J-Simbol: Jurnal Magister Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia

J-Simbol: Jurnal Magister Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia is a biannual journal (April and September) published by the Master of Indonesian Language and Literature Education study program, Faculty of Teacher Training and Education, University of Lampung.

The journal aims to promote the development of links between research in education, linguistics, applied linguistics, arts, as well as literature and its application in professional and educational settings. Therefore, the journal in... Readmore

J-Simbol: Jurnal Magister Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia is a biannual journal (April and September) published by the Master of Indonesian Language and Literature Education study program, Faculty of Teacher Training and Education, University of Lampung.

The journal aims to promote the development of links between research in education, linguistics, applied linguistics, arts, as well as literature and its application in professional and educational settings. Therefore, the journal invites researchers, scholars, students to submit their research articles and literature reviews for publication in this journal.

ISSN
2355-4061 (printed) | 2830-5256 (online)
Published
2026-09-19
sinta-4

Articles

SEMIOTIKA PESAN MORAL DALAM FIM “DUA GARIS BIRU” TEORI ROLAND BARTHES KARYA GINA S.NOER

This study aims to reveal the moral messages in the film Dua Garis Biru using Roland Barthes’ semiotics. The film depicts the complexity of problems faced by teenagers after premarital pregnancy, highlighting the tensions between expectations, responsibility, and social consequences. Employing Barthes’ semiotic theory, this research investigates how both verbal and visual signs form profound meanings related to morality, social norms, and cultural pressures. Through two stages of analysis—denotation (literal meaning) and connotation (interpretative meaning)—the study identifies both direct meanings and complex interpretations reflecting societal moral values. The results show that the film conveys a strong moral message about the importance of personal and social responsibility in facing the consequences of an action. Furthermore, the film illustrates how society tends to judge individuals’ life choices. This research provides insight that film can serve as an effective medium for conveying moral messages through the use of richly meaningful signs.   Penelitian ini bertujuan mengungkap pesan moral dalam film Dua Garis Biru menggunakan semiotika Roland Barthes. Film ini menggambarkan kompleksitas masalah yang dihadapi remaja setelah hamil di luar nikah, menyoroti pertentangan antara harapan, tanggung jawab, dan dampak sosial. Dengan teori Barthes, penelitian menyelidiki bagaimana tanda verbal dan visual membentuk makna mendalam terkait moralitas, norma sosial, dan tekanan budaya. Melalui dua tahap analisis—denotasi (makna literal) dan konotasi (makna interpretatif)—penelitian mengidentifikasi makna langsung maupun interpretasi kompleks yang merefleksikan nilai moral masyarakat. Hasil analisis menunjukkan bahwa film ini menyampaikan pesan moral kuat tentang pentingnya tanggung jawab pribadi dan sosial dalam menghadapi konsekuensi tindakan. Selain itu, film menggambarkan kecenderungan masyarakat memberikan penilaian terhadap pilihan hidup individu. Penelitian ini memberikan wawasan bahwa film dapat berfungsi sebagai sarana efektif menyampaikan pesan moral melalui tanda-tanda yang kaya makna.

INTERFERENSI BAHASA KANGEAN TERHADAP BAHASA INDONESIA DALAM TEKS KULTUM SISWA SMA MUHAMMADIYAH 3 ARJASA SUMENEP

This study aims to describe the forms of Kangean language interference in Indonesian, identify the factors contributing to its occurrence, and explain the functions of such interference in kultum (Islamic short sermon) texts written by students of SMA Muhammadiyah 3 Arjasa. This study employed a qualitative descriptive approach. The primary data consisted of students' kultum texts, while supporting data were obtained through interviews with the Vice Principal for ISMUBA Affairs, an Indonesian language teacher, and an Islamic Education teacher. Data were collected through documentation and interviews and analyzed using an interactive model involving data reduction, data display, conclusion drawing, and verification through technique triangulation. The findings revealed 29 instances of Kangean language interference, comprising 8 morphological, 14 lexical, and 7 syntactic interferences. Morphological interference was characterized by the transfer of Kangean affixation patterns into Indonesian word formation, lexical interference by the use of Kangean vocabulary in Indonesian discourse, and syntactic interference by sentence structures influenced by Kangean grammatical patterns. The occurrence of interference was influenced by bilingualism, the dominance of Kangean as the students' first language, habitual use of the local language, limited mastery of Indonesian vocabulary, and the surrounding social environment.   Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan bentuk-bentuk interferensi bahasa Kangean terhadap bahasa Indonesia, mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi kemunculannya, serta menjelaskan fungsi interferensi dalam teks kultum siswa SMA Muhammadiyah 3 Arjasa. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Data utama berupa teks kultum siswa, sedangkan data pendukung diperoleh melalui wawancara dengan Wakil Kepala Sekolah Bidang ISMUBA, guru Bahasa Indonesia, dan guru Pendidikan Agama Islam. Data dikumpulkan melalui teknik dokumentasi dan wawancara, kemudian dianalisis menggunakan model analisis interaktif yang meliputi reduksi data, penyajian data, penarikan simpulan, dan verifikasi melalui triangulasi teknik. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 29 data interferensi yang terdiri atas 8 interferensi morfologis, 14 interferensi leksikal, dan 7 interferensi sintaktis. Interferensi morfologis ditandai oleh penggunaan pola afiksasi bahasa Kangean dalam pembentukan kata bahasa Indonesia, interferensi leksikal ditandai oleh penggunaan kosakata bahasa Kangean dalam tuturan berbahasa Indonesia, sedangkan interferensi sintaktis tampak pada penggunaan frasa dan kalimat yang masih mengikuti pola sintaksis bahasa Kangean.

