KONSTRUKSI MAKNA DALAM UNGKAPAN TRADISIONAL MASYARAKAT ADAT MEGOU PAK: KAJIAN ETNOLINGUISTIK

Published: Sep 20, 2025

Abstract:

This study aims to ethnolinguistically examine the traditional expressions of the Megou Pak indigenous people in West Tulang Bawang as an effort to conserve and revitalize the language. The Megou Pak indigenous people, which historically consisted of four main clans—Buay Bulan, Buay Tegamoan, Buay Umpu, and Buay Aji—have a wealth of oral expressions rich in meaning and cultural values. However, amidst the current of modernization, the vitality of these expressions has the potential to decline. This study uses a qualitative approach with an ethnolinguistic and descriptive-analytical design. Data will be collected through in-depth interviews with traditional leaders (penyimbang) and elderly community figures, participatory observation in traditional activities, and documentation studies. The research location is centered in villages that are pockets of the Megou Pak indigenous people in West Tulang Bawang. The collected data will be analyzed semantically and contextually to identify the meaning, function, and values ​​contained in the expressions. The results show that the traditional expressions of the Megou Pak community function as self-management, social responsibility, sincerity, and mental resilience. Specifically, the phrase emphasizes the principle of flexibility as true strength, the importance of taking time to prepare, and the need for self-control and empathy.

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji secara etnolinguistik ungkapan tradisional masyarakat adat Megou Pak di Tulang Bawang Barat sebagai upaya konservasi dan revitalisasi bahasa. Masyarakat adat Megou Pak, yang secara historis terdiri dari empat marga utama—Buay Bulan, Buay Tegamoan, Buay Umpu, dan Buay Aji—memiliki kekayaan ungkapan lisan yang sarat makna dan nilai budaya. Namun, di tengah arus modernisasi, vitalitas ungkapan-ungkapan ini berpotensi menurun. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain etnolinguistik dan deskriptif-analitis. Data akan dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan pemuka adat (penyimbang) dan tokoh masyarakat sepuh, observasi partisipatif dalam kegiatan adat, serta studi dokumentasi. Lokasi penelitian berpusat di desa-desa yang menjadi kantong masyarakat adat Megou Pak di Tulang Bawang Barat. Data yang terkumpul akan dianalisis secara semantik dan kontekstual untuk mengidentifikasi makna, fungsi, dan nilai-nilai yang terkandung dalam ungkapan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ungkapan tradisional masyarakat Megou Pak berfungsi sebagai manajemen diri, tanggung jawab sosial, keikhlasan, dan ketahanan mental. Secara spesifik, ungkapan tersebut menekankan prinsip kelenturan sebagai kekuatan sejati, pentingnya memanfaatkan waktu untuk persiapan, serta perlunya kontrol diri dan empati.

Keywords:
1. Traditional Expressions
2. Ethnolinguistics
3. Megou Pak
4. Tulang Bawang Barat
Authors:
1 . Istiqomah Nurzafira
2 . Aditya Pratama
3 . Atik Kartika
4 . Siska Meirita
How to Cite
Nurzafira, I., Pratama, A., Kartika, A., & Meirita, S. (2025). KONSTRUKSI MAKNA DALAM UNGKAPAN TRADISIONAL MASYARAKAT ADAT MEGOU PAK: KAJIAN ETNOLINGUISTIK. J-Simbol: Jurnal Magister Pendidikan Bahasa Dan Sastra Indonesia, 13(2), 996–1007. https://doi.org/10.23960/simbol.v13i2.1203

Downloads

Download data is not yet available.
References

    Alamsyah. (2018). Adat dan Budaya Masyarakat Lampung. Bandar Lampung: Universitas Lampung Press.

    Ali, S., Munaris, & Mustika, I. W. (2016). Tigel Tarei Masyarakat Megou Pak Tulang Bawang dan Implikasinya terhadap Pembelajaran Seni Tari. Jurnal Seni dan Pembelajaran.

    Bachri, S. R., & Novita, D. (2024). Komersialisasi Ekspresi Budaya Tradisional Lampung dalam Skema Hak Kekayaan Intelektual Komunal. Jurnal Hukum & Kebudayaan, 6(1), 88–103.

    Badudu, J. S. (1999). Kamus Peribahasa. Pustaka Sinar Harapan.

    Baehaqi, I. (2013). Etnologi Telaah Teoritis dan Praktis. Cakrawala Media.

    Damariotimes. (2021). Patung Kepala di Kabupaten Tulang Bawang Barat.

    Duranti, A. (1997). Linguistic Anthropology. Cambridge: Cambridge University Press.

