Lexicons related to the naming of places and traditional foods in Lampung culture are the main objects of study in this research. Data is sourced from interviews and the examination of manuscripts related to the history and culture of Lampung. This research aims to analyze the origins of the names of settlements and traditional foods in Lampung from a morphological perspective. The research is conducted using a qualitative descriptive method by examining the structure, form, and word formation processes in the names of places and traditional foods in Tanjung Harapan Village, Kotabumi District, North Lampung. Data is collected through document studies, observation, and linguistic analysis. Data are analyzed using morphological studies and analysis of word form and meaning. The results of the research show that the majority of place names and traditional foods in Lampung are monomorphemic root words consisting of a single free morpheme, for example: desa (village), tanjung, harapan (hope), gang (alley), bangau (egret), tugu (monument), payan, mas, way, rarem, lembah (valley), bambu (bamboo), kuning (yellow), as well as food names such as seruit and pindang. The dominant morphological processes are affixation, compounding, and reduplication in some words. Phoneme elision phenomena are also found in the affixation process of verbs, such as in menyeruit.
Leksikon yang berkaitan dengan penamaan tempat dan makanan khas budaya Lampung menjadi objek kajian utama di dalam penelitian ini. Data bersumber dari wawancara dan telaah naskah yang berkaitan dengan sejarah dan budaya Lampung. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis asal-usul nama tempat tinggal dan makanan khas di Lampung dari perspektif morfologi. Penelitian dilakukan secara deskriptif kualitatif dengan mengkaji struktur, bentuk, dan proses pembentukan kata pada nama-nama tempat dan makanan khas di Desa Tanjung Harapan, Kabupaten Kotabumi, Lampung Utara. Data dikumpulkan melalui studi dokumen, observasi, dan analisis linguistik. Data dianalisis menggunakan kajian morfologis, analisis terhadap bentuk dan makna kata. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar nama tempat dan makanan khas Lampung merupakan kata dasar monomorfemis yang terdiri dari satu morfem bebas, misalnya desa, tanjung, harapan, gang, bangau, tugu, payan, mas, way, rarem, lembah, bambu, kuning, serta nama makanan seperti seruit dan pindang. Proses morfologis yang dominan adalah afiksasi, komposisi atau pemajemukan, serta reduplikasi pada beberapa kata. Fenomena peluluhan fonem juga ditemukan pada proses afiksasi kata kerja, seperti pada menyeruit.