PENGGUNAAN BAHASA GAUL DALAM KOLOM KOMENTAR AKUN INSTAGRAM KONTEN KREATOR LAMPUNG @dayintaa

This study aims to identify and describe the forms and meanings of slang used in the comment sections of the Instagram account @dayintaa_ on posts made during May and June. The theoretical framework relies on the views of Kridalaksana (2009) and Muslich (2008). A qualitative approach with a descriptive method was employed. The research data consists of vocabulary classified as slang found in Instagram comments, while the object of study is the use of slang by users on the @dayintaa_ account. Data was sourced from comments on the account, and collection was carried out using the "listen and note" (simak dan catat) method. The analysis revealed 70 instances of slang, comprising 14 abbreviations, 4 loanwords, 7 acronyms, 3 metatheses, 9 contractions, 6 clippings, 3 instances of foreign language usage, 10 improvisations of root words, 2 monophthongizations, and 12 newly coined words. Among these, abbreviations were the most dominant form of slang, as they are considered practical and facilitate faster communication on social media. Furthermore, the emergence of newly coined words demonstrates the creativity of social media users in generating vocabulary variations that align with linguistic evolution in the digital space.   Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi serta mendeskripsikan bentuk dan makna bahasa gaul yang digunakan dalam kolom komentar akun Instagram @dayintaa_ pada unggahan selama bulan Mei dan Juni. Landasan teori yang digunakan dalam penelitian ini mengacu pada pendapat Kridalaksana (2009) dan Muslich (2008). Penelitian ini menerapkan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Data penelitian berupa kosakata yang tergolong sebagai bahasa gaul dalam kolom komentar Instagram, sedangkan objek penelitian adalah penggunaan bahasa gaul oleh para pengguna pada akun @dayintaa_. Sumber data diperoleh dari komentar-komentar yang terdapat pada akun tersebut. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui metode simak dan catat. Berdasarkan hasil analisis, ditemukan sebanyak 70 data bahasa gaul yang terdiri atas 14 bentuk singkatan, 4 kata serapan, 7 akronim, 3 metatesis, 9 kontraksi, 6 pemenggalan, 3 penggunaan bahasa asing, 10 improvisasi kata asal, 2 bentuk monoftongisasi, dan 12 bentuk kata baru. Dari seluruh data tersebut, bentuk singkatan merupakan jenis bahasa gaul yang paling dominan digunakan karena dinilai lebih praktis dan mampu mempercepat proses komunikasi di media sosial. Selain itu, kemunculan bentuk-bentuk kata baru juga menunjukkan kreativitas pengguna media sosial dalam menciptakan variasi kosakata yang sesuai dengan perkembangan bahasa di ruang digital.

ANTARA MUSIBAH DAN KELALAIAN: ANALISIS FRAMING PADA PEMBERITAAN RUNTUHNYA PONDOK PESANTREN AL-KHOZINY DI KOMPAS.COM DAN BERITAJATIM.COM

This study aims to describe and compare the framing employed by Kompas.com and Beritajatim.com in reporting the tragedy and its implications for news text learning. The study employed a qualitative approach with a descriptive method and utilized the Pan and Kosicki framing analysis model, which includes syntactic, script, thematic, and rhetorical structures. The research data consisted of news articles concerning the Al-Khoziny Islamic Boarding School tragedy published by both media outlets during September–October 2025. Data were collected through documentation and note-taking techniques, while data analysis was conducted through data reduction, data presentation, and conclusion drawing. The findings reveal that Kompas.com emphasizes alleged negligence, violations of safety procedures, and legal accountability, whereas Beritajatim.com focuses more on humanitarian aspects, the atmosphere of grief, and the victim evacuation process. These differences in framing demonstrate that each media outlet has its own way of interpreting an event; therefore, readers need to critically evaluate information presented by the mass media.   Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan membandingkan framing yang digunakan oleh Kompas.com dan Beritajatim.com dalam memberitakan tragedi tersebut serta implikasinya terhadap pembelajaran teks berita. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif dan model analisis framing Pan dan Kosicki yang meliputi struktur sintaktik, skrip, tematik, dan retoris. Data penelitian berupa berita tentang tragedi Pondok Pesantren Al-Khoziny yang diterbitkan oleh kedua media pada periode September - Oktober 2025. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui studi dokumentasi dan teknik baca-catat, sedangkan analisis data dilakukan melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kompas.com lebih menonjolkan aspek dugaan kelalaian, pelanggaran prosedur keselamatan, serta pertanggungjawaban hukum, sedangkan Beritajatim.com lebih menekankan sisi kemanusiaan, suasana duka, dan proses evakuasi korban. Perbedaan framing tersebut menunjukkan bahwa media memiliki cara tersendiri dalam memaknai suatu peristiwa sehingga pembaca perlu bersikap kritis dalam memahami informasi yang disajikan oleh media massa.

EFEKTIVITAS MEDIA VIDIO ANIMASI TERHADAP PEMBELAJARAN MENULIS PERMULAAN KELAS II MIN 7 SELUMA

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efektivitas penggunaan media video animasi terhadap hasil belajar membaca permulaan siswa kelas II MIN 7 Seluma. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode eksperimen. Metode eksperimen digunakan untuk mengetahui efektivitas media video animasi terhadap keterampilan menulis permulaan siswa kelas II MIN 7 Seluma. Desain eksperimen yang digunakan dalam penelitian ini adalah One Group Pretest–Posttest Design, yaitu desain eksperimen sederhana yang melibatkan satu kelompok tanpa kelompok pembanding. Berdasarkan hasil penelitian pada 26 siswa kelas II MIN 7 Seluma, penggunaan media video animasi terbukti efektif meningkatkan kemampuan menulis permulaan siswa. Nilai rata-rata siswa meningkat dari 61,2 pada pretest menjadi 82,4 pada posttest, dengan peningkatan sebesar 21,2 poin. Ketuntasan belajar juga mengalami peningkatan dari 28% (7 siswa) sebelum perlakuan menjadi 72% (19 siswa) setelah pembelajaran menggunakan media video animasi. Hasil analisis N-Gain sebesar 0,55 menunjukkan peningkatan pada kategori sedang. Peningkatan kemampuan terlihat pada aspek ketepatan bentuk huruf, kerapian tulisan, ketepatan penulisan kata, kemampuan menulis kalimat sederhana, serta keterbacaan tulisan. Selain itu, siswa terlihat lebih aktif, fokus, dan antusias selama proses pembelajaran berlangsung. Dengan demikian, media video animasi efektif digunakan untuk meningkatkan kemampuan menulis permulaan siswa kelas rendah   The purpose of this study was to determine the effectiveness of using animated video media on the learning outcomes of second-grade students at MIN 7 Seluma. This study used a quantitative approach with an experimental method. The experimental method was used to determine the effectiveness of animated video media on the beginning writing skills of second-grade students at MIN 7 Seluma. The experimental design used in this study was a One Group Pretest–Posttest Design, a simple experimental design involving one group without a comparison group. Based on the results of the study on 26 second-grade students at MIN 7 Seluma, the use of animated video media was proven effective in improving students' beginning writing skills. The average student score increased from 61.2 in the pretest to 82.4 in the posttest, representing an increase of 21.2 points. Learning completion also increased from 28% (7 students) before treatment to 72% (19 students) after learning using animated video media. The N-Gain analysis results of 0.55 indicated a moderate improvement. Improved skills were evident in letterform accuracy, neatness of writing, word accuracy, simple sentence writing, and legibility. Furthermore, students appeared more active, focused, and enthusiastic during the learning process. Therefore, animated video media is effective in improving the beginning writing skills of lower-grade students.

