam menarikan gerak-gerak tari yapong. Adapun tahap pelaksanaan pelatihan ini memiliki urutan sebagai berikut: (1) Persiapan meliputi: Menyiapkan tape/speaker dan pemanasan (2) Pembukaan meliputi: Penyampaian materi tentang tari dan musik iringan (3) Penyampaian materi gerak tari, musik iringan dan presentasi secara kelompok. Pelatihan tari yang diberikan melalui tahap-tahap yaitu: tahap awal yaitu tahap hafalan gerak peserta mampu meperagakan gerak dengan hafalan gerak yang benar dan baik. Tahap kedua teknik gerak, peserta mampu memperagakan ragam gerak dengan teknik yang baik dan benar. Tahap yang terakhir yaitu pemberian iringan musik, peserta mampu memperagakan tari yapong dengan iringan musik.Peserta mampu mebuat pola lantai dan menampilkan tari yapong bersama dengan kelompok di depan peserta yang lain.   Dance creations is a new form of dance movement that is assembled with a combination of traditional folk dance movements with traditional classic. This motion comes from one region or various regions in Indonesia. Yapong dance is a dance that originally came from Jakarta which was developed by Bagong, so that the dance developed rapidly in Java. Javanese creation dance training for students of SMP N 10 Bandar Lampung is an effort to equip students to have knowledge and skills in dancing yapong dance movements. The stages of implementing this training have the following sequence: (1) Preparation includes: Preparing tape/speakers and warming up (2) Opening includes: Delivery of material on dance and accompaniment music (3) Delivery of dance movement material, accompaniment music and group presentations. Dance training is provided through stages, namely: the initial stage, namely the stage of memorization of movements, participants are able to demonstrate movements with correct and good motion memorization. The second stage of movement techniques, participants are able to demonstrate a variety of movements with good and correct techniques. The last stage is giving musical accompaniment, participants are able to demonstrate yapong dance with musical accompaniment. Participants were able to make floor patterns and perform yapong dance together with the group in front of other participants.

PELATIHAN KEMAMPUAN BERBAHASA LAMPUNG MELALUI METODE MUHADHARAH DI MTS NEGERI 1 BANDAR LAMPUNG

This community service is motivated by the low level of Lampung language skills of MTs Negeri 1 Bandar Lampung students. The specific target to be achieved from this community service is to improve Lampung language skills through the muhadharah method for students at MTs Negeri 1 Bandar Lampung. The methods used in this PKM are socialization, training, guidance, evaluation, and submission of program results. The results of the PKM show that the Lampung language skills training using the muhadharah method has achieved its goals and objectives, namely improving Lampung language skills in students at MTs Negeri 1 Bandar Lampung.   Pengabdian Masyarakat ini dilatarbelakangi oleh rendahnya kemampuan berbahasa Lampung siswa MTs Negeri 1 Bandar Lampung. target khusus yang akan dicapai dari pengabdian pada masyarakat ini adalah meningkatkan kemampuan berbahasa Lampung melalui metode muhadharah pada siswa di MTs Negeri 1 Bandar Lampung. Metode yang dilakukan dalam PKM ini yaitu sosialisasi, pelatihan, bimbingan, evaluasi, dan penyerahan hasil program. Hasil PKM menunjukkan bahwa Pelatihan kemampuan berbahasa Lampung menggunakan metode muhadharah ini telah mencapai tujuan dan sasaran yaitu dapat meningkatkan kemampuan berbahasa Lampung pada siswa di MTs Negeri 1 Bandar Lampung.

PELATIHAN PENYUSUNAN BUKU AJAR DIGITAL BAHASA PRANCIS LEVEL A1 BERBASIS KEARIFAN LOKAL BAGI GURU-GURU BAHASA PRANCIS DI PROVINSI LAMPUNG

Training on Preparing A1 Level French Digital Textbooks Based on Local Wisdom for French Teachers in Lampung Province. The aim of this community service activity is to compile a French language textbook with a French teacher. The method used in this training is the discussion and collaboration method. In preparing digital French textbooks, participants first discuss the content of the textbooks that will be prepared by reviewing previously existing French textbooks, and determine local wisdom themes that can be used. carried out in French language skills at level A1 CECRL. The collaborative method is carried out between French teachers and service lecturers to produce French language textbooks that can not only be used in high schools, but also for the public at level A1 CECRL. The activity was held in September at 3 meetings, located at FKIP Lampung University. It is hoped that this activity will stimulate teachers to produce their own French language textbooks that suit the needs of the schools where they work, and can also be used by the public at the A1 CECRL level.   Pelatihan Penyusunan Buku Teks Digital Bahasa Prancis Tingkat A1 Berbasis Kearifan Lokal bagi Guru Bahasa Prancis di Provinsi Lampung. Tujuan dari kegiatan pengabdian masyarakat ini adalah menyusun buku ajar bahasa Perancis bersama guru bahasa Perancis. Metode yang digunakan dalam pelatihan ini adalah metode diskusi dan kolaborasi. Dalam penyusunan buku teks bahasa Prancis digital, peserta terlebih dahulu mendiskusikan isi buku teks yang akan disusun dengan mereview buku teks bahasa Prancis yang sudah ada sebelumnya, dan menentukan tema kearifan lokal yang dapat digunakan. dilakukan pada keterampilan bahasa Perancis pada level A1 CECRL. Metode kolaboratif yang dilakukan antara guru bahasa Perancis dengan dosen pengabdi sehingga menghasilkan buku ajar bahasa Perancis yang tidak hanya dapat digunakan di SMA, namun juga dapat digunakan oleh umum pada level A1 CECRL. Kegiatan dilaksanakan pada bulan September sebanyak 3 kali pertemuan, bertempat di FKIP Universitas Lampung. Kegiatan ini diharapkan dapat merangsang para guru untuk menghasilkan sendiri buku teks bahasa Perancis yang sesuai dengan kebutuhan sekolah tempat mereka bekerja, dan juga dapat digunakan oleh masyarakat pada tingkat A1 CECRL.

Indexer Sites