Arab ethnic traders have long occupied various areas in Purwokerto. This Arab community was born and developed through the acculturation of descendants from Hadramaut, Yemen. In daily communication, the Arab community uses Arabic, Indonesian, and Javanese, especially in trade. This study looks into how Arab traders from the Arab ethnic group in Purwokerto, Banyumas use and mix different language codes when they speak. The approach taken is a descriptive qualitative method that looks at language from a sociolinguistic viewpoint. Data were collected using participant observation, semi-structured interviews, and recording conversations at six different trading sites. The study shows that Arab traders who are from ethnic groups use code-switching between different languages, like Indonesian, Javanese Ngapak, and Arabic. They also switch between different levels of the Javanese language, such as from Ngoko to Krama, as ways to communicate better depending on the situation they are in. Code mixing is also common, especially when people add Arabic words into their Indonesian or Javanese sentences. These language features help in: (1) meeting the communication needs of local buyers, (2) assisting in discussions and convincing others during business talks, (3) showing cultural and religious background, and (4) adjusting to life in a place with many different ethnic groups. This study finds that the different ways Arab traders speak show their ability to use many languages and manage their identity in a constantly changing language environment.
Pedagang etnis Arab sudah lama tinggal dan menetap di wilayah Purwokerto. Komunitas Arab ini lahir dan tumbuh dari akulturasi keturunan Hadramaut, Yaman. Dalam komunikasi sehari-hari komunitas Arab menggunakan bahasa Arab, bahasa Indonesia, dan bahasa Jawa terutama dalam perdagangan. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan bagaimana pedagang etnis Arab di Purwokerto, Banyumas menggunakan serta menggabungkan berbagai kode bahasa dalam berbicara. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan sosiolinguistik. Data didapat dengan mengamati partisipan, melakukan wawancara yang terstruktur, dan mencatat percakapan di enam tempat perdagangan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pedagang etnis Arab menggunakan cara mengubah bahasa antar budaya, seperti dari bahasa Indonesia, Jawa Ngapak, dan Arab, serta mengubah cara berbicara dalam bahasa Jawa sendiri, yaitu peralihan dari Bahasa Ngoko ke Bahasa Krama, sebagai cara berkomunikasi yang bisa menyesuaikan diri dengan situasi. Campur kode juga banyak terjadi, terutama dalam bentuk memasukkan kata-kata Arab ke dalam percakapan menggunakan bahasa Indonesia atau Jawa. Fenomena ini berperan sebagai: (1) cara untuk memenuhi kebutuhan komunikasi pembeli lokal, (2) alat untuk bernegoisasi dan meyakinkan pihak lain dalam proses transaksi, (3) tanda dari identitas budaya dan agama, serta (4) bentuk penyesuaian diri dalam lingkungan yang terdiri dari berbagai kelompok etnis. Implikasi penelitian ini berkontribusi terhadap pengembangan pelestarian bahasa Banyumasan sebagai identitas daerah, sekaligus memperluas wawasan mengenai praktik penggunaan bahasa lokal dalam interaksi sosial dan ekonomi masyarakat multietnis.