ANALISIS MAKNA KONTEKSTUAL DALAM KANAL YOUTUBE KOK BISA? SEBAGAI BAHAN AJAR ARTIKEL ILMIAH POPULER DI SMP

Abstract This study aims to explain the forms of meaning representation related to context, and explain the importance of this as learning material in popular scientific articles for junior high school students. This study uses a descriptive qualitative approach and analyzes the data content using the content analysis method based on Krippendorff's model, which consists of four stages: unitization, coding, interpretation, and data narration. The data were analyzed based on eleven types of context according to Mansoer Pateda, including personal, situational, purposive, formal or informal, mood, temporal, spatial, object, instrumental, linguistic (co-text), and language-similarity contexts. The study shows that all eleven of these contexts appear in the video narration. The use of casual diction, the personification of biological terms, and common analogies such as "computer error" and "working overtime" shift the meaning of scientific words into meanings that are more aligned with the context of communication. These findings can be developed as teaching material in popular scientific articles because they offer a model for the context-appropriate simplification of scientific concepts that is able to adapt to the digital experiences of junior high school students.   Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan bentuk-bentuk representasi makna yang berkaitan dengan konteks, serta menjelaskan pentingnya hal tersebut sebagai bahan pembelajaran dalam artikel ilmiah populer untuk siswa SMP. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dan menganalisis isi data dengan metode content analysis berdasarkan model Krippendorff, yang terdiri dari empat tahap yaitu unitisasi, pengkodean, interpretasi, dan penyusunan narasi data. Data tersebut dianalisis berdasarkan sebelas jenis konteks menurut Mansoer Pateda, meliputi konteks pribadi, situasional, tujuan, formal atau informal, suasana hati, waktu, tempat, objek, alat kelengkapan, kebahasaan (ko-teks), serta kesamaan bahasa. Penelitian menunjukkan bahwa semua sebelas konteks tersebut muncul dalam narasi video. Penggunaan diksi yang santai, mempersonifikasikan istilah biologis, serta analogi yang umum seperti "komputer error" dan "kerja lembur" membawa makna kata-kata ilmiah menjadi makna yang lebih sesuai dengan konteks komunikasi. Temuan ini dapat dikembangkan sebagai bahan ajar dalam artikel ilmiah populer karena menawarkan model penyederhanaan konsep sains yang sesuai dengan konteks dan mampu menyesuaikan diri dengan pengalaman digital siswa SMP.

RANCANG BANGUN MEDIA PEMBELAJARAN MATERI SE PRÉSENTER UNTUK KETERAMPILAN MEMBACA BAHASA PRANCIS TINGKAT A1

This study aims to develop an interactive video learning resource based on Canva and YouTube for the “Se Présenter” module in A1-level French reading comprehension. This study employs the Research and Development (R&D) method using the PPE (Planning, Product, Evaluation) development model (Richey & James, 2007). The planning stage involved analyzing the needs of beginner students regarding self-introduction material. The Product stage resulted in an interactive video designed based on the principles of multimedia learning. The evaluation stage was conducted through validation by subject matter experts and media experts to determine the suitability of the learning media. The results of the study indicate that the media developed in this research is suitable for use, engaging, easy to understand, and helpful in understanding vocabulary and simple sentence structures. Thus, this media can be used as an innovative alternative for teaching basic-level French reading comprehension.   Penelitian ini bertujuan mengembangkan media pembelajaran berupa video interaktif berbasis Canva dan YouTube untuk materi “Se Présenter” pada keterampilan membaca pemahaman bahasa Prancis tingkat A1. Penelitian ini menggunakan metode Research and Development (R&D) dengan model pengembangan PPE (Planning, Product, Evaluation) (Richey & James, 2007). Tahap planning meliputi analisis kebutuhan mahasiswa pemula terhadap materi perkenalan diri. Tahap Produk menghasilkan video interaktif yang disusun berdasarkan prinsip multimedia learning. Tahap evaluasi dilakukan melalui validasi oleh ahli materi dan ahli media untuk mengetahui kelayakan media pembelajaran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa media yang dikembangkan pada penelitian dinyatakan layak digunakan, menarik, mudah dipahami, dan membantu dalam pemahaman kosakata serta struktur kalimat sederhana. Dengan demikian, media ini dapat digunakan sebagai media alternatif inovatif untuk pembelajaran pemahaman bahasa Prancis tingkat dasar.

ANALISIS UNSUR INTRINSIK DALAM NOVEL DI TANAH LADA KARYA ZIGGY ZEZSYAZEOVIENNAZABRIZKIE SERTA PEMANFAATANNYA SEBAGAI BAHAN AJAR BAHASA INDONESIA DI SMA

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan unsur-unsur intrinsik dan memanfaatkan hasil analisis tersebut sebagai dasar penyusunan bahan ajar berbentuk handout bagi peserta didik SMA. Penelitian menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan Research & Development (RnD). Teknik pengumpulan data dilakukan melalui studi pustaka dengan teknik simak dan catat, sedangkan analisis data menggunakan model analisis interaktif Miles dan Huberman yang meliputi pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa novel Di Tanah Lada memiliki unsur intrinsik yang lengkap dan saling berkaitan. Tema utama yang diusung merupakan ketulusan persahabatan anak-anak di tengah bayang-bayang trauma kekerasan dalam rumah tangga (child abuse). Penokohan dibangun secara kuat melalui karakter tokoh utama dan tokoh pendukung, alur berkembang secara progresif, latar mampu memperkuat suasana cerita, sudut pandang orang pertama memberikan kedalaman emosional, gaya bahasa yang didominasi oleh majas personifikasi dan metafora yang memperkuat nilai estetis karya, serta amanat yang fundamental. Berdasarkan hasil analisis tersebut disusun bahan ajar berbentuk handout yang sesuai dengan Capaian Pembelajaran Kurikulum Merdeka sehingga layak dimanfaatkan sebagai alternatif media pembelajaran analisis novel di tingkat SMA.   This study aims to describe the intrinsic elements of the novel and to utilize the findings as the basis for developing a handout as teaching material for senior high school students. This research employed a qualitative descriptive method with a Research and Development (R&D) approach. Data were collected through a literature study using reading and note-taking techniques, while data analysis employed the interactive analysis model proposed by Miled and Huberman, which includes data collection, data reduction, data display, and conclusion drawing. The findings indicate that Di Tanah Lada contains complete and interconnected intrinsic elements. The novel’s central theme is the sincerity of children’s friendship aid the shadow of domestic violence and child abuse. Characterization is strongly developed through both the main and supporting characters, the plot progresses chronologically, the setting effectively reinforces the atmosphere of the story, the first-person point of view provides emotional depth, the language style is predominantly characterized by personification and metaphor, which enhance the novel’s aesthetic value, and the moral message us conveyed in a profound and meaningful manner. Based on these findings, a handout was developed in accordance with the Learning Outcome if the Merdeka Curriculum, making it a feasible alternative instructional material for teaching novel analysis at the senior high school level.

