Jurnal Tiyuh Lampung: Pendidikan Bahasa dan Kebudayaan

JURNAL Tiyuh Lampung: Pendidikan Bahasa dan Kebudayaan
Merupakan jurnal pendidikan bahasa dan sastra daerah yang terbit dua kali dalam satu tahun, yaitu pada bulan Juni dan November. Jurnal Tiyuh Lampung mengangkat topik seputar Bahasa, Kebudayaan, dan Pembelajarannya. Ruang Lingkup penulis dari lingkungan Dosen/Guru, Mahasasiswa, maupun para akademisi.

Journal Tiyuh Lampung: Pendidikan Bahasa dan Kebudayaan
It is a regional language and literature education journal t... Readmore

JURNAL Tiyuh Lampung: Pendidikan Bahasa dan Kebudayaan
Merupakan jurnal pendidikan bahasa dan sastra daerah yang terbit dua kali dalam satu tahun, yaitu pada bulan Juni dan November. Jurnal Tiyuh Lampung mengangkat topik seputar Bahasa, Kebudayaan, dan Pembelajarannya. Ruang Lingkup penulis dari lingkungan Dosen/Guru, Mahasasiswa, maupun para akademisi.

Journal Tiyuh Lampung: Pendidikan Bahasa dan Kebudayaan
It is a regional language and literature education journal that is published twice a year, namely in June and November. Tiyuh Lampung Journal raises topics about Language, Culture, and Learning. Scope of writers from the environment of Lecturers/Teachers, Students, and academics.

Published
2025-06-26

Articles

MEMPERTAHANKAN TRADISI KEBUDAYAAN SAKURA DAN NYAMBAI DI LAMPUNG BARAT DALAM ERA MODERNISASI

Cultural traditions are ancestral heritage that contains the values of local wisdom and community identity. In West Lampung, the Sakura and Nyambai traditions have become an important part of the social and cultural life of the community. However, its existence is increasingly threatened by modernization currents that tend to marginalize local traditions. This article examines the efforts of the people of West Lampung in maintaining the tradition of Sakura and Nyambai in the midst of the challenges of the modernization era. The research was conducted with a qualitative approach, through direct observation and interviews with traditional leaders, cultural actors, and local communities. The results of the study show that the Sakura tradition, which is a symbol of respect for nature, and Nyambai, which represents social interaction in Lampung customs, is still maintained through various adaptations. Conservation efforts involve the integration of local culture in educational activities, performing arts, and cultural festivals. In addition, the role of local governments, cultural communities, and the younger generation is very important in maintaining the existence of this tradition. This article emphasizes the importance of preserving local culture as part of the nation's identity that is able to synergize with modernization without losing traditional values.   Tradisi budaya merupakan warisan leluhur yang mengandung nilai-nilai kearifan lokal dan identitas masyarakat. Di Lampung Barat, tradisi Sakura dan Nyambai menjadi bagian penting dari kehidupan sosial dan budaya masyarakat. Namun, keberadaannya semakin terancam oleh arus modernisasi yang cenderung meminggirkan tradisi lokal. Artikel ini mengkaji upaya masyarakat Lampung Barat dalam mempertahankan tradisi Sakura dan Nyambai di tengah tantangan era modernisasi. Penelitian dilakukan dengan pendekatan kualitatif, melalui observasi langsung dan wawancara dengan tokoh adat, pelaku budaya, serta masyarakat setempat. Hasil kajian menunjukkan bahwa tradisi Sakura, yang merupakan simbol penghormatan terhadap alam, dan Nyambai, yang merepresentasikan interaksi sosial dalam adat Lampung, masih dipertahankan melalui berbagai adaptasi. Upaya pelestarian melibatkan integrasi budaya lokal dalam kegiatan pendidikan, seni pertunjukan, dan festival budaya. Selain itu, peran pemerintah daerah, komunitas budaya, serta generasi muda sangat penting dalam menjaga eksistensi tradisi ini. Artikel ini menegaskan pentingnya pelestarian budaya lokal sebagai bagian dari identitas bangsa yang mampu bersinergi dengan modernisasi tanpa kehilangan nilai-nilai tradisional.