    Fadila, N. (2024). Kajian Etnolinguistik terhadap Ungkapan Tradisional dalam Ritual Adat Perkawinan di Aceh Barat Daya. Jurnal Bahasa dan Sastra Nusantara, 9(1), 22–35.

    Foley, W. A. (1997). Anthropological Linguistics: An Introduction. Oxford: Blackwell.

    Halliday, M. A. K., & Matthiessen, C. M. I. M. (2014). Halliday's Introduction to Functional Grammar (4th ed.). Routledge.

    Hymes, D. (1964). Language in Culture and Society: A Reader in Linguistics and Anthropology. New York: Harper & Row.

    Kridalaksana, H. (1994). Pembentukan Kata dalam Bahasa Indonesia. Jakarta: PT. Gramedia.

    Koentjaraningrat. (2009). Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Rineka Cipta.

    Mahsun. (2010). Revitalisasi Bahasa Daerah: Telaah terhadap Faktor-Faktor Penyebab Kepunahan Bahasa Daerah. Jakarta: Balai Pustaka.

    Mulyono, D. (2020). Pergeseran Nilai Budaya Tradisional di Era Modern. Jurnal Antropologi Nusantara, 12(2), 88-95.

    Nababan, P.W.J. (1985). Sosiolinguistik: Suatu Pengantar. Jakarta: Gramedia.

    Nurhayati, S. (2018). Budaya Lisan dan Identitas Lokal. Jurnal Kebudayaan Indonesia, 10(3), 45-52.

    Pateda, M. (2010). Semantik Leksikal. Rineka Cipta.

    Rania, R., & Zahra, S. A. (2025). Pengaruh Kesultanan Banten terhadap Kebudayaan Masyarakat Adat Megou Pak Tulang Bawang Abad XVI–XIX. UIN Raden Intan Lampung.

    Retnowati, S. (2016). Nilai Budaya dalam Peribahasa Sasak: Kajian Etnolinguistik. Jurnal Bahasa dan Sastra, 10(2), 45–58.

    Sapir, E., & Whorf, B. L. (1956). The Relation of Habitual Thought and Behavior to Language. In Language, Thought, and Reality. MIT Press.

    Sari, R., Taufik, M., & Wijaya, D. (2019). Peranan Ungkapan Lokal dalam Pembentukan Karakter Sosial Masyarakat. Jurnal Ilmu Sosial, 18(2), 70-79.

    Sibarani, R. (2015). Antropologi Budaya: Memahami Budaya dalam Kehidupan Masyarakat. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.

    Siska, N. (2022). Nilai Karakter dalam Tradisi Ngakken Anak Masyarakat Adat Megou Pak di Tulang Bawang. Jurnal Pendidikan dan Budaya Lokal, 10(1), 44–53.

    Siska. (2022). Tradisi Ngakken Anak pada Hukum Adat Megou Pak Tulang Bawang. Skripsi, FKIP Universitas Lampung.

    Suhardi, S., Evadianti, E., & Salamah, S. (2023). Strategi Pelestarian Sastra Lisan Lampung Barat Melalui Media Digital. Jurnal Ilmu Budaya, 21(2), 135–149.

    Sugianto, A. (2017). Etnolinguistik teori dan praktik. Ponorogo: CV Nata.

    Sugianto. (2019). Kajian Etnolinguistik dan Praktik Budaya Adat Lampung.

    Suparlan, P. (2019). Simbolisme dalam Ungkapan Adat Dayak. Yogyakarta: Ombak.

    Wahyuni, T. (2024). Prosesi Seni pada Perilaku Budaya Masyarakat Pepadun Megou Pak Tulangbawang dalam Perspektif Etnografi Komunikasi. Dalam Meneroka Bahasa, Sastra, dan Aksara Lampung. Deepublish.

    Wierzbicka, A. (1991). Cross-Cultural Pragmatics: The Semantics of Human Interaction. Berlin: Mouton de Gruyter.