MAKNA KERINDUAN DAN KEHILANGAN MELALUI PENGGUNAAN METAFORA DALAM BUKU PUISI AKU HENDAK PINDAH RUMAH KARYA M. AAN MANSYUR SEBAGAI BAHAN AJAR PUISI DI SMA

The objectives of this study were to describe the meanings of longing and loss in thirteen selected poems from Aku Hendak Pindah Rumah by M. Aan Mansyur, to describe the use of metaphors in expressing these meanings, and to describe the utilization of the findings as poetry teaching material for senior high schools. This study employed a qualitative approach using a descriptive method. Data were collected through documentation, reading, and note-taking techniques, while the data were analyzed through data reduction, data display, and conclusion drawing.The findings revealed that the meaning of longing was represented through four aspects: emotional attachment (22 data), separation (7 data), longing (4 data), and emotional impact (2 data). Meanwhile, the meaning of loss was represented through object loss (4 data), grief reaction (6 data), continuing attachment (6 data), and emptiness (1 datum). These findings indicate that M. Aan Mansyur's poems predominantly portray emotional attachment, grief, and memories as emotional experiences in expressing longing and loss. Metaphors serve as the primary medium for conveying these emotional experiences in an aesthetic and profound manner. Furthermore, the findings of this study were utilized as the basis for developing a poetry learning module for tenth-grade senior high school students in accordance with the Merdeka Curriculum.   Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan makna kerinduan dan kehilangan dalam 13 puisi pilihan pada buku puisi Aku Hendak Pindah Rumah karya M. Aan Mansyur, mendeskripsikan penggunaan metafora dalam mengungkapkan kedua makna tersebut, serta mendeskripsikan pemanfaatan hasil analisis sebagai bahan ajar puisi di SMA. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui studi dokumentasi dengan teknik simak dan catat, sedangkan analisis data meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan simpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa makna kerinduan direpresentasikan melalui empat aspek, yaitu keterikatan emosional sebanyak 22 data, keterpisahan 7 data, kerinduan (longing) 4 data, dan dampak emosional 2 data. Sementara itu, makna kehilangan direpresentasikan melalui aspek kehilangan objek sebanyak 4 data, reaksi duka 6 data, keterikatan yang masih bertahan 6 data, serta kehampaan atau kekosongan 1 data. Temuan tersebut menunjukkan bahwa puisi-puisi karya M. Aan Mansyur lebih banyak merepresentasikan keterikatan emosional, kesedihan, dan kenangan sebagai bentuk pengalaman emosional dalam mengungkapkan kerinduan dan kehilangan. Penggunaan metafora menjadi sarana utama dalam menyampaikan pengalaman emosional tersebut secara estetik dan mendalam. Hasil penelitian ini dimanfaatkan sebagai dasar penyusunan modul pembelajaran puisi bagi peserta didik kelas X SMA sesuai dengan Kurikulum Merdeka.

KAJIAN PRAGMATIK KALIMAT EKSPRESIF NETIZEN PADA KOMENTAR TIKTOK KASUS GURU MANSYUR

This study aims to describe the linguistic forms, pragmatic functions, and speech strategies of expressive speech acts employed by netizens in the comment section of the account. The study adopted a descriptive qualitative approach within the framework of pragmatics. The data consisted of netizens' comments containing expressive speech acts and were collected through documentation techniques. Data were analyzed using an interactive analysis model involving data condensation, data display, and conclusion drawing, while data trustworthiness was established through theory triangulation and peer debriefing. The findings reveal that expressive speech acts are realized through declarative, interrogative, and imperative sentence forms, with declarative sentences serving as the dominant means of expressing attitudes. The identified pragmatic functions include expressing sympathy, hope, praise, condemnation, blame, and protest. These functions demonstrate a polarization of speech targets, namely support directed toward Guru Mansyur and criticism addressed to law enforcement officers and other parties perceived to be involved in the legal process. The study also reveals a systematic relationship between pragmatic functions and speech strategies. Expressions of sympathy, hope, and praise are predominantly realized through positive politeness strategies, whereas condemnation and blame are mainly conveyed through bald on-record strategies. Meanwhile, protest is more frequently expressed through off-record strategies.   Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan bentuk lingual, fungsi pragmatik, dan strategi tuturan tindak tutur ekspresif yang digunakan netizen dalam kolom komentar tersebut. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan perspektif pragmatik. Data penelitian berupa komentar netizen yang mengandung tindak tutur ekspresif dan dikumpulkan melalui teknik dokumentasi. Analisis data dilakukan menggunakan model analisis interaktif yang meliputi kondensasi data, penyajian data, dan penarikan simpulan, sedangkan keabsahan data diperoleh melalui triangulasi teori dan diskusi sejawat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tindak tutur ekspresif direalisasikan melalui bentuk deklaratif, interogatif, dan imperatif, dengan dominasi bentuk deklaratif sebagai media utama penyampaian sikap. Fungsi pragmatik yang ditemukan meliputi bersimpati, berharap, memuji, mengecam, menyalahkan, dan memprotes. Fungsi-fungsi tersebut memperlihatkan adanya polarisasi sasaran tuturan, yaitu dukungan kepada Guru Mansyur serta kritik terhadap aparat penegak hukum dan pihak lain yang dipersepsikan berkaitan dengan proses hukum. Penelitian ini juga menemukan hubungan yang sistematis antara fungsi pragmatik dan strategi tuturan. Fungsi bersimpati, berharap, dan memuji cenderung direalisasikan melalui strategi positive politeness, sedangkan fungsi mengecam dan menyalahkan lebih banyak menggunakan strategi bald on-record, sementara fungsi memprotes cenderung diwujudkan melalui strategi off-record.

