Pengelolaan sampah berbasis masyarakat menghadapi tantangan berupa keterbatasan pengetahuan, keterampilan teknis, sarana pengolahan, dan kemampuan memantau proses secara terukur. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan meningkatkan kapasitas masyarakat melalui rekayasa tabung pembakaran berbasis digital yang diintegrasikan dengan edukasi pemilahan, pelatihan operasional, pendampingan, dan evaluasi. Program melibatkan 30 peserta. Tahapan kegiatan meliputi identifikasi masalah, sosialisasi, demonstrasi teknologi, praktik pengoperasian, monitoring, evaluasi, dan penyusunan rencana keberlanjutan. Evaluasi dilakukan menggunakan tes pengetahuan, observasi keterampilan, dan kuesioner kepuasan. Dataset ilustratif menunjukkan peningkatan rata-rata pengetahuan dari 56,7 menjadi 87,3, keterampilan pengoperasian dari 48,5 menjadi 84,6, literasi monitoring digital dari 41,8 menjadi 82,7, dan pemahaman keselamatan dari 61,2 menjadi 91,3. Sebanyak 27 dari 30 peserta mencapai kategori kompeten dalam simulasi operasional dan kepuasan peserta mencapai 4,48 dari skala 5. Hasil menunjukkan bahwa integrasi teknologi tepat guna dan monitoring digital dapat menjadi media transfer pengetahuan sekaligus penguatan kapasitas masyarakat. Namun, teknologi pembakaran tidak menggantikan pemilahan, pengurangan, penggunaan kembali, dan daur ulang. Aspek emisi, keselamatan, dan pengelolaan residu harus menjadi bagian integral. Pengembangan berikutnya perlu dilengkapi pengukuran emisi dan karakterisasi residu untuk membuktikan kinerja lingkungan secara kuantitatif.
Community-based waste management faces challenges related to limited knowledge, technical skills, treatment facilities, and the ability to monitor processes quantitatively. This community service program aimed to strengthen community capacity through the development of a digitally monitored combustion chamber integrated with waste segregation education, operational training, mentoring, and evaluation. The program involved 30 participants. Activities consisted of problem identification, socialization, technology demonstration, operational practice, monitoring, evaluation, and sustainability planning. Evaluation used knowledge tests, skills observation, and satisfaction questionnaires. The illustrative dataset showed an increase in average knowledge from 56.7 to 87.3, operational skills from 48.5 to 84.6, digital monitoring literacy from 41.8 to 82.7, and safety understanding from 61.2 to 91.3. Twenty-seven of 30 participants reached the competency category during operational simulation, while satisfaction reached 4.48 on a five-point scale. The results indicate that integrating appropriate technology and digital monitoring can support technology transfer and community capacity building. However, combustion technology does not replace source segregation, reduction, reuse, and recycling. Emission control, safety, and residue management must remain integral components. Further development should include emission measurements and residue characterization to quantitatively demonstrate environmental performance.