  1. Alamsyah. (2018). Adat dan Budaya Masyarakat Lampung. Bandar Lampung: Universitas Lampung Press.
  2. Ali, S., Munaris, & Mustika, I. W. (2016). Tigel Tarei Masyarakat Megou Pak Tulang Bawang dan Implikasinya terhadap Pembelajaran Seni Tari. Jurnal Seni dan Pembelajaran.
  3. Bachri, S. R., & Novita, D. (2024). Komersialisasi Ekspresi Budaya Tradisional Lampung dalam Skema Hak Kekayaan Intelektual Komunal. Jurnal Hukum & Kebudayaan, 6(1), 88–103.
  4. Badudu, J. S. (1999). Kamus Peribahasa. Pustaka Sinar Harapan.
  5. Baehaqi, I. (2013). Etnologi Telaah Teoritis dan Praktis. Cakrawala Media.
  6. Damariotimes. (2021). Patung Kepala di Kabupaten Tulang Bawang Barat.
  7. Duranti, A. (1997). Linguistic Anthropology. Cambridge: Cambridge University Press.
  8. Fadila, N. (2024). Kajian Etnolinguistik terhadap Ungkapan Tradisional dalam Ritual Adat Perkawinan di Aceh Barat Daya. Jurnal Bahasa dan Sastra Nusantara, 9(1), 22–35.
  9. Foley, W. A. (1997). Anthropological Linguistics: An Introduction. Oxford: Blackwell.
  10. Halliday, M. A. K., & Matthiessen, C. M. I. M. (2014). Halliday's Introduction to Functional Grammar (4th ed.). Routledge.
  11. Hymes, D. (1964). Language in Culture and Society: A Reader in Linguistics and Anthropology. New York: Harper & Row.
  12. Kridalaksana, H. (1994). Pembentukan Kata dalam Bahasa Indonesia. Jakarta: PT. Gramedia.
  13. Koentjaraningrat. (2009). Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Rineka Cipta.
  14. Mahsun. (2010). Revitalisasi Bahasa Daerah: Telaah terhadap Faktor-Faktor Penyebab Kepunahan Bahasa Daerah. Jakarta: Balai Pustaka.
  15. Mulyono, D. (2020). Pergeseran Nilai Budaya Tradisional di Era Modern. Jurnal Antropologi Nusantara, 12(2), 88-95.
  16. Nababan, P.W.J. (1985). Sosiolinguistik: Suatu Pengantar. Jakarta: Gramedia.
  17. Nurhayati, S. (2018). Budaya Lisan dan Identitas Lokal. Jurnal Kebudayaan Indonesia, 10(3), 45-52.
  18. Pateda, M. (2010). Semantik Leksikal. Rineka Cipta.
  19. Rania, R., & Zahra, S. A. (2025). Pengaruh Kesultanan Banten terhadap Kebudayaan Masyarakat Adat Megou Pak Tulang Bawang Abad XVI–XIX. UIN Raden Intan Lampung.
  20. Retnowati, S. (2016). Nilai Budaya dalam Peribahasa Sasak: Kajian Etnolinguistik. Jurnal Bahasa dan Sastra, 10(2), 45–58.
  21. Sapir, E., & Whorf, B. L. (1956). The Relation of Habitual Thought and Behavior to Language. In Language, Thought, and Reality. MIT Press.
  22. Sari, R., Taufik, M., & Wijaya, D. (2019). Peranan Ungkapan Lokal dalam Pembentukan Karakter Sosial Masyarakat. Jurnal Ilmu Sosial, 18(2), 70-79.
  23. Sibarani, R. (2015). Antropologi Budaya: Memahami Budaya dalam Kehidupan Masyarakat. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.
  24. Siska, N. (2022). Nilai Karakter dalam Tradisi Ngakken Anak Masyarakat Adat Megou Pak di Tulang Bawang. Jurnal Pendidikan dan Budaya Lokal, 10(1), 44–53.
  25. Siska. (2022). Tradisi Ngakken Anak pada Hukum Adat Megou Pak Tulang Bawang. Skripsi, FKIP Universitas Lampung.
  26. Suhardi, S., Evadianti, E., & Salamah, S. (2023). Strategi Pelestarian Sastra Lisan Lampung Barat Melalui Media Digital. Jurnal Ilmu Budaya, 21(2), 135–149.
  27. Sugianto, A. (2017). Etnolinguistik teori dan praktik. Ponorogo: CV Nata.
  28. Sugianto. (2019). Kajian Etnolinguistik dan Praktik Budaya Adat Lampung.
  29. Suparlan, P. (2019). Simbolisme dalam Ungkapan Adat Dayak. Yogyakarta: Ombak.
  30. Wahyuni, T. (2024). Prosesi Seni pada Perilaku Budaya Masyarakat Pepadun Megou Pak Tulangbawang dalam Perspektif Etnografi Komunikasi. Dalam Meneroka Bahasa, Sastra, dan Aksara Lampung. Deepublish.
  31. Wierzbicka, A. (1991). Cross-Cultural Pragmatics: The Semantics of Human Interaction. Berlin: Mouton de Gruyter.

Most read articles by the same author(s)