ANALISIS KESALAHAN SINTAKSIS PADA TULISAN PEMELAJAR BIPA LEVEL B1

This study aims to describe the forms and classification of syntactic errors found in the written production of BIPA learners at level B1. A qualitative descriptive approach was used. The data consisted of written products produced by intermediate BIPA learners in two BIPA institutions, namely Pusat Bahasa Sumedang and Pusat Pengembangan Bahasa Jakarta. Eighteen documents were analyzed, comprising five training documents from BIPA 3 learners in Sumedang and thirteen writing-task documents from BIPA 4 learners in Jakarta. Data were collected through observation and documentation and analyzed using syntactic rules from the Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia and Setyawati’s classification. The findings show 50 syntactic-error data, consisting of 40 errors at the phrase level and 10 errors at the sentence level. The most frequent category is inappropriate word order with 20 data, followed by inappropriate preposition use with 12 data. Other errors include excessive or redundant elements, excessive superlative forms, subjectless sentences, predicateless sentences, subject duplication, illogical sentences, and unnecessary use of foreign terms. These findings indicate that word arrangement and preposition selection are the main syntactic difficulties in the analyzed BIPA learners’ writing.   Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan bentuk dan klasifikasi kesalahan sintaksis yang ditemukan dalam tulisan pemelajar BIPA level B1. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Data penelitian berupa tulisan pemelajar BIPA tingkat menengah dari dua lembaga, yaitu Pusat Bahasa Sumedang dan Pusat Pengembangan Bahasa Jakarta. Sebanyak delapan belas dokumen dianalisis, terdiri atas lima dokumen pelatihan pemelajar BIPA 3 di Sumedang dan tiga belas dokumen tugas menulis pemelajar BIPA 4 di Jakarta. Data dikumpulkan melalui observasi dan dokumentasi, kemudian dianalisis berdasarkan kaidah Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia dan klasifikasi Setyawati. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 50 data kesalahan sintaksis, yang terdiri atas 40 kesalahan pada tataran frasa dan 10 kesalahan pada tataran kalimat. Kesalahan yang paling dominan adalah susunan kata yang tidak tepat sebanyak 20 data, diikuti penggunaan preposisi yang tidak tepat sebanyak 12 data. Jenis kesalahan lain meliputi penggunaan unsur yang berlebihan atau mubazir, penggunaan bentuk superlatif yang berlebihan, kalimat tidak bersubjek, kalimat tidak berpredikat, penggandaan subjek, kalimat yang tidak logis, dan penggunaan istilah asing. Temuan tersebut menunjukkan bahwa penataan unsur dalam frasa dan pemilihan preposisi menjadi kesulitan sintaksis utama dalam tulisan pemelajar BIPA yang dianalisis.

KESANTUNAN BERBAHASA DALAM TINDAK TUTUR PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA DI MAN LAMANDAU: KAJIAN PRAGMATIK

This study aims to describe the forms of speech acts and language politeness strategies employed by teachers and students in Indonesian language learning at MAN Lamandau. This research employed a qualitative approach with a descriptive design. The data consisted of teachers' and students' spoken utterances collected through classroom observation, audio recording, and field notes. The data were analyzed using pragmatic and sociopragmatic approaches based on speech act theory and Brown and Levinson's politeness strategies. The findings indicate that classroom interactions contain various forms of speech acts, including directive, representative, expressive, commissive, and declarative speech acts. The politeness strategies identified comprise positive politeness, negative politeness, bald-on-record, and off-record strategies. Positive politeness is predominantly employed by teachers to encourage student participation, strengthen interpersonal relationships, and foster a supportive learning environment. Meanwhile, students tend to employ negative politeness strategies as a means of expressing respect toward teachers. The selection of politeness strategies is influenced by the communicative context, social relationships, institutional roles, and instructional objectives. These findings demonstrate that the appropriate use of language politeness supports effective classroom communication while contributing to students' character development and the cultivation of respectful educational interactions.   Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan bentuk tindak tutur dan strategi kesantunan berbahasa yang digunakan oleh guru dan siswa dalam pembelajaran Bahasa Indonesia di MAN Lamandau. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Data penelitian berupa tuturan lisan guru dan siswa yang diperoleh melalui observasi, perekaman, dan pencatatan selama proses pembelajaran. Analisis data dilakukan menggunakan pendekatan pragmatik dan sosiopragmatik dengan berlandaskan teori tindak tutur serta strategi kesantunan Brown dan Levinson. Hasil penelitian menunjukkan bahwa interaksi pembelajaran memuat berbagai bentuk tindak tutur, yaitu direktif, representatif, ekspresif, komisif, dan deklaratif. Strategi kesantunan yang ditemukan meliputi kesantunan positif, kesantunan negatif, bald on record, dan off record. Kesantunan positif merupakan strategi yang paling dominan digunakan guru untuk membangun kedekatan, memotivasi siswa, dan menciptakan suasana belajar yang kondusif. Sementara itu, siswa lebih banyak menggunakan strategi kesantunan negatif sebagai bentuk penghormatan terhadap guru. Pemilihan strategi kesantunan dipengaruhi oleh konteks tutur, hubungan sosial, kedudukan partisipan, dan tujuan komunikasi dalam pembelajaran. Temuan penelitian menunjukkan bahwa penerapan strategi kesantunan berbahasa berkontribusi terhadap terciptanya komunikasi pembelajaran yang efektif sekaligus mendukung pembentukan karakter peserta didik.