MAKNA RINGGET GAMBI MULI PILANGAN DALAM PENDEKATAN STILISTIKA

This research is about the meaning of Ringget Gambi Muli Pilangan in stylistic studies. The formulation of the problem of "How is the Meaning of Ringget Gambi Muli Pilangan in Stylistic Studies?". The purpose of this research is to find insight into the meaning of Ringget Gambi Muli Pilangan in stylistic studies. This research method uses qualitative research literature study. In a stylistic study of the oral literature "Message of the Bride" in Lampung Ringget, the message conveyed through this poem shows the richness and complexity of the use of language to convey farewell and hope. The chosen language style, such as the use of words full of apologies and good wishes for the families and relatives left behind, creates a sense of tenderness and sincerity. The poem not only contains the literal meaning of the words used, but also exhibits the use of rhythm and sentence structure that portrays the emotional and spiritual feelings of the parting bride. Thus, through stylistic analysis, we can better understand how word choice, sentence structure, and the use of metaphors can enrich the meaning in these oral literary works, as well as how language is used to convey deep and universal messages about love, separation, and hope for the future. Penelitian ini tentang Makna Ringget Gambi Muli Pilangan Dalam Kajian Stilistika. Rumusan masalah tentang “Bagaimana Makna Ringget Gambi Muli Pilangan Dalam Kajian Stilistika?”. Tujuan penelitian ini untuk menemukan wawasan tentang Makna Ringget Gambi Muli Pilangan Dalam Kajian Stilistika. Metode penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif studi pustaka. Dalam kajian stilistika terhadap sastra lisan "Pesan Mempelai Wanita" dalam Ringget Lampung, pesan yang disampaikan melalui puisi ini memperlihatkan kekayaan dan kompleksitas penggunaan bahasa untuk menyampaikan perpisahan dan harapan. Gaya bahasa yang dipilih, seperti penggunaan kata-kata yang penuh dengan permintaan maaf dan harapan baik untuk keluarga dan kerabat yang ditinggalkan, menciptakan nuansa kelembutan dan keikhlasan. Puisi ini tidak hanya mengandung makna literal dari kata-kata yang digunakan, tetapi juga memperlihatkan penggunaan ritme dan struktur kalimat yang menggambarkan perasaan emosional dan spiritual dari mempelai wanita yang berpisah. Dengan demikian, melalui analisis stilistika, kita dapat lebih memahami bagaimana pemilihan kata, susunan kalimat, dan penggunaan metafora dapat memperkaya makna dalam karya sastra lisan ini, serta bagaimana bahasa digunakan untuk menyampaikan pesan yang mendalam dan universal tentang cinta, perpisahan, dan harapan untuk masa depan.

MAKNA TARI SEKURA DARI LIWA LAMPUNG BARAT

This research was conducted to explain the meaning of the Sekura Dance which originates from Liwa, West Lampung. The purpose of conducting this research is because there is still minimal research on this theme, so it is hoped that with this research readers will be able to find out what they need to know. The research was carried out using descriptive qualitative methods with literature studies. Sekura itself is a tradition that originates from West Lampung too, this is a tradition whose existence is still well known not only by the people of West Lampung, especially Liwa, but has been recognized in the national realm. Sekura dance is a dance originating from Liwa, West Lampung, created by Edwarsyah Ma'as, a dance artist who also comes from West Lampung. Inspired by Sekura fashion.   Penelitian ini dilakukan untuk menjelaskan makna dari Tari Sekura yang berasal dari Liwa, Lampung Barat. Tujuan dilakukannya penelitian ini karena masih minimnya penelitian mengenai tema ini, jadi diharapkan dengan adanya penelitian ini pembaca dapat mengetahui apa yang perlu diketahui. Peneltian dilakukan dengan metode kualitatif deskriptif dengan studi literatur. Sekura sendiri adalah sebuah tradisi yang berasal dari Lampung barat juga, ini merupakan sebuah tradisi yang hingga saat ini keberadaanya masih sangat diketahui bukan hanya oleh Masyarakat lampung barat khususnya liwa saja namun sudah diakui dalam ranah Nasional. Tari sekura merupakan sebuah tarian yang berasal dari Liwa Lampung Barat yang diciptakan oleh Edwarsyah Ma’as seorang seniman tari yang juga berasal dari Lampung Barat. Yang terinspirasi dari busana sekura.

PERAN WAWANCAN DALAM PELESTARIAN KEBUDAYAAN LAMPUNG PADA PEMBERIAN GELAR ADAT DI PEKON KALIANDA

Oral literature wawancan plays an important role in preserving Lampung culture in Pekon Kalianda. This study aims to explore and document wawancan as a form of cultural heritage that is threatened by modernization and the lack of attention of the younger generation to local traditions. Through qualitative descriptive methods, researchers conducted observations, interviews, and collected documentation data to understand the meaning and function of wawancan in the context of traditional rituals, especially in wedding ceremonies. The results of the study indicate that wawancan is not only entertainment, but also a learning medium that contains moral values and community history. The existence of a cultural gap, where the younger generation is more familiar with pop culture, results in reduced participation in the wawancan tradition. This study emphasizes the importance of education and community involvement in preserving this oral tradition to avoid the loss of cultural identity. Awareness of the value of wawancan can strengthen a sense of togetherness and community pride. By preserving wawancan, not only can the Lampung language and culture be passed on to future generations, but also rich language skills can be fostered. Through this study, it is hoped that knowledge and appreciation of wawancan will continue to grow in society, as well as become a bridge of communication between generations and at the same time revive traditions that are starting to fade. Sastra lisan wawancan memainkan peran penting dalam pelestarian budaya Lampung di Pekon Kalianda. Penelitian ini bertujuan untuk menggali dan mendokumentasikan wawancan sebagai bentuk warisan budaya yang terancam oleh modernisasi dan kurangnya perhatian generasi muda terhadap tradisi lokal. Melalui metode deskriptif kualitatif, peneliti melakukan observasi, wawancara, dan pengumpulan data dokumentasi untuk memahami makna dan fungsi wawancan dalam konteks ritual adat, khususnya dalam upacara pernikahan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa wawancan tidak hanya sebagai hiburan, tetapi juga sebagai media pembelajaran yang mengandung nilai moral serta sejarah masyarakat. Adanya kesenjangan budaya, di mana generasi muda lebih akrab dengan budaya pop, mengakibatkan pengurangan partisipasi dalam tradisi wawancan. Penelitian ini menggarisbawahi pentingnya pendidikan dan pelibatan masyarakat dalam melestarikan tradisi lisan ini untuk menghindari hilangnya identitas budaya. Kesadaran tentang nilai wawancan dapat memperkuat rasa kebersamaan dan kebanggaan komunitas. Dengan melestarikan wawancan, tidak hanya bahasa dan budaya Lampung dapat diteruskan kepada generasi mendatang, tetapi juga keterampilan berbahasa yang kaya dapat dipupuk. Melalui penelitian ini, diharapkan pengetahuan dan apresiasi terhadap wawancan semakin berkembang dalam masyarakat, serta menjadi jembatan komunikasi antar generasi dan saat yang sama menghidupkan kembali tradisi yang mulai memudar.

PERAN BUDAYA DALAM MEMBANGUN HUBUNGAN ANTARA SUKU LAMPUNG DAN JAWA DI MESUJI

This article discusses the role of culture in building relationships between the Lampung and Javanese ethnic groups in Mesuji. Through long-standing interactions, both groups demonstrate how cultural diversity can serve as a strength in creating social harmony. The Lampung people, as the indigenous inhabitants, possess rich traditions and values, while the Javanese, as migrants, bring distinct cultures and customs. The adaptation and integration processes between these two groups are evident in various aspects of daily life, including traditional ceremonies and social activities. This research aims to explore the dynamics of this intercultural relationship and its impact on community harmony in Mesuji. Artikel ini membahas peran budaya dalam membangun hubungan antara suku Lampung dan Jawa di Mesuji. Melalui interaksi yang telah berlangsung lama, kedua suku ini menunjukkan bagaimana keberagaman budaya dapat menjadi kekuatan dalam menciptakan harmoni sosial. Suku Lampung, sebagai penduduk asli, memiliki tradisi dan nilai-nilai yang kaya, sementara suku Jawa, yang merupakan pendatang, membawa serta budaya dan adat istiadat yang berbeda. Proses adaptasi dan integrasi antara kedua suku ini terlihat dalam berbagai aspek kehidupan sehari-hari, termasuk dalam upacara adat dan kegiatan sosial. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi dinamika hubungan antarbudaya ini dan dampaknya terhadap keharmonisan masyarakat di Mesuji.

Indexer Sites