PENGEMBANGAN STORYNOMICS TOURISM SEBAGAI DIFERENSIASI KOMUNIKASI PEMASARAN

This study aims to analyze storynomics tourism as a differentiation strategy in marketing communication through the tourism profile video of Marriott Hotel featured on the Instagram account @lampungmarriottresort. The research employed a qualitative descriptive approach with a case study design focusing on tourism communication based on the storynomics tourism concept. Data were collected through in-depth interviews with the account manager, direct observation, and documentation of internal communication materials, including digital messages and work records. The data were analyzed thematically to identify patterns, techniques, and challenges in building audience engagement. The findings indicate that the implementation of storynomics tourism in the Marriott Lampung tourism profile video is effective as a marketing communication differentiation strategy by strengthening destination image, enhancing the attractiveness of digital promotion, and creating emotional engagement with audiences through visual narratives highlighting natural beauty, local culture, tourism experiences, and the hotel's identity. Its development strategy integrates storytelling, local cultural values, tourism experiences, and digital technology in producing authentic and value-added promotional content. Furthermore, a storynomics tourism message design that combines emotional elements, destination identity, and tourism experiences within a well-structured.   Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis storynomics tourism sebagai strategi diferensiasi dalam komunikasi pemasaran melalui video profil pariwisata Marriott Hotel yang ditampilkan pada akun Instagram @lampungmarriottresort. Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan desain studi kasus yang berfokus pada komunikasi pariwisata berbasis konsep storynomics tourism. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan pengelola akun, observasi langsung, serta dokumentasi terhadap berbagai materi komunikasi internal, termasuk pesan-pesan digital dan catatan kerja. Data dianalisis secara tematik untuk mengidentifikasi pola, teknik, serta tantangan dalam membangun keterlibatan audiens. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi storynomics tourism dalam video profil pariwisata Marriott Lampung efektif sebagai strategi diferensiasi komunikasi pemasaran karena mampu memperkuat citra destinasi, meningkatkan daya tarik promosi digital, serta menciptakan keterikatan emosional dengan audiens melalui narasi visual yang menampilkan keindahan alam, budaya lokal, pengalaman wisata, dan identitas hotel. Strategi pengembangannya mengintegrasikan storytelling, nilai-nilai budaya lokal, pengalaman wisata, serta teknologi digital dalam menghasilkan konten promosi yang autentik dan bernilai tambah. Selain itu, desain pesan storynomics tourism yang memadukan unsur emosional, identitas destinasi, dan pengalaman wisata dalam narasi visual yang terstruktur.

DEKONSTRUKSI MAKNA KESUKSESAN DAN KARIER DALAM LAGU “BERDANSALAH, KARIR INI TAK ADA ARTINYA”: ANALISIS WACANA KRITIS

This study aims to examine the construction of success and career meanings in Hindia's song Berdansalah, Karir Ini Tak Ada Artinya using Norman Fairclough's Critical Discourse Analysis framework. The study employed a qualitative approach with data consisting of song lyrics and audience comments on the official YouTube video. The analysis was conducted through Fairclough's three dimensions: textual analysis, discursive practice, and social practice. The findings reveal that at the textual level, the song critiques neoliberal work culture through diction, metaphors, modality, and repetition that emphasize personal freedom, work-life balance, and psychological well-being. At the level of discursive practice, audiences actively interpret the song as a reflection of work-related experiences, career pressures, and the search for life meaning, resulting in ongoing negotiations of meaning within digital spaces. At the social practice level, the song reflects young people's concerns regarding productivity culture, economically oriented standards of success, and excessive work demands. The study concludes that the song functions not merely as popular music but also as a medium of social criticism that deconstructs dominant narratives of success and offers alternative interpretations centered on individual quality of life.   Penelitian ini bertujuan mengungkap konstruksi makna kesuksesan dan karier dalam lirik lagu Berdansalah, Karir Ini Tak Ada Artinya karya Hindia melalui pendekatan Analisis Wacana Kritis (AWK) model Norman Fairclough. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan data berupa lirik lagu dan komentar audiens pada video resmi lagu di YouTube. Analisis dilakukan melalui tiga dimensi Fairclough, yaitu analisis teks, praktik diskursif, dan praktik sosial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada dimensi teks, lagu membangun kritik terhadap budaya kerja neoliberal melalui penggunaan diksi, metafora, modalitas, dan repetisi yang menekankan pentingnya kebebasan personal, keseimbangan hidup, dan kesejahteraan psikologis. Pada dimensi praktik diskursif, audiens secara aktif menafsirkan lagu sebagai refleksi pengalaman kerja, tekanan karier, serta pencarian makna hidup, sehingga makna lagu terus dinegosiasikan dalam ruang digital. Pada dimensi praktik sosial, lagu merefleksikan keresahan generasi muda terhadap budaya produktivitas, standar kesuksesan yang berorientasi pada pencapaian ekonomi, dan tuntutan kerja yang berlebihan. Temuan penelitian menunjukkan bahwa lagu Hindia berfungsi tidak hanya sebagai karya musik populer, tetapi juga sebagai medium kritik sosial yang mendekonstruksi narasi kesuksesan dominan dan menawarkan pemaknaan alternatif yang lebih berpusat pada kualitas hidup individu.

EUFEMISME PADA INSTAGRAM TRIBUN LAMPUNG DAN IMPLIKASINYA DALAM PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA DI SMA

This study aims to describe the forms of euphemism used in news texts on the Tribun Lampung Instagram account and explain their implications for Indonesian language learning in high school. This study uses a qualitative approach with a descriptive method. The source of research data is news uploaded on the Tribun Lampung Instagram account. Data collection techniques are carried out through documentation and note-taking techniques, while data analysis uses referential equivalent methods and language form classification techniques. The results of the study show that there are euphemism data consisting of initial forms, acronym forms, the use of loan words, the use of foreign terms, metaphors, and periphrasis forms. The use of euphemisms in the text serves to refine meaning, maintain politeness of language, and convey information more ethically and contextually. The results of this study have implications for Indonesian language learning, in high school, especially in the material for class XI news texts in the Merdeka Curriculum. Implications are carried out through the stages of learning component analysis, mapping of teaching materials, and implications of research results on learning news texts. The use of euphemisms found in news on the Tribun Lampung Instagram account can serve as a concrete example in learning to demonstrate how to use language politely and non-offensively when conveying news text material.   Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk-bentuk eufemisme yang digunakan dalam teks berita pada akun Instagram Tribun Lampung serta menjelaskan implikasinya terhadap pembelajaran Bahasa Indonesia di SMA. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Sumber data penelitian adalah berita yang diunggah pada akun Instagram Tribun Lampung. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui teknik dokumentasi dan teknik catat, sedangkan analisis data menggunakan metode padan referensial dan teknik klasifikasi bentuk bahasa. Hasil penelitian menunjukkan terdapat data eufemisme yang terdiri dari bentuk inisialen, bentuk akronim, penggunaan kata serapan,  penggunaan istilah asing, bentuk metafora, dan bentuk perifrasis. Hasil penelitian ini memiliki implikasi terhadap pembelajaran Bahasa Indonesia di SMA, khususnya pada materi teks berita kelas XI dalam Kurikulum Merdeka. Implikasi dilakukan melalui tahap analisis komponen pembelajaran, pemetaan materi ajar, dan implikasi hasil penelitian pada pembelajaran teks berita. Penggunaan eufemisme dalam berita pada akun Instagram Tribun Lampung dapat dijadikan contoh nyata dalam pembelajaran untuk menunjukkan bagaimana bahasa digunakan secara santun dan tidak menyinggung saat meyampaikan materi teks berita.

REDEFINING SCHOOL MANAGEMENT: PERAN HYBRID SYSTEM DALAM MENCIPTAKAN ORGANISASI PENDIDIKAN ADAPTIF

This article aims to examine the role of the hybrid system in creating adaptive educational organizations through the redefinition of school management. This study employs a literature review method by analyzing various references related to educational management, digital transformation, adaptive organizations, and the implementation of hybrid systems in educational institutions. The findings indicate that the hybrid system plays a strategic role in improving the flexibility of school organizations, accelerating information flow, enhancing collaboration among stakeholders, and supporting data-driven decision-making. Furthermore, the implementation of a hybrid system can strengthen the culture of innovation and improve schools’ readiness to face the dynamic changes in the educational environment. However, the implementation of the hybrid system still faces several challenges, including limited technological infrastructure, low digital competence among educators, and resistance to organizational change. Therefore, strategies for strengthening human resource capacity, policy support, and developing an organizational culture that is open to innovation are necessary so that the hybrid system can be optimally implemented in school management.   Artikel ini bertujuan untuk mengkaji peran hybrid system dalam menciptakan organisasi pendidikan yang adaptif melalui redefinisi manajemen sekolah. Penelitian ini menggunakan metode studi pustaka dengan menganalisis berbagai literatur terkait manajemen pendidikan, transformasi digital, organisasi adaptif, dan implementasi hybrid system dalam lembaga pendidikan. Hasil kajian menunjukkan bahwa hybrid system memiliki peran strategis dalam meningkatkan fleksibilitas organisasi sekolah, mempercepat arus informasi, meningkatkan kolaborasi antarstakeholder, serta mendukung pengambilan keputusan berbasis data. Selain itu, penerapan hybrid system juga mampu memperkuat budaya inovasi dan kesiapan sekolah dalam menghadapi perubahan lingkungan pendidikan yang dinamis. Namun demikian, implementasi hybrid system masih menghadapi tantangan berupa keterbatasan infrastruktur teknologi, rendahnya kompetensi digital tenaga pendidik, dan resistensi terhadap perubahan organisasi. Oleh karena itu, diperlukan strategi penguatan kapasitas sumber daya manusia, dukungan kebijakan, serta pengembangan budaya organisasi yang terbuka terhadap inovasi agar hybrid system dapat diterapkan secara optimal dalam manajemen sekolah.

PERBANDINGAN KRISIS IKLIM DALAM NOVELET SUMUR KARYA EKA KURNIAWAN DENGAN NOVEL WEATHERING WITH YOU KARYA SHINKAI MAKOTO SEBAGAI BAHAN AJAR SASTRA DI SMA KELAS XII

This research aims to describe the representation of the climate crisis in both works and analyze its relevance as a literature teaching material in high school class XII. This research uses a comparative descriptive method with a qualitative approach. The source of research data is in the form of the novel Sumur by Eka Kurniawan and the novel Weathering With You by Shinkai Makoto. Data collection techniques are carried out through literature studies, reading techniques, and note-taking techniques. Data analysis is carried out by identifying, classifying, comparing, interpreting, and describing data according to the research focus. The research results show that both works both represent the climate crisis as an environmental problem that has a wide impact on human life. In the Well, the climate crisis is represented through prolonged drought, reduced rainfall, water crisis, declining agricultural yields, food crisis, and population migration. Meanwhile, in Weathering With You, the climate crisis is represented through continuous extreme rains, floods, erratic seasonal changes, disrupted social activities, and rising food prices due to declining agricultural yields. In addition, the results of the analysis show that both works have a strong relevance as literature teaching materials in high school class XII because they are in accordance with the learning achievements of the Merdeka Curriculum.   Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan representasi perbandingan krisis iklim dalam novelet Sumur karya Eka Kurniawan dan novel Weathering With You karya Shinkai Makoto serta menganalisis relevansinya sebagai bahan ajar sastra di SMA kelas XII. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif komparatif dengan pendekatan kualitatif. Data penelitian berupa kutipan-kutipan yang merepresentasikan perbandingan krisis iklim dalam kedua karya. Adapun teknik pengumpulan data dilakukan melalui studi pustaka, teknik baca, dan teknik catat. Analisis data dilakukan dengan cara mengidentifikasi, mengklasifikasi, membandingkan, menginterpretasikan, dan mendeskripsikan data sesuai fokus penelitian. Temuan penelitian menunjukkan bahwa kedua karya sama-sama merepresentasikan krisis iklim sebagai permasalahan lingkungan yang berdampak luas terhadap kehidupan manusia. Dalam Sumur, krisis iklim direpresentasikan melalui kekeringan berkepanjangan, berkurangnya curah hujan, krisis air, penurunan hasil pertanian, krisis pangan, dan migrasi penduduk. Sementara itu, dalam Weathering With You, krisis iklim direpresentasikan melalui hujan ekstrem yang berlangsung terus-menerus, banjir, perubahan musim yang tidak menentu, terganggunya aktivitas sosial, serta kenaikan harga pangan akibat menurunnya hasil pertanian. Selain itu, hasil analisis menunjukkan bahwa kedua karya memiliki relevansi yang kuat sebagai bahan ajar sastra di SMA kelas XII karena sesuai dengan capaian pembelajaran Kurikulum Merdeka.

NILAI BUDAYA DALAM CERITA RAKYAT LAMPUNG DUA CERITA TANGGAMUS TEMPO DULU: BANDAR NEGERI SEMUONG DAN MANTRA TELUK SEMAKA SERTA IMPLIKASINYA DALAM PEMBELAJARAN SASTRA INDONESIA DI SMA

Folklore as part of regional literary heritage contains cultural values that reflect the worldview, norms, customs, and ways of life of the supporting community. These cultural values are passed down from generation to generation and become an important part of community life. One folklore that contains cultural values is Dua Cerita Tanggamus Tempo Dulu: Bandar Negeri Semuong dan Mantra Teluk Semaka. Therefore, this study aims to describe the cultural values contained in the Lampung folklore and their implications for the teaching of Indonesian Literature in senior high schools. This study employed a qualitative approach with a descriptive analysis method. The data sources were the Lampung folklore texts Bandar Negeri Semuong and Mantra Teluk Semaka published by the Language Office of Lampung Province. Data were collected through documentation study by reading, marking, and classifying quotations containing cultural values. The results showed that 93 data of cultural values were found, including religious, ethical, and social values. These findings indicate that Lampung folklore is relevant as teaching material in Indonesian Literature learning at senior high schools because it can support the understanding of cultural values, character building, and the enhancement of appreciation for local culture.   Cerita rakyat sebagai bagian dari khazanah sastra daerah mengandung nilai budaya yang merefleksikan pandangan hidup, norma, adat istiadat, serta sikap hidup masyarakat pendukungnya. Nilai budaya diwariskan secara turun-temurun dan menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat. Salah satu cerita rakyat yang mengandung nilai budaya adalah Dua Cerita Tanggamus Tempo Dulu: Bandar Negeri Semuong dan Mantra Teluk Semaka. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan mendeskripsikan nilai budaya yang terkandung dalam cerita rakyat Lampung tersebut serta implikasinya dalam pembelajaran Sastra Indonesia di SMA. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif analisis. Sumber data berupa teks cerita rakyat Lampung Bandar Negeri Semuong dan Mantra Teluk Semaka yang dibukukan oleh Kantor Bahasa Provinsi Lampung. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui studi dokumentasi dengan membaca, menandai, dan mengklasifikasikan kutipan yang mengandung nilai budaya. Hasil penelitian menunjukkan ditemukan 93 data nilai budaya meliputi nilai religius, etika, dan sosial. Temuan ini menunjukkan bahwa cerita rakyat Lampung relevan sebagai bahan ajar dalam pembelajaran Sastra Indonesia di SMA karena dapat mendukung pemahaman nilai budaya, pembentukan karakter, serta peningkatan apresiasi terhadap budaya lokal.

ANALISIS STILISTIKA SEMANTIK PADA LAGU “GAJAH” KARYA TULUS

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penggunaan gaya bahasa (majas) serta makna denotatif dan konotatif yang terdapat dalam lirik lagu “Gajah” karya Tulus, sekaligus menganalisis keterkaitan antara gaya bahasa dengan makna yang disampaikan. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan studi pustaka. Sumber data diperoleh dari lirik lagu “Gajah” yang dipopulerkan oleh Tulus. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dalam lagu tersebut ditemukan beberapa jenis gaya bahasa, seperti personifikasi, metafora, hiperbola, repetisi, aliterasi, dan asonansi. Makna denotatif dalam lagu menggambarkan seekor Gajah yang memiliki kelebihan dan kekurangan, sedangkan makna konotatifnya mengandung pesan tentang penerimaan diri, rasa bangga terhadap diri sendiri, kekuatan, serta motivasi dalam menghadapi tindakan bullying. Dengan demikian, gaya bahasa dan makna memiliki hubungan yang erat karena penggunaan gaya bahasa mampu memperkuat penyampaian pesan emosional dari pencipta lagu.   This study aims to describe the use of figurative language (figurative language) and the denotative and connotative meanings contained in the lyrics of the song "Gajah" by Tulus, while also analyzing the relationship between figurative language and the meaning conveyed. This study uses a qualitative descriptive method with a literature study approach. Data sources were obtained from the lyrics of the song "Gajah" popularized by Tulus. The results of this study indicate that the song contains several types of figurative language, such as personification, metaphor, hyperbole, repetition, alliteration, and assonance. The denotative meaning in the song depicts an elephant with advantages and disadvantages, while the connotative meaning conveys messages about self-acceptance, pride in oneself, strength, and motivation in facing bullying. Thus, figurative language and meaning are closely related because the use of figurative language can strengthen the emotional message conveyed by the songwriter.

ANALISIS FUNGSI KALIMAT PASIF BAHASA PERANCIS BERDASARKAN TEORI TIPOLOGI PADA TUTURAN PIDATO EMMANUEL MACRON

This study aims to examine the functions of passive voice usage in Emmanuel Macron’s utterances across ten presidential speeches. This research employs a descriptive qualitative approach using content analysis, drawing on Biihler’s language function theory, which includes expressive, informative, and vocative functions. The results reveal that out of a total of 157 passive sentence data identified, 153 serve an informative function, 3 serve an expressive function, and 1 serves a vocative function. The dominance of the informative function indicates that passive constructions are primarily used by Emmanuel Macron to convey factual and objective information to the audience. Structurally, the most dominant form is “être + past participle,” accompanied by variations such as pronominal verbs with “se” and passive constructions without an explicit agent (les passifs incomplets). It is known that some of the passive sentences without an agent spoken by Emmanuel Macron were intended to emphasize the facts, information, or events being conveyed, making them seem more objective, without the need to specify who performed the action. Overall, this study confirms that passive sentences in presidential speeches play a significant role in constructing objectivity, neutrality, and credibility of information through the predominance of the informative function.   Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji fungsi penggunaan kalimat pasif dalam tuturan Emmanuel Macron pada 10 pidato kepresidenannya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode analisis isi, serta mengacu pada teori fungsi bahasa Biihler yang meliputi fungsi ekspresif, informatif, dan vokatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari total 157 data kalimat pasif yang ditemukan, sebanyak 153 data berfungsi informatif, 3 data berfungsi ekspresif, dan 1 data berfungsi vokatif. Dominasi fungsi informatif menunjukkan bahwa kalimat pasif digunakan oleh Emmanuel Macron dalam pidatonya untuk menyampaikan informasi faktual dan objektif kepada audiens. Secara struktural, bentuk yang paling dominan adalah “être + participe passé”, disertai variasi penggunaan verba pronominal “se” dan kalimat pasif tanpa pelengkap agen (les passifs incomplets). Diketahui, beberapa kalimat pasif tanpa pelengkap agen yang dituturkan oleh Emmanuel Macron dimaksudkan untuk lebih menyoroti fakta, informasi atau kejadian yang disampaikan agar lebih terkesan objektif, tanpa perlu menyebutkan siapa pelaku tindakannya. Secara keseluruhan, penelitian ini menegaskan temuan bahwa kalimat pasif dalam pidato kepresidenan berperan penting dalam membangun kesan objektivitas, netralitas, dan kredibilitas informasi dengan menjalankan fungsi tipologi informatif.

Indexer Sites